Di era Modern seperti sekarang, kasus bullying masih menjadi masalah serius yang belum menemukan titik akhir. Ironisnya, meskipun Dumia semakain maju dengan Teknologi dan Pendidikan yang berkembang, perilaku merendahkan, menghina, bahkan menyakiti orang lain secara fisik maupun mental tetap saja terjadi, hanya bentuknya yang kini semakin beragam.
Dulu, bullying mungkin terjadi secara langsung di Sekolah atau lingkungan sekitar. Namun kini, dengan hadirnya Media Sosial, muncul bentuk baru yang disebut Cyberbullying. Melalui komentar jahat, penyebaran gosip, atau pengghinaan di Dunia maya, pelaku bisa dengan mudah melukai korbannya tanpa harus berhadapan langsung. Dampaknya pun tidak main-main: banyak korban yang mengalami tekanan mental, kehilangan rasa percaya diri, bahkan sampai ada nekat mengakhiri hidupnya.
Contoh nyata kasus bullying di era digital: (inspirasi dari Rachel Vennya)
Konteks: Seorang figur publik (seperti selebgram) terus-menerus mendapat perhatian publik, baik positif maupun negatif.
Perilaku bullying: Setelah memutuskan untuk bercerai, publik dan warganet di berbagai forum daring (seperti di platform media sosial) mulai membicarakan dan mengomentari kehidupan pribadinya. Komentar yang muncul sangat kasar, merendahkan, dan memuat berbagai fitnah.
Dampak: Akibat bullying ini, figur publik tersebut merasa sangat tertekan. Dia memilih untuk mengarsipkan beberapa fotonya di media sosial karena merasa tidak nyaman dengan komentar-komentar negatif tentang anak-anaknya, dan seringkali memilih untuk diam agar tidak menambah panjang perdebatan, meskipun hal itu membuatnya sangat sedih dan trauma.
Akar dari masalah bullying terletak pada kurangnya empati dan pengawasan sosial. Banyak anak atau remaja yang meniru perilaku kasar karena dianggap lucu, tren, atau bentuk “keberanian”. Padahal, di balik tawa pelaku, ada hati korban yang hancur dan trauma mendalam yang mungkin sulit disembuhkan.
Sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat seharusnya bekerja sama dalam membangun budaya saling menghargai dan peduli. Pendidikan karakter, bimbingan konselor, serta penggunaan media sosial yang sehat perlu digencarkan. Kita juga perlu berani menegur dan melapor jika melihat tindakan bullying, karena diam berarti ikut membiarkan.
Sebagai generasi muda, kita harus sadar bahwa kata-kata bisa lebih tajam dari pisau. Sekali diucapkan atau diketik, dampaknya bisa bertahan lama. Mari gunakan kemajuan teknologi dan kebebasan berbicara bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk membangun dan saling mendukung.
Bullying bukan tanda kekuatan, melainkan kelemahan dalam memahami perasaan orang lain. Sudah saatnya kita semua berhenti menjadi penonton — dan mulai menjadi pelindung bagi mereka yang tak mampu bersuara.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































