Dalam acara milad 113 Tahun Muhammadiyah yang diselenggarakan di masjid Ar Royyan Muhammadiyah Kabupaten Sidoarjo, Gus Ibnu Yusuf Bin Kholil dari Kediri seorang da’i muda Muhammadiyah selaku pembicara Menyampaikan Beberapa Poin penting Wabilkhusus tentang sejarah Muhammadiyah yang mungkin belum banyak yang tau, beliau mengungkapkan tradisi Egaliter di Muhammadiyah yg menguat di era setelah KH Ahmad Dahlan meninggal, sehingga panggil kyai dan Gus tak lagi dipakai secara umum, hubungan antara Gus Dur Dengan Muhammadiyah fakta kalo beliau mereformasi pendidikan NU setelah belajar kepada Kyai Muhammadiyah di Kauman Yogyakarta, selain itu fakta tentang hubungan Muhammadiyah dengan pemerintah, menepis isu bahwa Muhammadiyah besar di era orde baru, di anak emaskan Soeharto, padahal faktanya besarnya Muhammadiyah adalah karena sejak awal Muhammadiyah fokus di pendidikan dan kesehatan, di saat mayoritas ulama’ tradisional membenci pendidikan dan kesehatan ala barat dan menjauhinya, beliau juga memberikan fakta tentang kyai Muhammadiyah alumni Tebuireng bahkan sebagian murid hadratus Syekh Kyai Haji Hasyim Asy’ari, alasan kenapa bergabung ke Muhammadiyah karena sebagian pendapat Mbah Hasyim di masa lalu memang cocok dengan pandangan Muhammadiyah waktu itu, meskipun kemudian Akhirnya ada pergeseran misal masalah shalat Rebo wekasan, kentongan, maulid nabi yg diisi joget joget maksiat, sedekah bumi dan seterusnya hal hal tersebut bisa dicek di website resmi Tebuireng ataupun website resmi NU juga referensi lain tentang apa yg beliau sampaikan kebenarannya.

Terakhir dengan menyinggung salafi dan NU Gus Yusuf Mengajak Kader Muhammadiyah Instrospeksi diri, karena larinya jama’ah ke mereka khususnya salafi adalah karena orientasi dari pondok Muhammadiyah sebatas nyetak kader bukan ulama’, sehingga Muhammadiyah jadi krisis ulama’ tidak banyak tokoh yg bisa dijadikan rujukan Umat, selain itu Umat juga malas pergi ke masjid berakhir pindahnya ke sebelah.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































