Di era media sosial saat ini, remaja tidak hanya belajar dari guru, orang tua, atau buku pelajaran. Banyak dari mereka juga belajar dari orang-orang yang mereka ikuti di media sosial, yang dikenal sebagai influencer. Influencer memiliki ribuan bahkan jutaan pengikut dan sering membagikan berbagai hal tentang kehidupan mereka, mulai dari gaya hidup, cara berpakaian, hingga pandangan mereka terhadap suatu isu. Tidak heran jika kehadiran influencer dapat memengaruhi cara berpikir dan perilaku remaja.
Salah satu alasan mengapa influencer begitu berpengaruh bagi remaja adalah karena mereka terlihat dekat dan relatable. Berbeda dengan selebritas di televisi yang sering terasa jauh dari kehidupan sehari-hari, influencer biasanya muncul dari kalangan biasa dan berbagi cerita yang terasa nyata. Remaja merasa seolah-olah mereka mengenal influencer tersebut secara pribadi. Akibatnya, banyak remaja yang menjadikan influencer sebagai panutan dalam menentukan gaya berpakaian, hobi, bahkan cara memandang kesuksesan.
Contoh influencer yang sangat berpengaruh bagi remaja Indonesia adalah Jerome Polin. Melalui kanal YouTube dan media sosialnya, Jerome sering membagikan konten tentang matematika, kehidupan mahasiswa di Jepang, serta semangat belajar. Banyak pelajar SMA yang merasa terinspirasi oleh cara Jerome menyampaikan pelajaran dengan santai dan menyenangkan. Ia menunjukkan bahwa belajar tidak selalu harus membosankan, dan bahwa pendidikan dapat membuka banyak peluang. Influencer seperti Jerome Polin dapat memberikan dampak positif karena mendorong remaja untuk lebih semangat belajar dan berani bermimpi besar.
Namun, pengaruh influencer tidak selalu membawa dampak positif. Di sisi lain, banyak influencer yang menampilkan gaya hidup mewah, tubuh ideal, atau kehidupan yang tampak sempurna. Tanpa disadari, hal ini dapat membuat sebagian remaja merasa tidak cukup baik jika dibandingkan dengan apa yang mereka lihat di media sosial. Misalnya, ketika influencer mempromosikan berbagai produk atau tren tertentu, remaja bisa merasa harus mengikuti tren tersebut agar dianggap keren atau tidak ketinggalan zaman. Hal ini berpotensi menumbuhkan gaya hidup konsumtif dan tekanan sosial di kalangan remaja.
Selain itu, tidak semua informasi yang dibagikan influencer selalu akurat atau bertanggung jawab. Karena influencer bukan selalu ahli dalam bidang tertentu, beberapa konten bisa saja menyesatkan jika ditelan mentah-mentah oleh pengikutnya. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menyaring informasi yang mereka lihat di media sosial.
Pada akhirnya, influencer sebenarnya bisa menjadi sumber inspirasi sekaligus tantangan bagi remaja. Pengaruh mereka bisa membawa dampak positif jika digunakan sebagai motivasi untuk belajar, berkarya, dan berkembang. Namun, pengaruh tersebut juga bisa menjadi tekanan jika remaja terlalu membandingkan diri dengan kehidupan yang mereka lihat di media sosial.
Karena itu, remaja perlu belajar untuk tidak hanya menjadi penonton pasif di dunia digital. Mereka harus mampu memilih influencer yang memberikan nilai positif dan tetap menyadari bahwa apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan nyata. Dengan sikap yang lebih kritis dan bijak, remaja dapat menjadikan influencer sebagai sumber inspirasi, bukan sebagai standar yang harus selalu mereka ikuti.
Penulis: Deti Prasetyaningrum, S.Pd
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































