Rokok itu sebenarnya adalah gulungan kecil tembakau yang dibungkus pakai kertas tipis, lalu bagian ujungnya dibakar dan dihisap dari ujung yang lain.Singkatnya, banyak orang merokok karena mereka rasa bisa dapat ketenangan, mengurangi stres, atau cuman sekadar nemani kalo kumpul sama kawan. Tapi, di balik itu semua, rokok mengandung banyak zat yang berbahaya bagi kesehatan tubuh.
Di setiap batang rokok terdapat nikotin, yang merupakan zat yang dapat menyebabkan ketergantungan. Awalnya mungkin cuma coba-coba, tetapi seiring waktu bisa berubah menjadi kebiasaan. Nikotin memberi rasa tenang pada otak untuk sementara, namun setelah efeknya hilang, tubuh akan ingin lebih. Itu sebabnya banyak orang kesulitan untuk berhenti merokok, meskipun mereka sudah tau dampak buruknya.
Selain nikotin, rokok juga mengandung ribuan bahan kimia lainnya semacam tar, karbon monoksida, dan amonia, yang jika digabungkan dapat merusak paru-paru, jantung, bahkan meningkatkan risiko kanker. Namun, karena efek buruknya tidak langsung terasa, banyak orang yang mengabaikannya.
Menurut World Health Organization (WHO), asap rokok mengandung lebih dari 7.000 zat kimia berbahaya, termasuk nikotin, tar, dan karbon monoksida. WHO melaporkan bahwa asap rokok menyebabkan penyakit jantung koroner dan kanker paru-paru pada perokok pasif, dan menyebabkan sekitar 1,6 juta kematian prematur setiap tahun. Menurut data kementrian kesehatan RI, Konsumsi rokok tinggi dikalangan remaja dan mahasiswa yang seringkali dipengaruhi oleh faktor kebutuhan emosional, sosial dan psikologis, bukan cuman kemampuan finansial.
Selain dampak kesehatan, merokok juga membebani keuangan. Misalnya, seorang mahasiswa menghabiskan Rp15.000 per hari untuk rokok, dalam sebulan bisa menghabiskan sekitar Rp450.000. Uang yang seharusnya bisa digunakan untuk kebutuhan lain seperti makan, transportasi, atau buku kuliah.Terkadang mahasiswa hanya memikirkan ketenangan mereka cari yang hanya bersifat sementara tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya,Sebenernya gapap merokok dari penghasilan sendiri, ini uang bulanan yang dikirim orang tua yang berkerja dikampung dibuat hanya demi dibakar kembali,seharusnya uang yang dikirim itu dipergunakan dengan baik dan bisa untuk keperluan yang lebih penting, bukan hanya sekedar dibakar,dihisap,dibuang gitu aja.
Alasan saya memilih judul ini dan fenomena yang masih sering saya lihat sendiri dan mungkin temen-temenyang berada diuinsu juga melihat disekitar kawasan kampus Uinsu sendiri, saya sering sekali menemukan mahasiswa yang masih merokok bebas dilingkunan kampus, pada saat dikantin ataupun dihalaman kelas tanpa memikirkan orang yang ada disekitarnya, Mungkin mereka terlalu menormalisasikan kebiasaan ini karena belum ada larangan ataupun teguran langsung dari pihak kampus khususnya diuinsu sendiri,mungkin kampus yang ada dikota medan kebanyakan juga begitu ya, sehingga kebiasaan ini sering kali dinormalisasikan dan sudah kebiasaan bagi maasiswa.
Sebenernya sih gapapa merokok itu adalah hak masing-masing jga kan tapi janganlah sampai menganggu orang lain juga, kan kasihan sama orang yang kita ga tau orang itu bisa menghirup asap dari rokok itu atau tidak bisa saja orang yang tadinya hidup sehat tetapi menjadi sakit karena dampak dari asap rokok tersebut.
Fenomena ini engga bisa juga kita salahkan secara personal mungkin mereka menjadikan kebiasaan ini, karena menganggap sebagai kebutuhan psikologis atau sosial tertentu, stres menghadapi tugas, ataupun adanya persoalan dan tekanan individu yang tengah dirasakan sehingga mereka memutuskan untuk memenuhi salah satu kebutuhan yang mereka konsumsi.
Tapi ada ga ya mahasiswa yang sadar sama naiknya harga rokok dari tahun ke tahun yang seharusnya uang yang dikasih tiap bulan dari orangtua mereka keluarkan untuk membeli rokok yang anya menghasilkan kepuasan sesat itu, tentunya sebagian mahasiswa ga menyadari akan hal itu dan akan terus membeli rokok, mungki ada juga mahasiswa yang dulunya tidak pernah merokok bahkan menyentuh rokok pun engga pernah tapi karena lingkungan pertemanan dan akhirnya tergiur untuk coba-coba akhirnya membuat kecanduan.
Terkadang ada juga lo mahasiswa yang rela ga makan tapi harus merokok walaupun uda tau uang bulanan uda habis tapi karena uda kecanduan dan menjadi kebiasaan, Yang kalo ga merokok mereka rasa ada yang kurang dan buat mulut mereka pahit dan asem.
Mungkin solusi dari fenomena ini, Yaitu dibutuhkan edukasi ataupun pemahaman lebih dalam dari pihak kampus khususnya, agar mahasiswa sadar dan tau dampak untuk individu sendiri dan bahkan kelompok yang terkena dampak dari merokok bebas disekitan kampus. Dan diperlukannya kesadaran sendiri atau inisiatif agar mahasiswa lebih sadar akan prioritas pengeluaran dan bisa hidup lebih sehat tanpa merokok.
Mahasiswa diharapkan utuk mulai atur uang bulanan yang dikirim orang tua, untuk uang jajan dan kehidupan dikost selama masa perkuliahan dengan lebih bijak, cari kegiatan positif, sampai sadar akan kesehatan. Dengan begitu, hidup dikampus akan lebih sehat dan kantong nggak bolong Cuma buat asap rokok.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”


































































