22 September 2025 – Probolinggo, Jawa TimurPagi ini, saat matahari belum sepenuhnya terbit, aku sudah berdiri di puncak Penanjakan, ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut. Udara dingin menusuk tulang, tapi pemandangan Gunung Bromo yang sangat cantik di pagi hari langsung menghapus segala lelah perjalanan semalam dari Surabaya.
Kabut tipis menyelimuti kaldera Tengger, dan lautan pasir hitam membentang luas seperti lukisan alam yang hidup. Lalu, saat sinar pertama fajar menyembul, puncak Bromo berubah menjadi emas menyala—merah jingga campur putih salju abu-abu dari kawahnya yang menggelegak. Batok Bromo berdiri gagah di tengah savana hijau yang bergoyang pelan angin, sementara Gunung Semeru di belakangnya menjulang misterius, seolah menjaga rahasia alam.
Ini bukan sekadar pemandangan; ini symphony cahaya dan bayangan yang bikin hati berdegup kencang. Aku hampir lupa bernapas!Perjalanan ini tak lengkap tanpa bertemu Zaidan, pemuda 18 tahun dari Kalimantan Tengah yang kukenal lewat komunitas pelari online. Dia bilang, “Bang, Bromo ini seperti track lari terpanjang yang pernah aku bayangkan! ” Zaidan, pelari muda asal Palangkaraya, datang ke sini untuk pertama kalinya sebagai bagian dari challenge pribadinya: lari trail di lautan pasir Bromo menjelang sunrise.
Dengan sepatu trail-nya yang sudah usang, dia start dari basecamp Cemoro Lawang pukul 3 pagi, menyusuri jalan setapak berbatu sambil hembusan angin dingin 5 derajat Celsius menyambutnya. “Awalnya susah, Mas. Pasirnya licin, kaki tenggelam sampe betis. Tapi saat liat Bromo dari dekat, semua capek ilang. Ini motivasi buat aku lari ultramarathon di Kalteng nanti,” ceritanya sambil tersenyum lebar, napasnya masih ngos-ngosan.
Kami naik ojek jeep ke bibir kawah Bromo setelah sunrise. Dari sana, asap belerang mengepul lembut, dan suara angin berbisik di telinga. Zaidan langsung berlari kecil mengelilingi kawah, seolah alam ini jadi arena latihannya. Buat dia yang tumbuh di hutan Kalimantan, Bromo seperti petualangan baru: “Di Kalteng, aku lari di sungai Dayak. Di sini, pasirnya ngingetin pasir pantai, tapi dinginnya beda level!” Kami foto bareng, latar belakang savana yang hijau kontras dengan langit biru cerah. Pagi itu, Bromo tak hanya cantik; ia jadi saksi ambisi seorang pelari muda yang tak kenal lelah.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































