Pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” digelar di PP Al Asas Kajen, Kabupaten Pati, pada Kamis malam (14/5/2026). Acara yang menarik perhatian warga setempat ini menghadirkan kisah masyarakat adat di Papua Selatan, khususnya suku Muyu, yang berupaya melestarikan tradisi Awon Atatbon di tengah ancaman perubahan lahan besar-besaran akibat Proyek Strategis Nasional (PSN).
Film yang digagas untuk mengangkat sudut pandang komunitas adat tersebut menyoroti dua masalah utama: ancaman pembukaan lahan pangan skala besar atau food estate, serta perkembangan industri bioenergi yang menggencarkan konversi lahan. Bagi masyarakat Muyu, pergeseran fungsi lahan ini bukan sekadar soal ekonomi, tetapi mengancam struktur sosial dan nilai-nilai budaya yang melekat pada ruang hidup mereka.
Pusat cerita dalam dokumenter ini adalah tradisi Awon Atatbon, sebuah ritual yang memosisikan babi sebagai simbol penting dalam kehidupan adat Muyu. Dalam tradisi tersebut, babi bukan hanya ternak untuk konsumsi; hewan itu menjadi perekat relasi sosial, medium penghormatan kepada leluhur, dan wujud praktik kebudayaan yang diwariskan turun-temurun. Judul “Pesta Babi” diambil dari gagasan bahwa upacara itu merupakan perayaan dan pengikat identitas komunitas.
Pemutaran di Pati juga menjadi ruang refleksi bagi penonton tentang bagaimana keputusan pembangunan besar skala nasional dapat berdampak jauh ke wilayah adat yang jauh dari pusat politik. Film ini menyajikan narasi personal dan dokumentasi lapangan yang menggambarkan tekanan hidup yang dirasakan masyarakat setempat: dari kehilangan akses atas lahan, perubahan mata pencaharian, hingga erosi praktik-praktik budaya.
Selain menampilkan aspek kerentanan budaya, dokumenter ini memuat pesan ajakan yang jelas: menjaga hak-hak masyarakat adat dan mengevaluasi dampak sosial-lingkungan dari proyek pembangunan sebelum keputusan skala besar diambil. Penonton di Pati diharapkan tidak hanya menyaksikan, tetapi juga merenungkan hubungan antara kebijakan pembangunan nasional dan hak-hak komunitas lokal.
Acara pemutaran yang berlangsung pada malam hari itu juga dimaksudkan sebagai sarana edukasi dan solidaritas. Dengan menghadirkan cerita dari Papua Selatan, penyelenggara berharap membangun empati lintas wilayah dan mendorong masyarakat di daerah lain untuk peduli serta mengambil bagian dalam diskusi tentang keberlanjutan dan keadilan sosial.
Dalam sesi tanya jawab pasca-pemutaran, beberapa penonton mengungkapkan keterkejutan sekaligus kekaguman atas kekayaan budaya yang diperlihatkan film. Mereka mengapresiasi upaya pembuat film dalam memberi ruang suara kepada masyarakat adat yang seringkali termarjinalkan dalam narasi pembangunan nasional.
Meskipun acara telah berlalu, pesan yang disampaikan “Pesta Babi” tetap relevan: pembangunan tidak boleh mengorbankan hak-hak budaya dan lingkungan komunitas adat. Film ini mengingatkan bahwa kebijakan besar perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kehidupan manusia dan warisan budaya yang tak ternilai harganya.
Penulis: Zaid Nidzom Alkindy
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer

































































