Di era yang serba cepat ini, istilah “mager” atau malas gerak semakin populer dan menjadi bagian dari keseharian remaja. Mager bukan lagi sekadar keluhan sementara, tetapi berubah menjadi gaya hidup baru yang memengaruhi cara remaja menjalani rutinitas. Banyak remaja lebih memilih menghabiskan waktu di kamar, bermain ponsel, menonton film, atau sekadar tidur. Meskipun terlihat sepele, fenomena ini membawa dampak signifikan bagi produktivitas dan kesejahteraan mereka.
mager di kalangan anak muda dan erat kaitannya dengan fenomena gaya hidup sedentari. Menurut Guthold et al. (2020), sekitar 80% remaja di dunia tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik minimal setiap harinya. Di Indonesia, Riskesdas (2018) melaporkan bahwa proporsi masyarakat dengan aktivitas fisik kurang meningkat dibandingkan tahun 2013, dan data terbaru Survei Kesehatan Indonesia (2023) menunjukkan tren serupa pada kelompok remaja.
Perilaku sedentari menyebabkan penurunan pengeluaran energi tubuh. Bull et al. (2020) menegaskan bahwa kurang aktivitas fisik dan tingginya waktu duduk berhubungan dengan peningkatan risiko obesitas dan penyakit metabolik sejak usia muda. Studi Chen et al. (2025) menunjukkan bahwa kombinasi tidur yang singkat, perilaku sedentari, dan rendahnya aktivitas fisik secara signifikan meningkatkan risiko kelebihan berat badan pada pelajar. Fenomena mager berawal dari pola hidup yang makin dimanjakan teknologi. Segala aktivitas kini dapat dilakukan hanya dengan satu sentuhan layar, mulai dari belajar, berbelanja, hingga bersosialisasi. Kemudahan ini tanpa disadari menciptakan zona nyaman yang sulit ditinggalkan. Akibatnya, motivasi untuk melakukan aktivitas fisik dan sosial menurun. Remaja yang terbiasa mager cenderung menunda pekerjaan, mengabaikan tanggung jawab, dan sulit mengatur waktu secara efektif.
Dampak mager terhadap produktivitas remaja tidak bisa dianggap ringan. Kebiasaan menunda-nunda membuat tugas sekolah menumpuk, kualitas belajar menurun, dan prestasi akademik terancam. Bahkan dalam jangka panjang, mager dapat menghambat keterampilan penting seperti disiplin, manajemen waktu, dan kemampuan bekerja di bawah tekanan. Jika dibiarkan, remaja akan kesulitan beradaptasi dengan tuntutan dunia nyata yang membutuhkan kedisiplinan dan kerja keras.
Selain memengaruhi prestasi, mager juga berdampak pada kesehatan mental dan fisik. Kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan tubuh terasa lemas dan mudah lelah, sementara kurangnya interaksi sosial dapat memicu rasa kesepian dan kecemasan. Ironisnya, mager sering membuat remaja merasa bersalah karena tidak produktif, tetapi tetap kesulitan memulai aktivitas. Lingkaran ini dapat memperburuk kondisi emosional mereka tanpa disadari.
Untuk mengatasi fenomena mager, diperlukan kesadaran diri dan dukungan lingkungan. Remaja perlu belajar mengatur jadwal, menetapkan tujuan harian, serta mulai mengurangi ketergantungan pada gawai. Orang tua dan guru juga dapat membantu dengan memberikan motivasi dan menciptakan lingkungan yang lebih aktif. Mager memang menjadi tren yang wajar, tetapi jika dikelola dengan baik, remaja tetap dapat menjadi individu yang produktif, sehat, dan berdaya saing di masa depan.
menurut saya sebagai mahasiswi PPKn, seharusnya tidak membiarkan sikap mager atau malas gerak mendominasi hidup, karena ini bertentangan dengan esensi pendidikan kewarganegaraan yang menuntut disiplin dan kontribusi aktif. Ini bukan soal hukum atau paksaan, tapi soal membangun karakter yang kuat buat diri sendiri dan orang lain. Malas gerak bukan hanya merugikan diri sendiri, tapi juga melemahkan nilai-nilai sosial yang diajarkan. Dengan motivasi dan langkah konkret, siapa pun bisa mengubahnya.
Fenomena mager yang banyak dialami remaja saat ini ternyata bukan hanya soal malas bergerak, tetapi sudah menjadi kebiasaan yang mampu menurunkan produktivitas dan semangat untuk berkembang. Jika dibiarkan, rasa enggan untuk mencoba hal baru atau menyelesaikan tanggung jawab bisa membuat remaja kesulitan mengatur waktu dan memaksimalkan potensi diri. Meski begitu, mager tetap bisa diatasi selama ada niat, kesadaran diri, serta dukungan dari lingkungan sekitar. Dengan membiasakan hal-hal kecil yang positif dan menggunakan teknologi secara lebih bijak, remaja sebenarnya bisa kembali membangun motivasi dan menjadi pribadi yang lebih aktif dan produktif. Fenomena ini mengingatkan saya bahwa perubahan sederhana dalam kebiasaan sehari-hari bisa membawa dampak besar bagi masa depan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































