Derasnya arus digitalisasi dan kompetisi pendidikan, ada satu fakta yang sering luput dari perhatian publik: pendidikan agama dasar bagi anak-anak. Di tengah ramainya perkembangan kota Palembang, ada sebuah ruang kecil yang pelan-pelan tumbuh menjadi pusat pendidikan agama bagi anak-anak. Namanya Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) Hj. Saudah, sebuah lembaga pendidikan nonformal yang berdiri di kawasan Mushola Al-Ikhlas, Bukit Baru. Tidak besar, tidak mewah, tetapi justru di sanalah nilai kebermaknaan itu terasa: sederhana, dekat, dan sangat dibutuhkan masyarakat.
Saat sebagian orang membayangkan pendidikan ideal sebagai ruang kelas ber-AC, LCD projector, atau kurikulum modern, TPQ seperti Hj. Saudah hadir dengan wajah yang jauh berbeda. Ruang belajarnya sederhana, beralaskan ambal, dengan beberapa meja lipat, kipas angin, serta buku Iqra’ . Namun, justru dari tempat yang serba terbatas inilah, pondasi moral dan spiritual anak-anak dibentuk dengan penuh kesabaran.
Ketika Kesederhanaan Justru Lebih Mengajar
Dalam observasi saya, yang paling mencolok bukan keterbatasan fasilitasnya melainkan kekuatan manusia yang menghidupkannya. Para ustazah mengajar bukan karena gaji besar, tetapi karena ingin menjaga keberlanjutan pendidikan agama di lingkungan mereka. Mereka mengajarkan huruf demi huruf, membetulkan makhraj satu per satu, sambil tetap mengatur anak-anak yang kadang riuh, kadang sulit fokus.

Namun inilah yang sering tidak kita sadari: kesederhanaan membuat anak-anak belajar dengan cara yang lebih manusiawi. Mereka disapa, dituntun, dibimbing. Relasi emosional terbangun dengan kuat. Tidak ada tekanan akademik, tidak ada ranking, tidak ada kompetisi. Hanya ada niat memperbaiki bacaan Al-Qur’an, memperkuat akhlak, dan menanamkan adab.
Ketika banyak sekolah berlomba-lomba menciptakan “lingkungan belajar ideal” berbasis teknologi, TPQ kecil ini membuktikan bahwa lingkungan belajar terbaik adalah lingkungan yang hidup yang penuh interaksi, kedekatan, dan ketulusan.
Tantangan yang Tidak Pernah Dilihat Media
Sejujurnya, TPQ Hj. Saudah menghadapi tantangan yang sering tidak muncul di laporan resmi pemerintah. Bukan soal dana karena donatur lokal dan iuran sukarela sudah cukup menutup kebutuhan dasar melainkan tantangan mendidik manusia kecil yang sedang tumbuh.
Anak-anak yang sulit diatur, minat belajar yang naik turun, dan kehadiran yang sering terpengaruh cuaca adalah dinamika sehari-hari. Hal-hal kecil seperti ini jarang masuk pemberitaan, tetapi menjadi beban emosional bagi para pengajar.
Mengajar Al-Qur’an bukan sekadar mengajarkan bacaan. Ia adalah proses membentuk karakter. Dan proses itu tidak pernah mudah.
Potret Mini Peran Pendidikan Nonformal
Dalam berbagai kajian, pendidikan nonformal sering digambarkan sebagai pelengkap pendidikan formal. Namun di banyak lingkungan Indonesia, pendidikan nonformal seperti TPQ justru menjadi penyangga utama pendidikan agama. Ia bersiifat seperti fleksibel, dekat dengan masyarakat, terjangkau, dan mampu menjawab kebutuhan riil warga.
TPQ Hj. Saudah adalah contoh nyata bahwa pendidikan agama yang kuat tidak harus menunggu anggaran negara yang besar, melainkan dapat tumbuh dari ruang kecil yang disediakan untuk generasi berikutnya.
TPQ Hj. Saudah mungkin kecil, mungkin sederhana. Namun ia mengajarkan satu hal besar: pendidikan tidak pernah tentang seberapa mewah tempatnya, tetapi seberapa besar maknanya bagi manusia yang belajar di dalamnya.
Dan sampai hari ini, ratusan TPQ di Indonesia termasuk TPQ Hj. Saudah masih membuktikan bahwa pendidikan terbaik adalah pendidikan yang lahir dari kepedulian, bukan dari kemewahan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”


















































![aisah nur Safitri adalah gadis cilik SMP yang berprestasi dalam bidang seni tari 50 jakarta, Gadis cilik Aisah Nur Safitri, siswa [Nama Sekolah], berhasil meraih Juara Harapan 1 dalam Kompetisi Tari Tingkat Kota yang diadakan di bidang seni tari. Kompetisi ini diikuti oleh siswa-siswa dari berbagai sekolah di kota. Dengan penampilan yang memukau, Aisah Nur Safitri berhasil memikat hati juri dan penonton. Ia menampilkan tarian yang sangat ekspresif dan penuh energi, sehingga membuatnya menjadi salah satu peserta yang paling menonjol dalam kompetisi ini. " Saya sangat senang dan bangga bisa menjadi Juara Harapan 1 dalam kompetisi ini," kata Aisah Nur Safitri. "Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada guru-guru dan keluarga saya yang telah mendukung saya sepanjang proses latihan." Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi siswa-siswa lain untuk terus mengembangkan bakat mereka dan mencapai prestasi yang lebih tinggi](https://siaran-berita.com/wp-content/uploads/2026/02/IMG-20251109-WA0213-120x86.jpg)
























