JAMBI – Isu kesehatan mental remaja perempuan kembali mendapat perhatian serius dari dunia akademik. Komunitas Grantha Dayatina, yang diinisiasi oleh mahasiswa Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Jambi, sukses menyelenggarakan program psikoedukasi bertajuk “Ruang Rasa & REFLECTA: Rasakan, Pahami, dan Tumbuh” di SMA Negeri 12 Kota Jambi, pada tanggal 22 dan 26 Mei 2026. Program ini hadir sebagai respons nyata atas permasalahan yang kerap dialami remaja putri, yakni rendahnya self-esteem akibat body image negatif.
Lima mahasiswa yang tergabung dalam Grantha Dayatina, yaitu Putu Arya Prananda Putra, Rahmayani Puspitasari, Nurul Maysaroh, Manuellah Zara Klista, dan Oby Marlond, turun langsung ke lapangan membawa misi perubahan. Mereka tidak sekadar menyampaikan materi satu arah, melainkan menghadirkan pendekatan psikologis yang hangat, kreatif, dan mudah diterima oleh para siswi.
Berawal dari Kegelisahan Nyata di Lingkungan Sekolah
Sebelum program dilaksanakan, tim Grantha Dayatina melakukan asesmen awal melalui wawancara bersama guru Bimbingan Konseling (BK) SMAN 12 Kota Jambi. Hasilnya cukup mengejutkan. Sebagian siswi terbiasa membandingkan diri dengan orang lain namun memilih memendam perasaan tersebut. Beberapa di antaranya mengungkapkan ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh, berat badan, hingga warna kulit, yang berdampak langsung pada kepercayaan diri mereka sehari-hari.
Temuan ini sejalan dengan data riset sebelumnya yang menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan diri remaja umumnya berada pada kategori sedang hingga rendah. Kondisi inilah yang mendorong Grantha Dayatina untuk merancang program intervensi yang tidak hanya edukatif, tetapi juga empatik dan memberdayakan.
Day 1 Ruang Rasa: Memahami Sebelum Berubah
Hari pertama, Kamis 22 Mei 2026, berlangsung di Laboratorium Biologi SMAN 12 Kota Jambi dan diikuti oleh 22 siswi. Kegiatan dibuka oleh MC Nurul Maysaroh, dilanjutkan kata sambutan dari Ketua Komunitas Putu Arya Prananda Putra serta perwakilan sekolah, Ibu Desi selaku guru BK.

Jantung dari sesi ini adalah pemaparan materi oleh pemateri tamu, Ibu Ayu Ulivia, M.Pd., yang membawakan tema seputar body image dan self-esteem secara interaktif. Para siswi diajak memahami bagaimana standar kecantikan di media sosial dapat membentuk persepsi negatif terhadap diri sendiri, dan bagaimana cara membangun pola pikir yang lebih sehat.
“Jawaban dari pemateri memberikan pandangan baru kepada setiap peserta, bahwasanya kita harus mencintai diri terlebih dahulu, percaya bahwa setiap bagian tubuh memiliki fungsinya tersendiri, dan mampu menilai diri secara positif,” tutur salah satu peserta di sesi diskusi yang berlangsung antusias.
Sebelum materi disampaikan, seluruh peserta mengisi pre-test untuk mengukur pemahaman awal mereka mengenai konsep body image dan self-esteem.
Day 2 REFLECTA: Mengenal, Merasakan, dan Bertumbuh
Empat hari berselang, pada Selasa 26 Mei 2026, program dilanjutkan dengan sesi REFLECTA (Recognizing Emotions, Fostering Love, Exploring Character, Transforming Aspirations). Berbeda dari hari pertama yang bersifat edukatif, sesi ini dirancang sebagai ruang refleksi diri yang mendalam namun tetap hangat dan menyenangkan.

Sesi pertama adalah HappyJou, kegiatan journaling kreatif di mana setiap peserta diberikan kertas samson, spidol warna, dan stiker. Mereka diminta menggambarkan hal-hal yang disyukuri dari tubuhnya, menuliskan pengalaman terkait penampilan yang pernah dilalui, hingga merangkai afirmasi positif untuk diri sendiri.
Setelah itu, peserta dibagi ke dalam kelompok kecil untuk mengikuti sesi Heartspace, sebuah diskusi terarah yang difasilitasi pertanyaan-pertanyaan reflektif. Di sinilah suasana menjadi sangat mengharukan. Berbagai cerita bermunculan: dari pengalaman mendapat komentar negatif soal penampilan dari orang terdekat, perasaan tidak percaya diri yang lama dipendam, hingga kesadaran akan kelebihan diri yang selama ini terabaikan. Beberapa peserta bahkan meneteskan air mata, yang disambut dengan pelukan hangat dan dukungan dari teman sekelompok.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi Pohon Harapan, di mana setiap siswi menuliskan impian dan harapannya di sticky note lalu menempelkannya pada papan visual berbentuk pohon harapan. Sebuah penutup yang simbolik: dari pohon yang disiram dengan keberanian dan penerimaan diri, tumbuhlah generasi yang percaya pada nilainya sendiri.
Hasil Nyata: Separuh Peserta Menunjukkan Peningkatan
Berdasarkan hasil pre-test dan post-test yang diberikan kepada 22 siswi, 12 peserta menunjukkan peningkatan skor dalam memahami konsep body image positif dan cara meningkatkan self-esteem. Peningkatan paling signifikan terjadi pada peserta dengan inisial AZN yang naik 5 poin, dan CS yang naik 3 poin keduanya adalah peserta dengan skor awal yang rendah.
Tujuh siswi lainnya mempertahankan skor yang stabil, mengindikasikan bahwa mereka sudah memiliki pemahaman yang baik sejak awal. Sementara 3 siswi mengalami penurunan skor yang menjadi bahan evaluasi bagi tim untuk menyempurnakan metode penyampaian pada program berikutnya.
Apresiasi dari Dunia Akademik
Program ini mendapat dukungan penuh dari dosen pembimbing, salah satunya Rion Nofrianda, M.Psi., Psikolog, yang menegaskan pentingnya ilmu psikologi yang hidup dan berdampak nyata di masyarakat.
Melalui kesan dan pesan yang dituliskan peserta di sticky note, antusiasme mereka tergambar jelas. “Seru, jadi lebih tenang, gak mau ini berakhir,” tulis salah seorang siswi. Yang lain menuliskan, “Dengan kegiatan ini saya belajar bahwa mengenal diri sendiri itu penting.”
Respons-respons ini menjadi bukti bahwa program psikoedukasi yang dikemas dengan hangat, reflektif, dan partisipatif mampu menyentuh lapisan terdalam dari kebutuhan emosional remaja perempuan.
Grantha Dayatina: Wadah Pemberdayaan Perempuan
Komunitas Grantha Dayatina berdiri sejak 2023 dengan visi menjadi media dan ruang aman bagi perempuan yang menghadapi permasalahan psikologis ringan. Nama Grantha diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti ikatan, Daya dari kata pemberdayaan, dan Tina dari bahasa Melayu Jambi yang berarti perempuan.
Sebelumnya, komunitas ini telah menyasar warga binaan pemasyarakatan (2023) dan siswi MAN 2 Kota Jambi (2024). Program di SMAN 12 Kota Jambi menjadi langkah ketiga mereka dalam membuktikan bahwa kepedulian terhadap kesehatan mental perempuan bisa tumbuh subur dari lingkungan kampus, menyebar ke masyarakat luas.
Melalui gerakan kecil namun bermakna ini, Grantha Dayatina membuktikan bahwa cinta diri bukan sekadar slogan, tetapi ia adalah keterampilan yang bisa dipelajari, dipraktikkan, dan disebarkan.
Untuk informasi lebih lanjut tentang kegiatan kampanye edukasi kesehatan mental komunitas di SMAN 12 Kota Jambi bisa dilihat di Instagram @grantha.dayatina
Oleh:
1. Putu Arya Prananda Putra
2. Oby Marlond
3. Rahmayani Puspitasari
4. Nurum Maysaroh
5. Manuella Zara Klista
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































