Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perspektif Al-Qur’an dan Hadits mengenai pembentukan akhlak sosial dalam kehidupan masyarakat modern serta relevansinya terhadap penguatan nilai-nilai Pancasila. Permasalahan utama dalam penelitian ini berkaitan dengan menurunnya kualitas akhlak sosial, seperti individualisme, melemahnya kepedulian, dan meningkatnya ujaran kebencian, yang berdampak pada kohesi sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan melalui penelaahan sumber primer berupa Al-Qur’an, kitab tafsir, dan kumpulan hadits, serta sumber sekunder berupa buku dan jurnal ilmiah terkait tema akhlak sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an dan Hadits memberikan pedoman komprehensif tentang akhlak sosial yang mencakup nilai keadilan, persaudaraan, empati, musyawarah, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut memiliki keselarasan dengan prinsip Pancasila, terutama sila kedua, ketiga, dan kelima. Relevansi ajaran Islam tampak jelas dalam menjawab tantangan moral era modern, termasuk dalam pembentukan karakter di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan ruang digital. Temuan ini menegaskan bahwa internalisasi nilai-nilai akhlak sosial berbasis Al-Qur’an dan Hadits dapat menjadi fondasi penting untuk membangun masyarakat yang beradab, harmonis, serta selaras dengan tujuan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa.
Kata Kunci: Akhlak Sosial, Al-Qur’an, Hadits, Nilai Pancasila, Karakter,
PENDAHULUAN
Perkembangan masyarakat modern saat ini menghadapi berbagai tantangan moral yang semakin kompleks. Fenomena seperti menurunnya kepedulian sosial, meningkatnya individualisme, maraknya ujaran kebencian di media digital, serta melemahnya rasa saling menghormati menjadi indikator terjadinya degradasi akhlak sosial di tengah masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan modernisasi tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas moral masyarakat. Penelitian menunjukkan bahwa perubahan sosial yang cepat sering kali memengaruhi pola interaksi dan nilai moral generasi muda sehingga terjadi pergeseran akhlak sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks demikian, merujuk kembali kepada ajaran Al-Qur’an dan Hadits menjadi sangat penting sebagai sumber utama nilai etis dan pedoman pembentukan karakter sosial. Al-Qur’an tidak hanya berbicara mengenai aspek teologis, tetapi juga memberikan tuntunan komprehensif terkait etika bermasyarakat, seperti perintah berlaku adil, menghormati sesama, menebarkan kebaikan, serta menjauhi perilaku merugikan orang lain. Hal yang sama juga dijelaskan dalam berbagai hadits Nabi yang menekankan pentingnya akhlak baik dalam interaksi sosial sebagai indikator keimanan seseorang. Menurut penelitian, nilai-nilai akhlak sosial dalam Al-Qur’an dan Hadits memiliki relevansi kuat dalam membentuk karakter yang mampu beradaptasi dengan tantangan kehidupan modern (Anshory et al., 2025).
Selain itu, pembahasan mengenai akhlak sosial memiliki keterkaitan erat dengan pendidikan, hubungan bermasyarakat, dan pembentukan karakter generasi muda. Dalam dunia pendidikan, penguatan nilai akhlak sosial merupakan bagian penting dari pembangunan karakter peserta didik. Hal ini sejalan dengan temuan, bahwa integrasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam pembelajaran mampu meningkatkan akhlak sosial peserta didik secara signifikan (Kusnadi et al., 2025).
Permasalahan-permasalahan tersebut menegaskan urgensi penelitian ini. Adapun rumusan masalah pada penelitian ini meliputi tiga hal utama, yaitu: bagaimana konsep akhlak sosial dalam Al-Qur’an dan Hadits, bagaimana relevansi konsep tersebut dalam kehidupan masyarakat modern, serta nilai-nilai akhlak sosial apa yang paling urgen diterapkan pada era saat ini. Rumusan masalah tersebut disusun untuk memperjelas fokus kajian serta memastikan bahwa penelitian memberikan kontribusi yang nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam kajian Al-Qur’an dan Hadits yang dikaitkan dengan konteks sosial-kemasyarakatan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan konsep akhlak sosial dalam Al-Qur’an dan Hadits, menganalisis relevansinya terhadap kehidupan modern, serta memberikan gambaran mengenai implementasi akhlak sosial dalam masyarakat kontemporer. Dengan demikian, penelitian ini memiliki kontribusi dalam memperkaya kajian keislaman terutama dalam bidang etika sosial. Selain itu, penelitian ini juga memberikan manfaat praktis bagi pendidik, masyarakat, dan pembuat kebijakan dalam merumuskan strategi pembinaan moral yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Penelitian ini mengisi celah kajian sebelumnya dengan memberikan analisis yang lebih terfokus pada relevansi nilai akhlak sosial dalam menghadapi dinamika masyarakat modern yang semakin kompleks. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik dan praktis dalam pengembangan studi Al-Qur’an dan Hadits serta aplikasinya dalam kehidupan sosial.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research). Pendekatan kualitatif dipilih karena tujuan penelitian adalah untuk memahami secara mendalam konsep akhlak sosial menurut Al-Qur’an dan Hadits serta relevansinya dalam konteks masyarakat modern, bukan untuk mengukur variabel secara kuantitatif. Studi kepustakaan memungkinkan peneliti menelaah dan mensintesis bahan-bahan teks primer (Al-Qur’an, kitab tafsir, kumpulan hadits) dan literatur sekunder (artikel jurnal, buku, dan publikasi ilmiah) yang relevan dengan topik penelitian. Secara metodologis, pendekatan studi pustaka ini banyak ditempuh dalam kajian keagamaan dan pendidikan akhlak karena sumber rujukan utama berupa teks tertulis dan tafsir yang memerlukan kajian tekstual dan kontekstual (Saefullah, 2024).
Sumber data penelitian dibagi menjadi sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer meliputi Al-Qur’an serta literatur tafsir terpilih (Tafsir Ibn Kathir, Tafsir al-Misbah, Tafsir al-Maraghi) dan kumpulan hadits shahih yang digunakan sebagai rujukan teks utama untuk mengekstrak nilai-nilai akhlak sosial. Sumber sekunder terdiri dari artikel jurnal nasional, buku akademik, tesis/skripsi, dan publikasi ilmiah yang membahas pendidikan akhlak, akhlak sosial, serta aplikasi nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits di era kontemporer. Pemilihan sumber sekunder menitikberatkan pada publikasi dalam 10 tahun terakhir untuk memastikan relevansi konteks dan perkembangan kajian terbaru. Beberapa studi empiris dan kajian kepustakaan yang membahas pendidikan akhlak dan analisis isi pada ranah keagamaan dijadikan acuan dalam menyusun landasan teori dan pendekatan analitis (Suraya, n.d.).
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi dan kajian literatur. Dokumentasi berfokus pada pengumpulan kutipan ayat dan hadits yang relevan dengan tema akhlak sosial, termasuk keterangan konteks singkat (asbab al-nuzul atau sanad/riwayat hadits bila diperlukan). Kajian literatur dilakukan dengan langkah sistematis: identifikasi kata kunci (“akhlak sosial”, “pembentukan akhlak”, “Al-Qur’an dan Hadits”), penelusuran basis data jurnal nasional dan repositori institusi, seleksi literatur berdasarkan relevansi topik dan rentang waktu 2015–2025, serta pencatatan metadata sumber (penulis, tahun, judul, penerbit/doi). Proses ini mengikuti praktik umum studi kepustakaan yang direkomendasikan dalam penelitian kualitatif berbasis teks.
Untuk teknik analisis data, penelitian ini menggunakan analisis isi (content analysis) secara kualitatif. Analisis isi dipilih karena cocok untuk menafsirkan makna teks-teks keagamaan dan mengidentifikasi tema-tema nilai akhlak sosial yang berulang dalam Al-Qur’an, tafsir, dan hadits serta korelasinya dengan isu-isu sosial kontemporer (mis. individualisme, konflik sosial, etika bermedia sosial). Dengan cara ini, interpretasi tematik terhadap ayat dan hadits diharapkan tidak bersifat sekadar pengutipan literal, melainkan dikontekstualisasikan dan dikaitkan secara argumentatif dengan problematika sosial kontemporer yang dibahas dalam tulisan ini. Untuk pedoman praktis tentang prosedur studi pustaka dan analisis isi yang digunakan, peneliti merujuk pada literatur metodologis dan contoh-contoh kajian kepustakaan di bidang pendidikan agama dan akhlak (Andriyan, 2019).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Konsep Akhlak Sosial dalam Al-Qur’an
Hasil analisis terhadap literatur menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberikan perhatian besar terhadap pembentukan akhlak sosial sebagai fondasi kehidupan masyarakat. Salah satu ayat yang menjadi landasan utama adalah QS. Al-Hujurat ayat 10–12. Allah berfirman:
اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ اِخۡوَةٌ فَاَصۡلِحُوۡا بَيۡنَ اَخَوَيۡكُمۡوَ اتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ١٠ يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٌ مِّنۡ قَوۡمٍ عَسٰٓى اَنۡ يَّكُوۡنُوۡا خَيۡرًا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٌ مِّنۡ نِّسَآءٍ عَسٰٓى اَنۡ يَّكُنَّ خَيۡرًا مِّنۡهُنَّۚ وَلَا تَلۡمِزُوۡۤا اَنۡفُسَكُمۡ وَلَا تَنَابَزُوۡا بِالۡاَلۡقَابِؕ بِئۡسَ الِاسۡمُ الۡفُسُوۡقُ بَعۡدَ الۡاِيۡمَانِ ۚ وَمَنۡ لَّمۡ يَتُبۡ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ١١ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اجۡتَنِبُوۡا كَثِيۡرًا مِّنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعۡضَ الظَّنِّ اِثۡمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوۡا وَلَا يَغۡتَبْ بَّعۡضُكُمۡ بَعۡضًا ؕ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمۡ اَنۡ يَّاۡكُلَ لَحۡمَ اَخِيۡهِ مَيۡتًا فَكَرِهۡتُمُوۡهُ ؕ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ؕ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيۡمٌ ١٢
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (Q.S Al-Hujurat: 10-12).
Ayat ini menekankan nilai ukhuwah, larangan suudzon, gibah, dan perilaku diskriminatif, yang semuanya merupakan pilar penting dalam akhlak sosial, ayat tersebut menjadi dasar etika sosial Islam untuk membangun masyarakat harmonis bebas konflik. Selain itu, QS. Ali-Imran ayat 159 juga menjadi rujukan penting mengenai kelembutan dan etika komunikasi sosial. Allah berfirman:
فَبِمَا رَحۡمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنۡتَ لَهُمۡۚ وَلَوۡ كُنۡتَ فَظًّا غَلِيۡظَ الۡقَلۡبِ لَانْفَضُّوۡا مِنۡ حَوۡلِكَ فَاعۡفُ عَنۡهُمۡ وَاسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِى الۡاَمۡرِۚ فَاِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِؕ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الۡمُتَوَكِّلِيۡنَ ١٥٩
Artinya: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.1 Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (Q.S Ali Imran: 159).
Ayat ini menunjukkan bahwa sikap lembut, pemaaf, dan musyawarah adalah nilai esensial dalam membangun relasi sosial, musyawarah adalah bentuk interaksi sosial beradab dalam perspektif Islam. Ayat lainnya yang relevan adalah QS. An-Nahl ayat 90. Allah berfirman:
۞ اِنَّ اللّٰهَ يَاۡمُرُ بِالۡعَدۡلِ وَالۡاِحۡسَانِ وَاِيۡتَآىِٕ ذِى الۡقُرۡبٰى وَيَنۡهٰى عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَالۡمُنۡكَرِ وَالۡبَغۡىِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُوۡنَ ٩٠
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Q.S. An-Nahl: 90).
Ayat ini dianggap sebagai ayat yang merangkum prinsip besar akhlak sosial seperti keadilan, kesantunan, dan penebaran kebaikan.
Secara umum, hasil temuan menunjukkan bahwa Al-Qur’an menegaskan empat prinsip pokok akhlak sosial, yaitu keadilan, persaudaraan, kesantunan sosial, serta empati dan solidaritas. Prinsip ini juga diperkuat oleh kajian kontemporer yang menghubungkannya dengan kebutuhan masyarakat modern untuk membangun tatanan sosial yang humanis dan berkeadaban.
Konsep Akhlak Sosial dalam Hadits
Pembahasan terhadap hadits menunjukkan bahwa Rasulullah SAW menjadi teladan utama dalam pembentukan akhlak sosial melalui berbagai ajaran dan perilakunya. Salah satu hadits yang menekankan pentingnya akhlak sosial adalah sabda Nabi:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Artinya: ““Seorang muslim ialah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (H.R Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa tidak menyakiti sesama adalah prinsip dasar interaksi sosial. Hadits tersebut menjadi fondasi untuk membangun masyarakat yang damai dan bebas kekerasan. Hadits lainnya adalah perintah saling membantu:
مَنْ فَرَّجَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Artinya: “Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) suatu kesulitan dari seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan meringankan darinya satu kesulitan dari kesulitan pada hari kiamat.” (H.R Muslim)
Hadits ini menunjukkan kuatnya konsep solidaritas dalam Islam, yang sangat relevan dalam kehidupan masyarakat modern yang semakin kompetitif. Nilai tolong-menolong merupakan instrumen penting dalam menciptakan kesejahteraan sosial. Rasulullah juga menekankan pentingnya akhlak sosial melalui sabdanya:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ
Artinya: “Senyummu di wajah saudaramu adalah sedekah.”
Hadits ini mengajarkan kesantunan, keramahan, dan etika sosial sederhana namun berdampak besar. Akhlak sosial mulai dari tindakan kecil seperti senyum mampu mempengaruhi keharmonisan sosial. Analisis pustaka menunjukkan bahwa seluruh hadits tersebut memiliki kesesuaian kuat dengan nilai-nilai akhlak sosial yang diajarkan dalam Al-Qur’an, menunjukkan konsistensi antara dua sumber utama ajaran Islam.
Relevansi Ajaran Al-Qur’an dan Hadits bagi Masyarakat Modern
Hasil kajian menemukan bahwa ajaran akhlak sosial dalam Al-Qur’an dan Hadits sangat relevan untuk menjawab tantangan modern seperti individualisme, hedonisme, meningkatnya konflik sosial, hingga penyebaran ujaran kebencian di media sosial. Individualisme modern telah melemahkan solidaritas sosial sehingga nilai ukhuwah dalam Islam menjadi solusi signifikan. Nilai keadilan, empati, penghormatan, dan kerja sama yang ditekankan dalam Al-Qur’an dan Hadits mampu menjadi pedoman praktis dalam menyelesaikan problem sosial kontemporer. Dalam konteks pendidikan, pendidikan karakter berbasis nilai Al-Qur’an dan Hadits dianggap sangat penting untuk membentuk generasi yang berakhlak sosial baik. Internalisasi nilai Islam efektif dalam mengurangi perilaku sosial negatif pada remaja. Oleh karena itu, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa ajaran Islam bukan hanya memiliki nilai normatif, tetapi juga aplikatif untuk menjawab persoalan sosial masa kini.
Implementasi Akhlak Sosial dalam Kehidupan Kontemporer
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi akhlak sosial dapat diterapkan dalam berbagai dimensi kehidupan. Dalam keluarga, akhlak sosial dapat diwujudkan melalui komunikasi yang baik, saling menghargai, dan meneladani sikap Nabi dalam menyelesaikan konflik rumah tangga. Keluarga adalah ruang paling strategis dalam menanamkan akhlak sosial sejak dini. Dalam masyarakat, praktek akhlak sosial dapat ditunjukkan melalui budaya gotong royong, menjaga harmoni, serta menghindari pertikaian yang tidak bermanfaat. Nilai-nilai ini sesuai dengan tuntunan QS. Al-Hujurat tentang menjaga persaudaraan. Masyarakat yang menerapkan nilai ukhuwah memiliki tingkat konflik sosial lebih rendah. Dalam ruang digital, implementasi akhlak sosial sangat diperlukan untuk menjaga etika berkomunikasi di media sosial. Larangan gibah, fitnah, dan ujaran kebencian sebagaimana ditegaskan dalam Al-Hujurat: 12 menjadi pedoman penting dalam bermedsos. Literasi digital berbasis nilai Islam mampu menurunkan tingkat ujaran kebencian di kalangan remaja. Terakhir, lembaga pendidikan dan tokoh agama memiliki peran besar dalam pembinaan akhlak sosial. Melalui pengajaran, pembiasaan, dan teladan, nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits dapat diinternalisasikan secara berkelanjutan dalam kehidupan masyarakat.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an dan Hadits memberikan konsep akhlak sosial yang komprehensif sebagai pedoman hidup bermasyarakat, karena keduanya memuat prinsip dasar seperti keadilan, empati, kepedulian, serta sikap saling menghargai yang menjadi fondasi interaksi sosial yang baik. Ajaran tersebut terbukti relevan dan sangat diperlukan dalam menghadapi berbagai problem moral di era modern, seperti individualisme, konflik sosial, dan degradasi etika dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi nilai akhlak sosial dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam keluarga melalui pembiasaan perilaku santun, dalam lingkungan sekolah melalui pendidikan karakter, dalam masyarakat melalui budaya saling membantu, hingga dalam ruang digital melalui etika komunikasi yang bertanggung jawab. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pembentukan akhlak sosial berbasis nilai Islam merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang harmonis, beradab, dan mampu menghadapi tantangan sosial di masa kini.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































