Pada tanggal 26 Maret 2026, suasana libur Lebaran yang identik dengan tradisi silaturahmi dan perjalanan pulang kampung dimaknai secara berbeda oleh komunitas Venezia Membaca. Alih-alih sekadar menikmati waktu luang, komunitas ini justru menginisiasi sebuah kegiatan bertajuk Safari Literasi, sebuah program kunjungan ke ruang-ruang baca alternatif yang memiliki peran penting dalam membangun ekosistem literasi di tingkat akar rumput. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kunjungan biasa, melainkan juga momentum untuk membangun jejaring, bertukar gagasan, serta memperkuat semangat literasi di tengah masyarakat.

Perjalanan Safari Literasi ini diawali dengan kunjungan ke Toko Bukuditeras, sebuah toko buku independen yang terletak di kawasan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kota Depok. Lokasinya yang berada di dalam lingkungan perumahan, tepatnya di Komplek Green Value A5, Gg. Sawo, memberikan kesan yang berbeda dibandingkan toko buku pada umumnya. Tidak berada di pusat keramaian komersial, Bukuditeras justru hadir sebagai ruang alternatif yang intim, tenang, dan penuh kehangatan, seolah mengundang siapa saja untuk datang tidak hanya membeli buku, tetapi juga merasakan pengalaman membaca yang lebih personal.

Sejak pertama kali memasuki area toko, kesan yang muncul adalah keakraban dan kenyamanan. Interior yang dirancang dengan nuansa rumah tinggal menghadirkan suasana yang hangat dan tidak berjarak. Rak-rak buku tertata rapi dengan koleksi yang beragam, mulai dari buku lokal hingga impor, termasuk pula buku-buku preloved yang masih layak baca. Keberagaman koleksi ini menunjukkan bahwa Bukuditeras tidak hanya berfungsi sebagai ruang distribusi buku, tetapi juga sebagai kurator kecil yang menghadirkan pilihan bacaan yang bernilai dan relevan bagi pembacanya.

Lebih dari sekadar toko buku, Bukuditeras juga berfungsi sebagai ruang diskusi dan interaksi. Terdapat sudut-sudut tertentu yang didesain untuk menjadi tempat berbincang santai mengenai buku, sastra, maupun isu-isu yang lebih luas. Hal ini menjadikan Bukuditeras sebagai ruang hidup, di mana literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi juga berkembang menjadi dialog dan pertukaran ide. Dalam konteks ini, keberadaan toko buku independen seperti Bukuditeras menjadi sangat penting, terutama di tengah arus digitalisasi yang sering kali menggeser budaya membaca konvensional.

Kunjungan Venezia Membaca kali ini juga menjadi lebih bermakna karena berkesempatan untuk bertemu langsung dengan sosok di balik Bukuditeras, yaitu Kak Muthia, yang merupakan pencetus sekaligus pengelola toko buku tersebut. Bersama dengan Kak Icha, yang turut berperan sebagai partner sekaligus penjaga toko, mereka berdua menjadi representasi dari semangat literasi yang dijalankan secara konsisten dan penuh dedikasi. Kehangatan sambutan yang diberikan kepada para pengunjung menjadi cerminan bahwa Bukuditeras tidak hanya menjual buku, tetapi juga membangun relasi.

Dalam kunjungan tersebut, empat anggota Venezia Membaca, yakni Yoga, M. Aulia, Eka Fadiya, dan Febry Atmaja, berkesempatan untuk berbincang langsung dengan Kak Muthia. Percakapan berlangsung dalam suasana santai, ditemani oleh hidangan ringan khas Lebaran yang semakin mempererat suasana kekeluargaan. Diskusi yang terbangun tidak terbatas pada topik buku semata, melainkan juga mencakup berbagai hal, mulai dari kegiatan dan visi Venezia Membaca, hingga pembahasan mengenai sejarah dan perkembangan novel sebagai bentuk karya sastra. Interaksi semacam ini menjadi bukti bahwa literasi adalah ruang yang luas, yang mampu menghubungkan berbagai perspektif dan pengalaman.

Selain berfungsi sebagai toko buku, Bukuditeras juga sesekali menerbitkan buku secara independen. Hal ini menunjukkan bahwa peran mereka tidak hanya sebagai distributor, tetapi juga sebagai produsen pengetahuan. Dalam konteks literasi Indonesia, upaya seperti ini memiliki arti penting, karena membuka ruang bagi karya-karya alternatif yang mungkin tidak terakomodasi oleh penerbit besar. Dengan demikian, Bukuditeras menjadi bagian dari gerakan literasi yang lebih luas, yang berupaya menjaga keberagaman suara dalam dunia perbukuan.

Setelah menyelesaikan kunjungan di Bukuditeras, perjalanan Safari Literasi dilanjutkan ke lokasi kedua, yaitu Taman Baca Kampung Buku yang terletak di kawasan Cibubur, Kecamatan Ciracas, Kota Jakarta Timur, tepatnya di Jalan Rukun RT 15 RW 05, Jl. Abdulrahman. Berbeda dengan Bukuditeras yang berbentuk toko buku independen, Kampung Buku hadir sebagai ruang literasi berbasis komunitas yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

Kunjungan ke Kampung Buku menjadi pengalaman yang tidak kalah berkesan. Di tempat ini, Venezia Membaca berkesempatan untuk bertemu langsung dengan Edi Dimyati, sosok penginisiasi sekaligus penggerak utama dari Taman Baca Kampung Buku. Kehadiran beliau menjadi bukti nyata bahwa gerakan literasi dapat dimulai dari individu yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan dan budaya membaca.

Dalam pertemuan tersebut, suasana akrab kembali terbangun melalui percakapan yang hangat dan penuh makna. Edi Dimyati kemudian memperkenalkan sejarah berdirinya Kampung Buku, yang telah ada sejak tahun 2010. Salah satu momen menarik dalam kunjungan ini adalah ketika para peserta diajak untuk melihat album dokumentasi perjalanan Kampung Buku dari masa ke masa. Album tersebut tidak hanya berisi foto-foto, tetapi juga merekam jejak perjuangan dan perkembangan sebuah ruang literasi yang tumbuh secara organik di tengah masyarakat.

Kegiatan berlanjut dengan tur berkeliling area Kampung Buku. Para peserta diajak untuk melihat langsung berbagai koleksi buku yang tersedia, yang jumlahnya mencapai sekitar 4.500 buku. Koleksi ini mencakup berbagai jenis bacaan, mulai dari buku anak-anak hingga buku pengetahuan umum, yang semuanya disediakan untuk mendukung kegiatan membaca masyarakat sekitar. Keberadaan koleksi yang cukup besar ini menunjukkan komitmen Kampung Buku dalam menyediakan akses literasi yang luas bagi masyarakat.

Tidak hanya dari segi koleksi, suasana fisik Kampung Buku juga memberikan kesan yang mendalam. Lingkungan yang nyaman, terbuka, dan ramah menjadikan tempat ini sebagai ruang belajar sekaligus ruang bermain bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Dalam konteks ini, Kampung Buku tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang sosial yang memperkuat interaksi dan kebersamaan.

Secara keseluruhan, kegiatan Safari Literasi yang dilakukan oleh Venezia Membaca pada tanggal 26 Maret 2026 ini menjadi contoh nyata bagaimana literasi dapat dihidupkan melalui interaksi langsung dengan ruang-ruang baca alternatif. Kunjungan ke Bukuditeras dan Kampung Buku tidak hanya memberikan pengalaman baru, tetapi juga memperluas perspektif mengenai berbagai bentuk gerakan literasi yang ada di masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Venezia Membaca tidak hanya berperan sebagai pengunjung, tetapi juga sebagai bagian dari jaringan literasi yang saling terhubung. Pertemuan dengan para pengelola ruang baca, diskusi yang terbangun, serta pengalaman yang diperoleh menjadi modal penting untuk terus mengembangkan program-program literasi di masa mendatang. Lebih dari itu, Safari Literasi ini juga menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai perubahan zaman, keberadaan ruang-ruang baca seperti Bukuditeras dan Kampung Buku tetap memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga budaya membaca.

Dengan demikian, Safari Literasi ini tidak hanya menjadi kegiatan sesaat dalam rangka mengisi libur Lebaran, tetapi juga menjadi langkah kecil yang memiliki makna besar dalam upaya membangun masyarakat yang lebih literat, kritis, dan terbuka terhadap pengetahuan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































