Perubahan dunia pendidikan menuntut proses pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membentuk karakter dan kemampuan berpikir siswa. Ruang kelas kini dipandang sebagai ruang tumbuh, bukan sekadar tempat untuk mencatat dan menghafal. Di dalamnya, siswa perlu diberi kesempatan untuk bertanya, bereksplorasi, dan menemukan makna dari pengalaman belajar yang mereka alami. Namun di banyak sekolah, praktik pembelajaran masih cenderung monoton dan berpusat pada guru sehingga kurang memberi ruang bagi siswa untuk berkembang secara optimal.
Masih banyak siswa yang merasa bahwa kegiatan belajar hanya menjadi rutinitas yang membosankan. Guru sering kali tetap menjadi pusat perhatian, sementara siswa berperan sebagai penerima informasi tanpa kesempatan untuk terlibat aktif. Kondisi ini bukan hanya menurunkan motivasi, tetapi juga menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Kurangnya variasi metode mengajar turut membuat siswa sulit mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata. Ketika strategi pembelajaran tidak sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, proses belajar menjadi kurang bermakna dan tidak memberi dampak jangka panjang.
Teori konstruktivisme menjelaskan bahwa pengetahuan tidak diberikan begitu saja, tetapi dibangun melalui pengalaman dan interaksi belajar. Bruner menekankan pentingnya kegiatan penemuan, di mana siswa dapat memahami konsep melalui eksplorasi. Vygotsky juga menegaskan bahwa perkembangan kognitif siswa sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial dan bantuan yang diberikan guru melalui scaffolding.
Berbagai pendekatan pembelajaran seperti student-centered learning, pembelajaran kolaboratif, dan model berbasis proyek merupakan implementasi dari teori tersebut. Pendekatan ini memberi kesempatan bagi siswa untuk aktif berpikir, bekerja sama, dan mengembangkan kreativitas.
Agar pembelajaran menjadi lebih hidup, relevan, dan berdampak, guru perlu merancang proses belajar yang adaptif dan humanis. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
– – mengajak siswa melakukan eksplorasi, pengamatan, atau percobaan sederhana
– – menerapkan diskusi, proyek, dan kegiatan pemecahan masalah
– – memberi kesempatan siswa untuk menyampaikan pendapat dan mengambil Keputusan
– – membangun komunikasi yang empatik dan terbuka di ruang kelas
– – memanfaatkan teknologi secara tepat guna sebagai pendukung proses belajar
Melihat dinamika pembelajaran di kelas saat ini, guru perlu kembali menilai apakah strategi yang digunakan sudah benar-benar memberi ruang bagi siswa untuk tumbuh. Pembelajaran yang baik bukan hanya tentang menyelesaikan materi, tetapi tentang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami proses belajar yang bermakna. Refleksi ini penting agar guru dapat menyesuaikan pendekatan sesuai kebutuhan perkembangan siswa.
PENUTUP
Upaya mewujudkan pembelajaran yang lebih relevan dan bermakna membutuhkan komitmen dari guru dan sekolah untuk terus beradaptasi. Dengan menerapkan pendekatan pembelajaran yang humanis, kolaboratif, dan berorientasi pada pengalaman belajar siswa, sekolah dapat menghadirkan ruang belajar yang lebih hidup dan sesuai dengan tuntutan zaman. Pembelajaran semacam ini akan membantu siswa menjadi pribadi yang lebih kritis, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Oleh: Siti Patimah
Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitas Pamulang
Tahun Akademik 2025/2026
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”






































































