Surabaya—Antusiasme masyarakat terhadap seni tradisional tampak jelas dalam pementasan Wayang Orang “Duta Pancawati” yang digelar di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Sabtu (22/11/2025). Salah satunya datang dari Nadia, perempuan muda yang hadir bersama teman-temannya untuk pertama kali menyaksikan pertunjukan wayang orang secara langsung.
Nadia mengaku tertarik datang karena merasa penasaran dengan bentuk pementasan tradisional yang selama ini hanya ia dengar dari cerita. “Saya belum pernah menonton pertunjukan seperti ini. Jadi ingin tahu bagaimana wayang orang kalau ditampilkan live,” ujarnya.
Informasi mengenai acara tersebut diperolehnya melalui unggahan Instagram @cak_durasim. Sebagai warga Surabaya, Nadia menyebut pementasan seni tradisional kini semakin jarang ditemui, sehingga kesempatan menonton langsung menjadi pengalaman yang ia nantikan. “Saya merasa seni seperti ini penting untuk terus diapresiasi agar tidak hilang,” katanya.
Selama pertunjukan berlangsung, Nadia mengaku mendapatkan pengalaman yang memuaskan. Menurutnya, para pemain tampil total dan berhasil menghidupkan alur cerita dengan baik. “Saya sangat puas. Penampilannya keren, para pemainnya juga bermain sangat mulus. Ini di luar ekspektasi saya,” tuturnya.
Meski demikian, Nadia menyampaikan adanya sejumlah catatan terkait pelaksanaan acara. Ia dan ratusan penonton lain sempat terhimpit di pintu masuk akibat tidak adanya sistem tiket daring. Kondisi tersebut menyebabkan antrean mengular hingga depan Siola. “Seharusnya ada ticketing yang jelas. Kalau ada tiket online pasti lebih tertib,” ujar Nadia.
Ia menilai panitia perlu memperhatikan kapasitas gedung dan mengatur jalur masuk dengan lebih terstruktur agar tidak menimbulkan kericuhan kecil seperti yang terjadi malam itu. Menurutnya, banyak penonton tidak keberatan membayar tiket apabila sistemnya tertata dan acara berlangsung nyaman. “Penampilannya sudah bagus, tinggal sistemnya diperbaiki,” tambahnya.
Kendati demikian, pengalaman tersebut tidak mengurangi apresiasi Nadia terhadap kualitas pertunjukan. Ia berharap pementasan wayang orang maupun seni tradisional lainnya dapat digelar secara rutin di Surabaya agar lebih banyak generasi muda mengenal dan menikmati kebudayaan lokal. “Kalau diadakan setiap tahun, pasti semakin banyak anak muda yang tertarik. Ini bagian dari identitas budaya kita,” ujarnya.
Bagi Nadia, malam itu menjadi bukti bahwa seni tradisi tetap memiliki ruang di tengah gempuran hiburan modern. Ia berharap panitia dan pihak penyelenggara terus memberikan ruang bagi seni tradisional agar tetap hidup dan dekat dengan masyarakat.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































