Kita sekarang hidup di era di mana ibu jari bergerak lebih cepat daripada pikiran, kita sering kali stuck dalam pusaran informasi yang tak berujung. Hampir setiap hari, rata-rata orang terpapar ribuan informasi lewat berbagai media sosial. Namun, pertanyaannya: dari banyaknya informasi tersebut mana yang benar-benar sebuah fakta yang harus kita “cerna”, dan berapa banyak yang sekadar kita “telan”? Di sinilah peran berpikir kritis (critical thinking) yang bukan hanya sekadar keterampilan akademis, melainkan juga sebagai alat untuk bertahan hidup (survival kit) yang paling krusial di abad ke-21.
Mengapa Kita Harus Peduli?
Mari kita jujur pada diri sendiri. Pernahkah kita merasa marah setelah membaca sebuah berita, hanya untuk menyadari beberapa jam kemudian bahwa berita tersebut hoax atau dilebih-lebihkan?.
Berpikir kritis adalah kegiatan batin untuk mempertimbangkan sedalam-dalamnya setiap gagasan yang dijumpai. Sikap kritis ini di tandai dengan kemuan mempertanyakan berbagai informasi atau berita yang diterima. Terlebih pada era kelimpahan informasi saat ini, jika kita tidak kritis, maka kita bisa termakan oleh berita-berita hoax yang sengaja dibuat untuk mempengaruhi pikiran kita. Sikap kritis ini adalah benteng pertahanan terakhir bagi kedaulatan diri kita. Jika kita tidak melatih pikiran kita untuk bertanya “Mengapa?” atau “Siapa yang diuntungkan dari narasi ini?”, maka sebenarnya kita sedang membiarkan orang lain—entah itu algoritma, politisi, atau pemasar—mengendalikan dan mempengaruhi cara kita memandang dunia.
Sebagaimana diungkapkan oleh filsuf dan pakar pendidikan John Dewey, “Berpikir kritis adalah penyelidikan yang aktif, gigih, dan hati-hati terhadap keyakinan apa pun atau bentuk pengetahuan apa pun yang dianggap benar dengan meninjau alasan-alasan yang mendukungnya” (Dewey, 1910). Kutipan ini mengingatkan kita bahwa kebenaran bukanlah sesuatu yang statis, melainkan hasil dari pencarian yang aktif.
Urgensi Aktual: Gelembung Filter dan Perpecahan
Isu yang sangat aktual saat ini adalah pembentukan filter bubble oleh algoritma media sosial. Filter Bubble adalah kondisi di mana algoritma internet (mesin pencari, media sosial) menyaring dan hanya menampilkan konten (berita, iklan, postingan) yang sesuai dengan minat, kebiasaan, dan riwayat interaksi pengguna, sehingga menciptakan “gelembung” informasi pribadi yang mempersempit pandangan dan mengisolasi dari perspektif yang beragam, seperti yang diperkenalkan oleh Eli Pariser. Algoritma Iini dirancang untuk menampilkan konten yang Anda sukai, sehingga Anda terus terjebak dalam ruang gema (echo chamber) yang memperkuat keyakinan lama Anda tanpa pernah menantangnya. contohnya: Jika Anda sering mencari berita politik konservatif, filter bubble akan terus-menerus menampilkan berita dan opini serupa, sambil menyembunyikan pandangan liberal atau lainnya, yang membuat Anda merasa pandangan tersebut adalah satu-satunya kebenaran.
Inilah yang menyebabkan perpecahan tajam di masyarakat. Kita menjadi sulit untuk berdialog dengan mereka yang berbeda pandangan karena kita menganggap bahwa pandangan kita adalah satu-satunya kebenaran. Maka dari itu kita perlu bersikap kritis, sikap kritis yang dimaksud bukan kecenderungan untuk mencari kesalahanorang lain, melainkan kecintaan akan kebenaran. Berpikir kritis mengajak kita untuk mempraktikkan “kerendahan hati intelektual”—kemampuan untuk mengakui bahwa kita bisa saja salah dan orang lain memiliki perspektif yang valid.
Bagaimana Memulainya?
untuk Mengembangkan kemampuan berpikir kritis perlu proses dan waktu yang panjang dimulai dengan membaca buku yang membahas soal metode berpikir (logika) dan lainnya. Namun ada beberapa metode yang Cukup untuk mengembangkan pikiran kritis kita, Yaitu dengan membiasakan tiga langkah sederhana dalam setiap konsumsi informasi:
Skeptisisme Sehat: skeptisisme ini adalah salah satu metode berpikir dalam filsafat yaitu metode meragukan sesuatu tetapi tidak seacara mutlak. Jangan langsung percaya. Tanyakan sumbernya. Apakah sarana tersebut dapat dipercaya?
Identifikasi Bias: Apakah saya menyukai informasi ini karena benar, atau hanya karena ini mendukung kebencian atau kesukaan saya terhadap sesuatu?
Cari Sudut Pandang Lain: Apa yang dikatakan oleh pihak “seberang” mengenai isu ini?
Kesimpulan
Berpikir kritis di zaman sekarang bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan. Di dunia yang dipenuhi oleh kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi, kemampuan unik manusia untuk menganalisis secara mendalam, berempati secara cerdas, dan meragukan secara konstruktif adalah nilai tawar yang tak tergantikan, seperti kata Rene Descartes “Cogito ergo sum” aku berpikir maka aku ada, kutipan ini menegaskan bahwa berpikir adalah tolak ukur keberadaan seseorang sebagai makhluk yang berakal.
Jadi tanpa berpikir kritis, kita hanya akan menjadi pion dalam permainan besar algoritma. Dengan berpikir kritis, kita kembali menjadi manusia yang utuh—manusia yang tidak hanya bisa membaca, tetapi juga memahami; tidak hanya bisa melihat, tetapi juga mengamati; dan tidak hanya bisa hidup, tetapi juga berdaya. seperti yang dikatakan oleh Aristoteles “bahwa manusia adalah binatang yang rasional” MAN IS AN ANIMAL RATIONAL.
FIAT LUX IN TENEBRIS
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































