Di sekolah, kertas bekas sering kali hanya dianggap sebagai sampah. Setelah ujian, tugas, atau arsip lama, kertas-kertas itu berakhir di tempat sampah tanpa makna. Padahal, jika dikelola dengan pendekatan yang tepat, limbah kertas justru bisa menjadi media pembelajaran yang bernilai bahkan menanamkan jiwa kewirausahaan sejak usia dini.
Pengalaman inilah yang kami temui saat melaksanakan program pengabdian kepada Masyarakat di SMP Negeri 3 Pacet, Desa Kembang Belor, Kabupaten Mojokerto. Dalam program ini, kami menggabungkan pelatihan Business Model Canvas (BMC) dengan praktik pembuatan seed paper dari limbah kertas sekolah sebagai pendekatan pembelajaran kewirausahaan yang sederhana, aplikatif, dan ramah lingkungan.
Belajar Bisnis Tidak Harus Rumit
Selama ini, pembelajaran kewirausahaan di tingkat SMP masih cenderung bersifat teoretis. Siswa mengenal istilah usaha dan bisnis, tetapi belum terbiasa mempraktikkan bagaimana sebuah ide dirancang dan diwujudkan secara nyata. Karena itu, Business Model Canvas dipilih sebagai alat bantu pembelajaran.
BMC diperkenalkan sebagai kerangka sederhana untuk memetakan ide usaha melalui sembilan elemen dasar, seperti nilai produk, segmen pelanggan, hingga aktivitas utama. Penyampaian materi dilakukan secara visual dan interaktif agar mudah dipahami oleh siswa.
Mahasiswa KKN R9 (sub kelompok 6) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya memaparkan materi Business Model Canvas (BMC) kepada siswa SMPN 3 Pacet sebagai pengenalan perencanaan usaha sederhana.
Dalam diskusi kelompok, siswa diminta menyusun Business Model Canvas (BMC) sederhana berbasis produk seed paper yaitu kertas daur ulang yang di dalamnya terdapat benih tanaman dan dapat langsung ditanam. Dari proses ini, siswa mulai memahami bahwa bisnis bukan sekadar menjual barang, tetapi tentang merancang nilai dan manfaat sebuah produk.
Siswa kelas VII mengisi lembar Business Model Canvas (BMC) untuk memetakan ide usaha seed paper, mulai dari nilai produk hingga aktivitas utama yang dibutuhkan.
Menariknya, ide-ide yang muncul berasal dari sudut pandang siswa sendiri. Mereka menyebut nilai produk seperti ramah lingkungan, unik, dan bisa ditanam, serta mengidentifikasi calon pengguna seperti pelajar lain dan masyarakat yang peduli lingkungan.
Dari Limbah Kertas ke Produk Nyata
Setelah memahami perencanaan usaha, siswa diajak langsung mempraktikkan pembuatan seed paper. Limbah kertas yang sebelumnya tidak terpakai dikumpulkan, direndam, dihancurkan menjadi bubur kertas (pulp), lalu dicetak bersama benih tanaman menggunakan alat sederhana.
Siswa kelas VII SMPN 3 Pacet mengikuti praktik pembuatan seed paper dengan mencampur bubur kertas daur ulang dan benih tanaman sebagai bagian dari pembelajaran kewirausahaan berbasis lingkungan.
Proses ini menjadi pengalaman belajar yang berkesan. Siswa belajar bekerja sama, mengikuti tahapan kerja, dan menyelesaikan tantangan kecil seperti mengatur ketebalan kertas atau memastikan benih tersebar merata. Mereka tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memahami proses di balik sebuah karya.
Menurut guru pendamping kegiatan, pendekatan ini memberikan dampak positif bagi siswa.
“Anak-anak jadi lebih aktif dan berani menyampaikan ide. Mereka juga mulai sadar bahwa limbah kertas di sekolah bisa dimanfaatkan, bukan hanya dibuang,” ujar guru pendamping SMPN 3 Pacet.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis praktik mampu meningkatkan partisipasi sekaligus kesadaran lingkungan siswa.
Menanam Jiwa Wirausaha Sejak Dini
Evaluasi kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap konsep perencanaan usaha, proses daur ulang kertas, serta sikap peduli lingkungan. Lebih dari sekadar hasil produk, perubahan cara pandang siswa menjadi temuan yang paling penting. Lingkungan sekolah mulai dilihat sebagai sumber ide dan peluang belajar.
Kegiatan ini memang memiliki keterbatasan, terutama dari sisi waktu pelaksanaan yang singkat. Namun sebagai langkah awal, integrasi antara pelatihan kewirausahaan dan praktik pengolahan limbah terbukti efektif dan relevan bagi pelajar SMP.
Jika dikembangkan secara berkelanjutan, misalnya melalui kegiatan ekstrakurikuler atau proyek sekolah, pendekatan ini berpotensi menjadi model pembelajaran kewirausahaan yang kontekstual. Dari selembar kertas bekas, siswa belajar merancang ide. Dari seed paper sederhana, tumbuh benih jiwa wirausaha untuk masa depan.
Disusun oleh:
Azzahra Najwa Debby Maharani, Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. KKN R9 (Sub Kelompok 6)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































