Pernah nggak sih kamu merasa di zaman yang serba digital ini, hidup kita seperti tidak memiliki tombol ‘pause’. Ponsel selalu aktif, notifikasi datang tanpa henti, dan tuntutan untuk selalu responsif seakan menjadi kewajiban baru. Bagi generasi muda, kondisi ini menciptakan tekanan yang tidak terlihat, tetapi terus menumpuk hingga memicu kelelahan mental atau yang dikenal sebagai burnout.
Burnout bukan sekadar rasa capek biasa yang bisa hilang setelah tidur semalaman. Kondisi ini ditandai dengan hilangnya semangat, sulit berkonsentrasi, emosi mudah meledak, serta perasaan tidak pernah cukup meskipun sudah bekerja keras. Ironisnya, media sosial yang awalnya hadir sebagai hiburan, kini justru sering memperparah keadaan. Melihat pencapaian orang lain, gaya hidup “sempurna”, dan standar kesuksesan yang tidak realistis membuat banyak anak muda merasa tertinggal dan tidak berguna. Menurut Tsabita et al. (2023), burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional yang muncul akibat tekanan berlebihan dalam jangka waktu lama.
Jika dibiarkan, burnout dapat berdampak pada kesehatan fisik, performa akademik, hingga hubungan sosial. Karena itu, penting memahami penyebab dan cara mengatasinya.
Salah satu penyebab utama burnout pada remaja dan mahasiswa adalah fenomena toxic productivity, yaitu dorongan untuk selalu produktif secara berlebihan tanpa memperhatikan batas kemampuan diri, waktu istirahat, dan kesehatan mental. Fenomena ini banyak dipengaruhi oleh FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut tertinggal dari pencapaian orang lain. Media sosial sering menampilkan berbagai prestasi dan kesuksesan, sehingga remaja merasa harus selalu aktif, mengikuti banyak kegiatan, dan mengerjakan berbagai tugas dalam waktu bersamaan. Akibatnya, mereka sering mengorbankan waktu tidur dan istirahat hanya demi terlihat produktif.
Lalu, Bagaimana cara mengatasinya agar kita bisa tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan mental?
Salah satu solusinya adalah dengan menerapkan manajemen diri yang tepat, yaitu dengan menentukan prioritas yang jelas agar energi dan waktu tidak habis untuk hal yang kurang penting. Generasi muda juga perlu mengurangi ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri, karena tekanan berlebih sering muncul dari standar personal yang tidak realistis. Selain itu, memberi apresiasi pada diri sendiri atas pencapaian sekecil apa pun penting untuk menjaga motivasi dan mencegah kelelahan mental. Di era yang penuh tuntutan akademik, sosial, dan digital, langkah-langkah sederhana seperti istirahat cukup, membuat batasan aktivitas, serta mencari dukungan dari lingkungan juga sangat membantu dalam memulihkan keseimbangan emosional dan menjaga produktivitas tetap stabil.
Mengenali burnout sejak dini adalah langkah penting agar generasi muda tidak terus terjebak dalam tekanan yang melelahkan. Di tengah derasnya tuntutan digital, menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental harus menjadi prioritas. Dengan memahami batas diri dan memberi ruang untuk beristirahat, kita dapat tetap berkembang tanpa kehilangan kendali atas diri sendiri.
Referensi :
Septiani, Y., & Triariani, M. (2022). Pengaruh Burnout Terhadap Produktivitas Mahasiswa PGSD Universitas Kuningan. Jurnal Kiprah Pendidikan, 1(3), 161-167.
Tsabita, A., Febriyanti, F., Komariah, S., & Wahyuni, S. (2023). Tren Toxic Productivity Sebagai Gejala Terjadinya Burnout Syndrome Terhadap Prestasi Akademik Pada Remaja Rentang Usia 18-23 Tahun Di Kota Bandung. SOSMANIORA: Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 2(4), 495-501.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































