Pernahkah kalian bertanya-tanya mengapa aroma mie instan begitu menggoda bahkan sebelum dimasak? Atau bagaimana es krim stroberi tetap beraroma buah meski tak mengandung stroberi segar? Semua itu terjadi berkat bahan tambahan pangan flavor—senyawa aromatik yang membuat makanan terasa lebih hidup dan menggugah selera.
Dalam industri pangan modern, flavor bukan hanya pelengkap. Ia adalah “identitas rasa” suatu produk. Tanpa flavor, keripik rasa balado mungkin tidak bercita rasa khas, minuman rasa leci bisa terasa hambar, dan makanan instan akan kehilangan daya tarik utamanya.
🌬️ Apa Itu Flavor? Bukan Sekadar Rasa, tapi Pengalaman Utuh
Flavor merupakan gabungan aroma (smell) dan rasa (taste) yang dirasakan oleh hidung dan lidah secara bersamaan. Lebih dari 60% persepsi makan berasal dari aroma itulah sebabnya makanan terasa hambar ketika hidung tersumbat.
Menurut studi oleh Singh dan Sharma (2020), aroma terdiri dari ratusan molekul volatil yang mudah menguap dan memicu sensasi khas pada penciuman. Dalam banyak produk, flavor digunakan untuk memperbaiki atau menonjolkan karakter aroma yang hilang selama proses pemanasan atau penyimpanan.
Flavor dapat berasal dari:
🍃 Sumber alami – ekstrak vanila, minyak jeruk, pandan, atau rempah.
🧪 Identik alami – senyawa buatan yang struktur kimianya sama seperti di alam.
⚗️ Flavor sintetis – disusun dari komponen aromatik di laboratorium namun tetap aman.
Flavor sintetis bukan berarti berbahaya, karena banyak yang telah diteliti keamanannya oleh lembaga internasional seperti FEMA (Flavor and Extract Manufacturers Association) (Baines dan Seal, 2019).
🍓 Mengapa Industri Menggunakan Flavor?
Proses pengolahan seperti pemanasan, pengeringan, dan penyimpanan sering merusak aroma alami makanan. Berdasarkan riset Zhang et al. (2021), volatil alami mudah hilang akibat oksidasi, sehingga flavor penting untuk mempertahankan kualitas sensorik.
Flavor membantu:
✔️ Mengembalikan aroma hilang selama pengolahan
✔️ Meningkatkan karakter rasa tertentu
✔️ Menyamarkan aroma yang kurang enak
✔️ Menjaga konsistensi rasa antar-batch
✔️ Menciptakan varian baru yang lebih kreatif
Tanpa flavor, industri makanan akan kesulitan menjaga identitas rasa yang stabil.
🍩 Dari Vanila hingga “Rasa Bakar”: Ragam Flavor yang Menggugah
Industri flavor kini sangat maju. Para ahli flavor dapat meniru aroma yang sangat kompleks—dari aroma roti panggang hingga kopi sangrai.
Menurut Liu et al. (2022), pembentukan karakter “roasted” dapat dicapai melalui kombinasi molekul Maillard volatil seperti pyrazine, furans, dan aldehid aromatik.
Jenis flavor dibagi menjadi:
1. Flavor Alami
Diperoleh dari ekstraksi bahan alam. Contoh: ekstrak kopi, oleoresin cabai, minyak sereh.
2. Flavor Identik Alami & Sintetis
Diformulasikan dari campuran komponen aroma seperti etil butirat (aroma nanas), vanilin (vanila), atau isoamyl acetate (pisang).
Keduanya aman digunakan jika sesuai batas BPOM.
🧪 Bagaimana Flavor Dibuat? Mirip Menjadi “Peracik Parfum Makanan”
Meracik flavor adalah seni dan sains sekaligus. Seorang flavorist menggunakan teknik seperti GC–MS untuk “memetakan” molekul aroma pada produk alami (Hudson et al., 2019).
Tahap pembuatan flavor meliputi:
🔬 identifikasi molekul volatil
🧪 pencampuran komponen aromatik
👃 uji sensori oleh panelis
🧊 enkapsulasi agar tahan panas
📦 uji kestabilan dalam produk akhir
Satu flavor stroberi bisa terdiri dari lebih dari 50 molekul berbeda—itulah sebabnya aromanya terasa “asli”.
🥤 Produk Sehari-Hari yang Menggunakan Flavor
Kawan GNFI mungkin tidak menyadarinya, tetapi flavor digunakan hampir di seluruh produk:
Minuman rasa buah
Biskuit, roti, dan cake
Mie instan
Permen dan cokelat
Yogurt dan es krim
Keripik rasa-rasa
Produk kopi dan teh instan
Menurut Nurlela dan Sari (2019), flavor berperan penting dalam preferensi konsumen dan sangat memengaruhi keputusan pembelian.
🌿 Tren Baru: Flavor Alami Nusantara Mulai Mendunia
Indonesia memiliki kekayaan hayati besar mulai dari jeruk purut, kayu manis, pandan wangi, kelapa, hingga rempah-rempah yang menjadi bahan baku flavor alami berpotensi tinggi.
Riset Mustopa et al. (2020) mencatat bahwa ekstrak rempah Nusantara seperti lengkuas, jahe, dan serai memiliki karakter aroma unik yang diminati industri flavor global.
Tren “clean label” dan “natural flavor” semakin booming, membuka peluang besar bagi industri lokal.
🎯 Kesimpulan: Flavor adalah Ilmu dan Seni di Balik Lezatnya Makanan
Flavor mungkin hanya digunakan dalam jumlah kecil, tetapi dampaknya besar. Ia memberikan identitas, konsistensi, dan daya tarik sensorik pada makanan. Di tengah perkembangan teknologi pangan, Indonesia berpeluang menjadi pusat inovasi flavor alami berbasis kekayaan rempah dan tanaman aromatik lokal.
Dengan pemahaman yang tepat dan riset berkelanjutan, masa depan industri flavor Nusantara akan semakin cerah dan tentu saja, semakin wangi!
Daftar Referensi
Baines, D., & Seal, R. (2019). Natural Food Additives, Ingredients and Flavourings. Woodhead Publishing.
Hudson, B. et al. (2019). Characterization of food flavoring molecules using GC-MS. Food Chemistry, 272, 451–460.
Liu, S., Wang, J., & Zhao, H. (2022). Development of roasted flavor compounds in food systems. Journal of Food Processing, 15(3), 233–248.
Mustopa, Z., Hidayat, R., & Purwaningsih, I. (2020). Potensi senyawa volatil rempah lokal Indonesia sebagai flavor alami. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 31(2), 145–152.
Nurlela, E., & Sari, P. (2019). Konsistensi flavor dan preferensi konsumen. Jurnal Pangan dan Gizi, 14(1), 55–63.
Singh, P., & Sharma, R. (2020). Aroma chemistry and food perception. Food Research International, 132, 109–118.
Zhang, L., et al. (2021). Stability of natural flavor compounds during thermal processing. Food Bioscience, 41, 101–115.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































