SIARAN BERITA – Pengeboman U.S dan Israel atas Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenai mungkin terasa mengejutkan bagi kebanyakan orang. Namun, ini bukanlah sekadar “pembunuhan diktator” biasa, karena terdapat maksud tersembunyi di balik pengeboman tersebut.
Kebanyakan orang berpikir bahwa pengeboman ini didasari oleh keinginan U.S untuk membebaskan Iran dari rezim milik Ali Khamenai, Ayatollah. Namun, kenyataannya tidak sesuci itu. Alasan utama U.S menyerang Iran tidak lain adalah demi kepentingan Israel.
Israel merasa bahwa Iran dan Ayatollah merupakan sebuah duri yang mengganggu rencana besar mereka, yaitu *Greater Israel*. Oleh karena itu, Israel mendorong U.S untuk melakukan pergantian rezim secara paksa terhadap Iran. Tujuan utamanya adalah menjadikan Iran seperti negara-negara yang sebelumnya telah diinvasi oleh U.S, di mana setelah invasi terjadi kekosongan kekuasaan dalam pemerintahan negara tersebut.
Kondisi ini kemudian diikuti dengan munculnya kelompok-kelompok ekstremis yang memicu konflik, baik secara internal maupun eksternal. Dari situ, U.S dan Israel dapat mengambil keuntungan dengan memberikan dukungan kepada kelompok yang dianggap paling tidak radikal. Namun, ketika kelompok tersebut berhasil naik ke tampuk kekuasaan, U.S dan Israel justru melakukan perlawanan terhadap kelompok yang sebelumnya mereka dukung.
Pola ini telah terjadi berkali-kali, seperti pada tahun 2001 di Afganistan, 2002 di Venezuela, 2003 di Iraq dan Somalia, 2004 di Haiti, 2007 di Palestina, serta 2011 di Syria dan Libya. Tujuannya adalah untuk mengusir kelompok-kelompok tertentu, menghilangkan pengaruh negara tersebut, serta melemahkan kondisi ekonominya.
Namun, bagi U.S dan Israel, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Kegagalan dalam menggulingkan Ayatollah membuat mereka harus memperpanjang konflik yang seharusnya sudah berakhir. Hal ini justru menimbulkan kerugian besar, yang diperkirakan mencapai miliaran dollar, terutama dari sisi militer.
Selain itu, penutupan Selat Hormuz sebagai salah satu jalur logistik terbesar di dunia memberikan dampak serius terhadap ekonomi global. Jalur ini merupakan jalur penting perdagangan energi dan pupuk dunia, sehingga gangguan di wilayah ini dapat memicu krisis global ([panturanews.com][1]).
Berdasarkan data yang dibagikan oleh World Trade Organization (WTO), pengiriman pupuk mengalami penurunan yang sangat signifikan sejak awal Maret. AXSMarine merilis perbandingan ekspor pupuk pada Maret 2025 dengan Maret 2026 di Selat Hormuz, di mana ekspor pada Maret 2026 hanya sekitar 6,09% (82.195 ton) dari ekspor Maret 2025 (1.350.000 ton).
Institusi juga menyebutkan bahwa penutupan penuh Selat Hormuz dapat mendorong kenaikan harga pangan global. Gangguan distribusi pupuk bahkan berpotensi memicu krisis pangan karena ketergantungan dunia terhadap pasokan dari kawasan tersebut ([detikcom][2]).
Bagi U.S sendiri, dampak perang juga mulai terasa secara langsung. Sejak konflik berlangsung, harga bensin di U.S mengalami kenaikan signifikan, dengan rata-rata naik lebih dari 1 dollar dibandingkan sebelum perang pergantian rezim Iran terjadi. Kenaikan ini bahkan disebut sebagai yang terbesar sejak tahun 2022.
Ditulis Oleh:
(Arbaytian Reymonda Hubbai Dillla, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































