Di tengah maraknya informasi mengenai pola makan, Diet Golongan Darah menonjol karena klaimnya yang sangat definitif. Konsep ini, yang dipopulerkan oleh Peter J. D’Adamo melalui bukunya Eat Right for Your Type (2002), menyatakan bahwa kesehatan optimal seseorang ditentukan oleh golongan darah ABO, yang dikaitkan dengan pola diet evolusioner leluhur. Narasi ini menyajikan solusi yang tampaknya personal dan ilmiah untuk kebingungan diet modern. Fenomena ini berkembang pesat di tengah tingginya minat masyarakat terhadap tren diet populer dan non-konvensional yang sering disebarluaskan melalui media, termasuk di Indonesia (Anggraini & Rahmayuni, 2023). Analisis ini bertujuan untuk membuktikan bahwa Diet Golongan Darah adalah pseudosains yang dikemas dengan label biologis, yang berfungsi sebagai alat pemasaran yang efektif alih-alih pedoman nutrisi yang valid.
Klaim Diet Golongan Darah didasarkan pada hipotesis bahwa protein makanan yang disebut lektin akan berinteraksi negatif dengan antigen golongan darah jika tidak sesuai, menyebabkan aglutinasi (penggumpalan darah) dan masalah kesehatan jangka panjang. Klaim ini mengasumsikan bahwa interaksi in vitro dapat secara langsung diekstrapolasikan ke sistem pencernaan manusia. Namun, mekanisme biologis yang sebenarnya sangat kompleks. Dalam tubuh, sebagian besar lektin dinetralkan oleh proses memasak, asam lambung, atau dimetabolisme oleh mikrobioma usus sebelum sempat berinteraksi secara signifikan dengan sel darah.
Ranah Neurofisiologi menunjukkan bahwa kontrol perilaku makan adalah proses yang sangat terpusat, melibatkan komunikasi dari saluran pencernaan ke otak. Rasa kenyang, misalnya, tidak didominasi oleh golongan darah, melainkan disalurkan melalui saraf seperti saraf vagus yang mengirim sinyal dari saluran pencernaan ke batang otak. Sistem Saraf Otonom mengatur peristaltik dan sekresi enzimatik yang jauh lebih berperan dalam respons makanan daripada sistem ABO. Menyederhanakan proses makan hanya pada protein darah mengabaikan mekanisme kontrol saraf yang fundamental ini. Selain itu, klaim tentang makanan yang menyebabkan kerusakan dan peradangan harus ditinjau melalui lensa Psikoneuroimunologi (PNI). PNI mempelajari interaksi kompleks antara pikiran, otak, dan sistem kekebalan. Reaksi kekebalan tubuh terhadap makanan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk stres kronis, status gizi mikro, dan genetik Histocompatibility Complex yang jauh lebih luas daripada sistem ABO. Pseudosains Diet Golongan Darah gagal mempertimbangkan peran respons stres dan kompleksitas kekebalan yang sebenarnya.
Kegagalan ilmiah yang mendasar ini diperkuat oleh data empiris. Tinjauan sistematis literatur menunjukkan secara kategoris bahwa tidak ada bukti empiris valid untuk mendukung hipotesis Diet Golongan Darah (Cusack et al., 2014). Penelitian lain juga menunjukkan bahwa genotipe ABO tidak memodifikasi efek diet pada faktor risiko kardiometabolik (Wang et al., 2014).
Kritik akademik juga diarahkan pada aspek pemasaran Diet Golongan Darah. Model ini menarik karena menjanjikan eksklusivitas dan kontrol di tengah ketidakpastian informasi gizi modern. Penggunaan jargon biopsikologi seperti lektin, aglutinasi, dan antigen adalah strategi yang dikenal sebagai scientism, yaitu penggunaan bahasa ilmiah yang dangkal untuk membangun kredibilitas palsu. Tujuan utama di balik penggunaan bahasa ini adalah keuntungan finansial melalui penjualan buku, suplemen, dan produk makanan khusus. Jurnal-jurnal nasional pun menyoroti bahwa iklan berbasis klaim kesehatan yang dilebih-lebihkan berdampak signifikan pada perilaku konsumen, menciptakan ekspektasi yang tidak realistis terhadap produk (Setiawan & Subandi, 2018).
Asumsi determinisme biologis yang sempit bahwa nasib diet telah ditetapkan sejak lahir menciptakan kecemasan yang tidak perlu terhadap makanan sehat. Neurofisiologi mengajarkan bahwa perilaku makan dipengaruhi oleh faktor reward yang dimediasi oleh dopamin. Ketika individu fokus secara berlebihan pada pembatasan biologis yang tidak valid, mereka cenderung mengabaikan faktor-faktor penentu kesehatan yang sebenarnya penting, seperti manajemen stres, olahraga teratur, dan kualitas tidur.
Sebagai kesimpulan, Diet Berdasarkan Golongan Darah adalah contoh klasik bagaimana narasi yang menarik dapat mengalahkan bukti ilmiah. Meskipun menggunakan komponen biologis sebagai dasar, klaim nutrisinya sepenuhnya adalah pseudosains. Regulasi makan adalah proses kompleks yang melibatkan Neurofisiologi dan PNI; menyederhanakannya menjadi sistem ABO mengabaikan prinsip dasar Biopsikologi. Penting bagi komunitas akademik untuk memegang teguh skeptisisme ilmiah dan menuntut bukti kausal yang kuat. Di tengah tren diet, perlu adanya edukasi gizi seimbang yang didasarkan pada bukti ilmiah, yang merupakan fokus dari program kesehatan masyarakat (Puspitasari & Handayani, 2020), alih-alih klaim yang dimanipulasi oleh pemasaran.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































