Angka ketenagakerjaan di Indonesia akhir-akhir ini teramat memprihatinkan. Pasalnya, data ketenagakerjaan menunjukkan bahwa sektor informal masih mendominasi struktur ekonomi masyarakat Indonesia, sebesar 59,17% atau setara 84,13 juta orang di tingkat nasional. Di DIY sendiri, terdapat sekitar 1,15 juta jiwa lebih dari separuh angkatan kerja yang menggantungkan hidupnya pada sektor informal sebagai pekerja paruh waktu atau pelaku usaha mandiri kecil. Mereka adalah para penyedia jasa harian, teknisi panggilan, hingga pekerja domestik yang sering kali tidak terlihat oleh derasnya arus digitalisasi pasar.
Melihat langsung bagaimana para pekerja keras ini berjuang tanpa kepastian pendapatan harian, dua anak muda inovatif, Nabielah Nihlatul Maula dan Muhammad Farrel Rizky Setiawan, merasa terpanggil untuk bertindak. Kegelisahan mendalam melihat kesenjangan antara masyarakat urban yang membutuhkan layanan jasa yang efisien dan serba cepat dengan para pekerja informal yang kesulitan mencari pelanggan menjadi latar belakang utama lahirnya platform Mitra Sigap.
“Mitra Sigap tidak dibangun hanya dari deretan kode pemrograman dan kalkulasi bisnis semata. Platform ini lahir dari empati, dari keluhan yang dirasakan bersama para pekerja terkait sepinya pesanan. Kami ingin teknologi menjadi jembatan yang memanusiakan manusia, memberikan mereka ruang tumbuh yang setara di era digital,” ungkap Nabielah Nihlatul Maula.

Perjalanan membangun Mitra Sigap dipenuhi dedikasi untuk menjaga identitas kelokalan Yogyakarta. Melalui integrasi fitur inovatif, platform ini berhasil menciptakan ekosistem sociopreneur hibrida melalui lima pilar utama diantaranya Lapak Digital Berbudaya yaitu Sebuah etalase virtual yang dikemas dengan visual kebudayaan lokal, menjaga kehangatan interaksi khas Yogyakarta agar tidak hilang oleh kakunya digitalisasi, Sistem Pemetaan GPS Real-Time untuk menghubungkan titik koordinat pengguna dengan sistem pelacakan berbasis lokasi guna memastikan pencarian mitra jasa terdekat berlangsung akurat, Layanan On-Demand Request yaitu fitur pemesanan responsif berdasarkan kebutuhan instan pengguna, mulai dari perawatan rumah, perbaikan darurat, hingga jasa harian, Fitur emergency yang berfungsi sebagai layanan prioritas bagi pengguna yang membutuhkan layanan dengan waktu yang cepat, dan Skema Tarif Adil dan Berkelanjutan dengan menetapkan biaya layanan yang sangat ramah di kantong, yaitu hanya Rp5.000 per transaksi, demi memastikan margin keuntungan terbesar tetap mengalir utuh ke dompet para mitra.
Model operasional hibrida ini bergerak di dua lini strategis sekaligus diantaranya Business-to-Business (B2B) melalui kolaborasi kemanusiaan bersama Balai Latihan Kerja (BLK), sekolah vokasi, dan komunitas lokal; serta Business-to-Consumer (B2C) untuk menjawab kebutuhan harian rumah tangga, mahamurid, dan masyarakat urban di DIY secara instan.
“Harapannya, dengan adanya Mitra Sigap ini mampu menjadi jembatan mitra lokal bisa berkembang dan terbranding. Kami berharap teman-teman diluar sana juga bisa termotivasi dan mampu berinovasi lebih baik lagi” ucap Farrel.
Dengan adanya Mitra Sigap, masyarakat yang memiliki usaha layanan jasa merasa terbantu terutama dalam memasarkan usaha mereka sehingga dapat dijangkau oleh masyarakat lebih luas.
Penulis: Nabielah Nihlatul Maula (Murid MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































