SUKOHARJO – Raut antusiasme terpancar dari puluhan wajah anak-anak saat meraba cetakan topeng berbahan dasar sampah kertas pada Sabtu (7/2/2026). Bertempat di Sanggar Inklusi Permata Hati, Polokarto, Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia secara resmi menggulirkan “Workshop I – Pengantar Lingkungan dan Seni Daur Ulang”. Kegiatan ini menjadi pembuka dari rangkaian panjang program pemajuan kebudayaan yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025.
Lokakarya perdana ini diikuti oleh 50 peserta yang terdiri dari anak-anak, remaja, serta penyandang disabilitas dari berbagai wilayah di Kabupaten Sukoharjo. Mengusung konsep ruang aman dan pendidikan keluarga, setiap peserta hadir dengan didampingi langsung oleh orang tua atau wali guna menciptakan ikatan emosional (bonding) melalui medium seni.
Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Santri Sahabat Bumi, M Ibnu Nafiudin, membawa pendekatan edukasi ekologi yang menyegarkan. Alih-alih dijejali teori lingkungan yang berat, ke-50 peserta diajak berimajinasi melalui metode storytelling (bercerita) yang interaktif dan ramah disabilitas.
Nafiudin menanamkan kesadaran bahwa tumpukan kertas bekas yang kerap mengotori lingkungan bisa mengancam kelestarian alam dan hewan-hewan di dalamnya jika tidak dikelola dengan baik. Namun, di tangan anak-anak yang kreatif, sampah tersebut justru bisa berubah menjadi mahakarya.
“Menjaga bumi itu bukan tugas orang dewasa saja, tapi tugas kita semua. Hari ini, melalui proses seni mendaur ulang kertas menjadi topeng karakter hewan Nusantara, adik-adik tidak hanya sedang bermain atau belajar kesenian. Lebih dari itu, kalian semua sedang bertugas menjadi ‘Pahlawan Bumi’ yang menyelamatkan lingkungan kita dari tumpukan sampah,” ujar Ibnu Nafiudin di hadapan para peserta.
Puncak antusiasme terjadi ketika 50 unit cetakan dasar (kanvas) topeng dan wayang limbah kertas hasil pra-produksi didistribusikan. Cetakan yang telah disiapkan khusus oleh tim artistik Omah Topeng Langdhawur ini dirancang sangat aman dan tidak tajam, sehingga ramah untuk dieksplorasi oleh kawan-kawan penyandang disabilitas.
Para peserta, didampingi oleh orang tua masing-masing, diajak untuk meraba tekstur topeng dan mengenali anatomi karakter fabel Jawa yang mereka pegang. Proses raba-tekstur ini menjadi stimulasi sensorik yang sangat krusial, terutama bagi peserta berkebutuhan khusus, untuk memahami bahwa material yang dulunya kotor kini telah bertransformasi menjadi bentuk yang kuat dan bernilai.
Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, yang turut mengawal jalannya acara, menyebutkan bahwa pelibatan orang tua pada lokakarya ini merupakan implementasi dari kurikulum pendidikan karakter yang telah disepakati konsorsium komunitas.
“Pada 30 menit terakhir lokakarya, kami memberikan panggung sepenuhnya kepada para ibu dan orang tua pendamping. Mereka bertugas membantu anak menceritakan kembali karakter hewan apa yang sedang mereka pegang. Interaksi ini sukses memantik komunikasi afektif yang luar biasa. Inilah esensi kebudayaan yang kami tuju; merawat bumi sekaligus merawat kehangatan keluarga,” jelas Fadhel.
Dengan berakhirnya Workshop I yang berjalan sukses dan kondusif, ke-50 peserta kini telah mengantongi bekal pemahaman ekologis yang kuat. Pada pertemuan lokakarya selanjutnya, anak-anak beserta pendampingnya ini akan mulai memasuki tahap eksplorasi warna guna menghidupkan karakter topeng fabel limbah kertas kebanggaan mereka.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer
































































