Lebak — Nama Siti Nur Awaliah, yang akrab disapa Awa, belakangan semakin dikenal di kalangan mahasiswa dan aktivis kepemudaan di Kabupaten Lebak, Banten. Perempuan muda ini tercatat aktif sebagai anggota Forum Komunikasi Remaja Masjid Lebak dan kini dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Presiden Mahasiswa di STAI Wasilatul Falah Rangkasbitung.
Perjalanan Awa tidak dibangun dalam semalam. Ia memulai kiprahnya dari kegiatan-kegiatan keagamaan dan sosial yang digagas remaja masjid. Konsistensinya dalam membangun komunikasi, mengelola kegiatan, serta menjaga relasi lintas komunitas membuat namanya diperhitungkan, meski ia bukan tipe yang gemar tampil di depan.
Sebagai bagian dari Forum Komunikasi Remaja Masjid Lebak, Awa terlibat dalam berbagai agenda pembinaan remaja, penguatan literasi keislaman, hingga kegiatan sosial berbasis masyarakat. Rekan-rekannya menilai Awa sebagai figur pekerja senyap—lebih banyak bekerja daripada berbicara.
Karakter pendiam dan sikap “tidak enakan” yang melekat padanya justru menjadi kekuatan tersendiri. Dalam dinamika organisasi yang sering kali keras dan penuh perdebatan, Awa hadir dengan pendekatan persuasif. Ia dikenal tidak mudah menyakiti orang lain dalam mengambil keputusan, tetapi tetap tegas ketika menyangkut prinsip.
Kepercayaan mahasiswa terhadapnya terbukti saat ia terpilih sebagai Wakil Presiden Mahasiswa di STAI Wasilatul Falah Rangkasbitung. Dalam struktur kepemimpinan kampus, Awa berperan mendampingi presiden mahasiswa yaitu Imas Vira dalam merumuskan kebijakan organisasi, mengawal aspirasi mahasiswa, serta memastikan program kerja berjalan efektif.
Dalam sejumlah kesempatan, Awa menyampaikan komitmennya untuk menghadirkan kepemimpinan yang inklusif dan responsif. “Mahasiswa tidak hanya butuh program, tetapi juga ruang untuk didengar,” ujarnya dalam sebuah forum diskusi internal kampus.
Ketua Umum PP FKRML, Hasan Komarudin, menilai, tipikal kepemimpinan seperti Awa mencerminkan perubahan pola kepemimpinan generasi muda saat ini—lebih kolaboratif, adaptif, dan tidak selalu identik dengan gaya konfrontatif.
Di tengah arus dinamika kampus dan tantangan generasi muda, sosok Awa menjadi contoh bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari mereka yang paling lantang. Ada kalanya, kekuatan justru tumbuh dari ketenangan, empati, dan konsistensi kerja.
Dengan rekam jejaknya di organisasi keagamaan dan kemahasiswaan, Awa dinilai memiliki potensi besar untuk terus berkembang di ranah sosial dan kepemudaan. Lebak membutuhkan lebih banyak figur muda yang bekerja dalam diam, tetapi berdampak nyata.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































