Palembang – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Masyarakat melaksanakan kegiatan observasi lapangan terhadap program pembelajaran nonformal yang berbentuk Beauty Class sebagai bagian dari pemenuhan tugas mata kuliah Identifikasi dan Analisis Kebutuhan Masyarakat. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana proses pemenuhan kebutuhan belajar masyarakat, khususnya terkait keterampilan kecantikan, dapat diwujudkan melalui penyelenggaraan pendidikan nonformal yang bersifat praktik, interaktif, dan aplikatif. Kegiatan ini berfokus pada pengamatan langsung terhadap proses pelatihan make up serta keterlibatan peserta selama proses pembelajaran berlangsung. Beauty class yang diamati menyajikan proses pembelajaran yang sistematis dan menyeluruh tentang teknik dasar make up dan perawatan kulit. Materi yang diberikan tidak hanya mencakup teori mengenai langkah persiapan kulit sebelum menggunakan riasan, pentingnya memahami jenis kulit, dan teknik pemilihan produk kosmetik yang tepat, tetapi juga praktik langsung dalam mengaplikasikan complexion, shading, eyebrow, eyeshadow, eyeliner, serta penggunaan produk bibir untuk menghasilkan tampilan natural sehari-hari. Metode pembelajaran menggabungkan penjelasan materi oleh instruktur, demonstrasi secara langsung, serta praktik mandiri oleh peserta dengan dukungan instruktur yang siap membantu jika ditemukan kendala. Selama kegiatan observasi, terlihat bahwa peserta mengikuti proses belajar dengan sangat antusias.

Mereka memberikan respon positif terhadap penjelasan instruktur dan aktif bertanya mengenai teknik make up yang sesuai dengan kebutuhan pribadi. Peserta, yang sebagian besar berasal dari kalangan remaja dan mahasiswa, mengungkapkan bahwa mereka memiliki kebutuhan besar untuk mempelajari keterampilan dasar merias wajah karena tidak mendapatkan materi tersebut melalui jalur pendidikan formal. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan ruang belajar alternatif melalui pendidikan nonformal untuk mengakses pengetahuan dan keterampilan kecantikan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil pengamatan, kebutuhan utama peserta berkaitan dengan kemampuan memilih produk kosmetik sesuai warna dan kondisi kulit, keterampilan menentukan shade foundation yang tepat, teknik merias mata agar terlihat natural, serta strategi menjaga ketahanan make up agar tidak mudah luntur. Peserta juga merasa membutuhkan pembelajaran berbasis praktik karena pendekatan teoritis saja dianggap tidak memadai untuk menghasilkan kemampuan teknis yang baik. Kebutuhan ini menjadi dasar penting dalam analisis untuk melihat relevansi beauty class sebagai solusi pembelajaran yang efektif. Melalui hasil analisis kebutuhan, diketahui bahwa kegiatan beauty class memberikan dampak positif yang signifikan bagi peserta. Selain membantu pengembangan keterampilan kecantikan, kegiatan ini juga meningkatkan rasa percaya diri, kemampuan merawat dan menata diri, serta membuka peluang bagi peserta untuk mengembangkan keterampilan tersebut sebagai potensi usaha di bidang jasa kecantikan. Dengan demikian, program pendidikan nonformal seperti beauty class tidak hanya berfungsi sebagai wadah belajar, tetapi juga sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan keterampilan yang memiliki nilai ekonomi. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan didukung oleh beberapa faktor, antara lain fasilitas produk kosmetik yang tersedia lengkap, instruktur yang profesional dan komunikatif, serta suasana kelas yang kondusif sehingga peserta dapat belajar secara optimal. Meskipun demikian, masih terdapat hambatan, seperti terbatasnya durasi kegiatan yang membuat penyampaian materi harus dilakukan secara padat dan perbedaan kemampuan awal peserta yang menuntut instruktur menyesuaikan pendekatan pembelajaran agar seluruh peserta dapat mengikuti dengan baik. Secara keseluruhan, observasi ini menunjukkan bahwa beauty class merupakan bentuk implementasi pendidikan nonformal yang mampu menjawab kebutuhan belajar masyarakat di bidang kecantikan, terutama bagi mereka yang memerlukan keterampilan praktis namun tidak mendapatkannya melalui jalur pendidikan formal. Program seperti ini merupakan alternatif penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pembelajaran berbasis keterampilan. Berdasarkan hasil analisis, disarankan agar program beauty class dikembangkan melalui penambahan durasi pembelajaran, penyediaan kelas dengan tingkat kemampuan berbeda seperti kelas pemula dan lanjutan, serta perluasan kesempatan penyelenggaraan agar dapat menjangkau lebih banyak peserta. Dengan pengembangan tersebut, pendidikan nonformal di bidang kecantikan dapat menjadi sarana pemberdayaan masyarakat yang lebih optimal serta berkontribusi terhadap peningkatan kompetensi dan kualitas sumber daya manusia.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































