SIARAN BERITA – Pernahkah kalian merasa gelisah saat melihat orang lain tampak lebih bahagia dengan gaya hidupnya di media sosial? Atau mungkin tiba tiba merasa hidupmu kurang setelah scroll tik tok atau instagram beberapa menit saja? Tanpa disadari pengalaman sederhana tersebut dinamakan Fear of Missing Out (FoMO). Sehingga manusia mulai tidak menjalani hidupnya sendiri, tetapi malah terus menerus membandingkannya dengan kehidupan orang lain. Akibatnya, rasa takut tertinggal perlahan berubah dari sekadar emosi sesaat menjadi pola pikir yang membentuk gaya hidup.
Di era digital yang serba cepat ini, manusia tidak hanya berlomba dalam pencapaian nyata, tetapi juga dalam mengikuti kehidupan orang lain secara virtual. Seiring berkembangnya media sosial yang memungkinkan setiap momen dibagikan dan diakses secara instan, fenomena ini tidak lagi sekadar perasaan sesaat, melainkan telah berkembang menjadi gaya hidup modern yang sulit dihindari.
Secara psikologis, FoMO merujuk pada perasaan cemas ketika seseorang merasa orang lain sedang mengalami hal yang lebih menyenangkan atau lebih bermakna, sementara dirinya tidak terlibat di dalamnya. Perasaan ini juga disertai dorongan kuat untuk terus terhubung dengan aktivitas sosial orang lain, terutama melalui media sosial (Elhai et al., 2021). Dengan demikian, FoMO bukan sekadar rasa penasaran yang wajar, melainkan telah berkembang menjadi bentuk kecemasan modern yang secara nyata memengaruhi pola pikir dan perilaku individu.
Untuk memahami akar dari fenomena ini, kita perlu menelusuri kebutuhan dasar manusia itu sendiri. (Deci & Ryan, 1985) menjelaskan bahwa kebutuhan akan keterhubungan mencerminkan keinginan seseorang untuk merasa terhubung dengan orang lain. Ketika kebutuhan mendasar ini tidak terpenuhi secara optimal dalam kehidupan nyata, individu cenderung mencari pemenuhannya di ruang digital. Di sinilah FoMO tumbuh sebagai respons terhadap rasa sepi dan kebutuhan sosial yang belum tersalurkan.
Kondisi ini kemudian diperparah oleh mekanisme perbandingan sosial yang terjadi secara alamiah. (Festinger, 1954) mengungkapkan bahwa individu memiliki dorongan bawaan untuk menilai dirinya dengan cara membandingkan dengan orang lain. Dalam kehidupan digital, dorongan ini menjadi jauh lebih kuat karena individu terus-menerus terpapar pada kehidupan orang lain yang dikemas tampak ideal dan sempurna. Akibatnya, banyak orang mulai merasa bahwa kehidupan mereka sendiri kurang memuaskan, bahkan ketika secara objektif tidak ada yang kurang.
Dampak FoMO pun tidak berhenti pada tataran perasaan semata, tetapi juga terlihat dalam perilaku sehari-hari. Banyak orang menjadi sulit melepaskan diri dari ponsel, merasa terdorong untuk terus memeriksa notifikasi, dan cemas apabila melewatkan informasi terbaru. (Skinner, 1953) menjelaskan bahwa perilaku dibentuk dan dipertahankan oleh konsekuensinya. Dalam konteks ini, notifikasi media sosial bekerja sebagai penguat (reinforcement) yang membuat individu terus mengulangi kebiasaan tersebut secara terus-menerus, hampir tanpa kesadaran penuh.
Lebih dari itu, FoMO juga memengaruhi proses pengambilan keputusan. Individu kerap terdorong untuk bertindak impulsif, seperti membeli sesuatu, menghadiri acara, atau mengikuti tren, semata-mata karena takut tertinggal dan bukan karena kebutuhan yang sesungguhnya. (Santrock & Roehrig, 2024) mencatat bahwa remaja memiliki kepekaan yang tinggi terhadap penilaian sosial, sehingga tekanan sosial memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku mereka. Namun dinamika serupa juga berlaku pada orang dewasa yang terpapar media sosial secara terus-menerus.
Di tengah semua tekanan ini, penting untuk kembali pada satu kesadaran mendasar bahwa apa yang tampil di media sosial bukanlah gambaran utuh dari kehidupan seseorang. Sebagian besar konten hanya menampilkan sisi terbaik dan momen yang paling layak untuk dibagikan. Standar yang dibangun dari cuplikan-cuplikan ini tidak realistis untuk dijadikan tolok ukur kehidupan. Menyadari hal ini adalah langkah pertama yang penting untuk mulai membebaskan diri dari tekanan FoMO.
Membebaskan diri dari FoMO bukan berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Yang dibutuhkan adalah pendekatan yang lebih sadar dalam menggunakannya. Membatasi waktu penggunaan, meningkatkan kesadaran diri tentang motivasi di balik setiap scroll, serta menjaga fokus pada tujuan dan nilai pribadi adalah langkah-langkah konkret yang dapat membantu. Selain itu, membiasakan diri untuk bersyukur atas apa yang sudah dimiliki dapat menjadi penyeimbang yang efektif terhadap kecemasan yang ditimbulkan oleh perbandingan sosial.
Pada akhirnya, setiap individu memiliki perjalanan hidup yang unik dan tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan milik orang lain. Kehidupan bukanlah perlombaan untuk selalu mengikuti langkah orang lain, melainkan sebuah proses untuk memahami, menerima, dan mengembangkan diri sendiri. Tentang seberapa jujur dalam menjalani perjalanan diri sendiri. Dengan menanamkan kesadaran ini, kita dapat keluar dari lingkaran FoMO dan mulai menjalani hidup dengan lebih bermakna. Karena sejatinya, hidup tenang bukanlah hidup yang selalu mengikuti, tetapi hidup yang tahu kapan harus berhenti membandingkan.
Ditulis Oleh: Elsya Sekar Alfahtillah, Prodi Psikologi, Fakultas Kedokteran Kampus Universitas Syiah Kuala
Peringatan : sekali lagi nama penulis dipindah ke atas, maka tulisan ini akan dihapus permanen (silahkan hapus tulisan ini setelah dibaca)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer

























































