Setiap awal bulan Juni, otomatis ingatan kita langsung tertuju pada satu tanggal merah yang lumayan strategis: 1 Juni, Hari Lahir Pancasila. Buat kebanyakan orang, apalagi yang berstatus mahasiswa, hari libur nasional di pertengahan semester yang lagi padat-padatnya ini ibarat oase di tengah gurun pasir. Biasanya, momen ini cuma dirayakan dengan dua cara: tidur sampai siang untuk menebus jam tidur yang hilang akibat nugas dan revisian semalaman, atau sekadar formalitas upload foto pakai bingkai Twibbon bertuliskan “Saya Indonesia, Saya Pancasila” di Instagram Story. Setelah 24 jam, story hilang, hilang pula ingatan kita soal esensi Pancasila itu sendiri.
Sadar atau tidak, sejak duduk di bangku SD sampai sekarang menyandang gelar “maha” siswa alias agen perubahan, kita sering kali memperlakukan Pancasila cuma sebagai teks keramat. Sesuatu yang wajib dihafal mati saat upacara bendera hari Senin, tapi menguap begitu saja pas kita melangkah keluar gerbang. Padahal, kalau kita mau membedah lebih dalam pakai kacamata realita anak muda zaman now, lima sila dalam Pancasila itu sebenarnya adalah life hack alias panduan bertahan hidup yang paling masuk akal buat ngadepin kacaunya dinamika sosial, drama perpolitikan, dan krisis kemanusiaan di sekitar kita.
Sebagai mahasiswa, memaknai Hari Lahir Pancasila nggak melulu harus kaku, cringe, atau ala-ala pejabat ngasih penataran. Yuk, kita bedah pelan-pelan bagaimana ideologi bangsa ini sebenarnya relate banget sama obrolan tongkrongan di warkop, drama politik (baik di BEM kampus maupun nasional), sampai urusan kemanusiaan yang sering luput dari perhatian kita!
Sila Keempat, Tongkrongan Warkop, dan Drama “Polemik Sistem Pemilu”
Salah satu fase pendewasaan paling nyata saat jadi mahasiswa adalah ketika kita mulai “melek” politik. Nggak usah jauh-jauh ngomongin Pilpres atau Pilkada, lihat saja serunya Pemilu Raya (Pemira) buat milih Presiden BEM di kampus. Sayangnya, entah di skala kampus maupun nasional, pesta demokrasi ini sering kali terjebak pada urusan teknis, bagi-bagi kursi, dan ribut-ribut rebutan kekuasaan semata. Kita sering melupakan esensi terdalam dari Sila Keempat: kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.
Sebuah tulisan tajam di TandaMata BDG (2023b) yang berjudul “Polemik Sistem Pemilu”, menyoroti perdebatan sengit di masyarakat dan elite politik tentang sistem proporsional terbuka versus tertutup. Di balik bahasa hukum dan politik yang berat itu, esensi yang dikritik dalam tulisan tersebut adalah soal representasi sejati dan kematangan demokrasi bangsa kita. Pertanyaannya sederhana: apakah suara rakyat benar-benar diwakilkan oleh para wakil rakyat, atau rakyat cuma disuruh nyoblos elite partai yang rasanya berjarak jutaan kilometer dari penderitaan masyarakat akar rumput? (TandaMata BDG, 2023b).
Bagi mahasiswa, memahami polemik ini adalah bentuk pengamalan Pancasila yang paling konkret. Sila Keempat ngajarin kita untuk kritis melihat sistem. Kita nggak boleh cuma jadi cheerleaders buta buat kandidat tertentu cuma karena dia satu fakultas atau satu tongkrongan. Kalau sistem pemilunya elitis dan menutup ruang bagi orang-orang jujur dan kompeten untuk maju, ya harus dikritisi! Menghidupi Sila Keempat berarti kita menolak apatis terhadap sistem yang mengatur masa depan hajat hidup orang banyak.
Mahasiswa dan Politik: Tolak Jadi Sekadar “Komoditas” Pendulang Suara Gen Z
Masih nyambung sama urusan politik, ada fenomena lucu yang selalu berulang setiap kali musim pemilu (baik nasional maupun lokal) tiba: para politisi senior mendadak tampil edgy, pakai sneakers mahal, bikin konten joget di TikTok, dan ngomong pakai bahasa slang demi meraup simpati kaum muda (Milenial dan Gen Z). Mahasiswa sering banget diundang ke acara-acara partai cuma buat menuhi kuota “representasi pemuda”, diajak selfie bareng, lalu ditinggalkan begitu saja setelah surat suara selesai dihitung.
Dalam esai bertajuk “Moncong Putih dan Kaum Muda”, TandaMata BDG (2023a) memberikan pandangan yang sangat reflektif soal relasi timpang antara anak muda dan partai politik. Menurut analisis tersebut, kaum muda tidak seharusnya merendahkan diri mereka dengan membiarkan diri menjadi objek atau sekadar “komoditas politik” pendulang suara musiman. Lebih jauh dari itu, pemuda—terutama mahasiswa yang punya kemewahan intelektual—harus berani masuk, membawa napas idealisme yang segar, dan ikut mewarnai ideologi politik itu sendiri agar tidak lapuk dimakan zaman (TandaMata BDG, 2023a).
Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa (Sila Ketiga) mengajarkan kita bahwa persatuan itu bukan berarti kita harus bungkam, manggut-manggut, dan ikut arus senioritas. Justru, mahasiswa yang meresapi Pancasila harus berani bersikap asertif. Kalau kamu gabung di organisasi ekstra kampus atau partai politik sayap pemuda, jangan cuma ngejar eksistensi atau posisi. Bawa nilai-nilai keadilan sosial ke meja perundingan mereka. Tunjukkan bahwa Gen Z itu melek gagasan, menuntut transparansi, dan bukan cuma gampang disogok pakai gimmick visual.
Sila Kemanusiaan: Mengasah Empati Lewat “Perempuan dalam Situasi Bencana”
Selain jago ngedebat urusan politik di forum kajian, salah satu tugas utama mahasiswa yang tertuang dalam Tridharma Perguruan Tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat. Sering banget kan kita lihat mahasiswa turun ke jalan bawa kardus untuk menggalang dana, atau terjun langsung menjadi relawan saat terjadi bencana alam, baik lewat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) maupun inisiatif sosial BEM.
Tapi, mari kita jujur: apakah niat baik saja sudah cukup merepresentasikan Sila Kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab)? Ternyata belum tentu. Terkadang, bantuan kemanusiaan yang kita berikan sifatnya sangat kaku, bias, dan luput melihat kerentanan kelompok tertentu, terutama kaum perempuan.
TandaMata BDG (2021) dalam artikelnya “Perempuan dalam Situasi Bencana” membedah realita pahit yang jarang tersorot kamera ini. Ketika bencana alam besar seperti banjir bandang, gempa bumi, atau tanah longsor terjadi, perempuan (terutama ibu-ibu dan remaja putri) menanggung beban ganda dan kerentanan yang sangat spesifik. Di tenda-tenda pengungsian yang padat, kebutuhan khusus mereka—seperti pembalut, pakaian dalam yang bersih, ruang laktasi/menyusui yang privat, hingga perlindungan keamanan dari ancaman pelecehan seksual—sering kali dianaktirikan atau bahkan dilupakan sama sekali karena fokus relawan cuma pada urusan logistik mi instan dan beras (TandaMata BDG, 2021).
Menerapkan Pancasila buat mahasiswa zaman now berarti mengasah kepekaan empati kita sampai ke level sedetail ini. Keadilan sosial (Sila Kelima) dan kemanusiaan (Sila Kedua) menuntut kita untuk melek gender dan punya perspektif inklusif. Ketika kamu dan teman-teman himpunanmu bikin program open donasi untuk korban bencana, pastikan daftar barang yang dikumpulkan itu inklusif. Pikirkan nasib ibu hamil, balita, dan lansia perempuan di posko pengungsian. Inilah bukti otentik bahwa Pancasila benar-benar hidup dalam nalar kritis dan jiwa kemanusiaan kita, bukan sekadar hafalan kosong anak sekolahan.
Komunikasi Asyik: Cara Ngomongin Pancasila Tanpa Kesan Boring
Tantangan terbesar bangsa kita saat ini sebenarnya adalah masalah delivery alias cara penyampaian: gimana caranya ngomongin nilai-nilai Pancasila ke anak muda tanpa terdengar seperti bapak-bapak pejabat Orde Baru yang lagi ngasih Penataran P4? Sering kali, wacana ideologi ini ditolak mentah-mentah oleh generasi muda karena cara penyampaiannya yang top-down (dari atas ke bawah menggurui), kaku, satu arah, dan terlalu penuh nuansa indoktrinasi.
Nah, di sinilah kita butuh ilmu komunikasi yang mindful. Dalam buku teks sumber terbuka yang sangat komprehensif berjudul Communication in the Real World: An Introduction to Communication Studies, dijelaskan sebuah konsep penting mengenai keterlibatan masyarakat atau civic engagement. Keterlibatan kewarganegaraan yang tulus dan efektif tidak akan pernah bisa dibangun lewat monolog pidato yang membosankan atau instruksi wajib. Sebaliknya, hal itu dibangun lewat komunikasi interpersonal, komunikasi publik yang etis, kemauan untuk mendengar secara aktif (active listening), dan menciptakan ruang dialog yang aman bagi semua pihak (University of Minnesota Libraries Publishing, 2016).
Buku tersebut sangat menekankan bahwa masyarakat awam—dalam hal ini termasuk mahasiswa—baru akan merasa terikat dan memiliki nilai-nilai kebangsaan jika mereka diberi ruang yang luas untuk berdebat, bertanya, dan menyuarakan kegelisahan mereka tanpa takut dihakimi, dibungkam, atau dituduh makar.
Buatlah Pancasila membumi dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi soal Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia nggak harus dilakukan di ruang seminar hotel mewah yang AC-nya super dingin; obrolan itu bisa (dan seharusnya) terjadi di angkringan, di warung kopi, atau di selasar kampus saat kita membedah kegelisahan: kenapa biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) makin hari makin mencekik padahal fasilitas kampus gitu-gitu aja? Mengomunikasikan Pancasila dengan bahasa yang inklusif, merangkul, dan dialogis adalah kunci utama supaya nilai-nilai luhur ini tidak punah dan tetap relevan di era digital.
Pancasila Itu Kata Kerja, Bro!
Pada akhirnya, Hari Lahir Pancasila bagi seorang mahasiswa seharusnya lebih dari sekadar perayaan visual aesthetic di media sosial atau sekadar dalih buat menikmati tanggal merah untuk bolos kelas pengganti. Pancasila adalah alat analisis kita sehari-hari. Ia adalah pisau bedah yang bisa kita pakai secara tajam untuk mengkritisi bobroknya sistem, merespons para politisi oportunis yang cuma memoles kaum muda sebagai pancingan suara, hingga merancang program relawan kemanusiaan yang benar-benar menjunjung tinggi adab dan melindungi kelompok rentan.
Jadi, kalau hari ini kamu kebetulan lagi rebahan santai di kosan menikmati libur, nggak usah merasa bersalah. Nikmati me-time kamu! Tapi at least, luangkan waktu lima menit saja untuk menata ulang kembali mindset kita. Ingat baik-baik: Pancasila itu bukan kata benda mati yang cuma berhak dipajang di atas papan tulis kelas yang berdebu; Pancasila itu sejatinya adalah kata kerja.
Ia diwujudkan nyata saat kamu memilih untuk berintegritas tidak copy-paste tugas teman, saat kamu vokal menyuarakan hak-hak kampusmu, saat kamu tidak rasis kepada teman beda pulau, dan saat kamu memilih untuk tidak diam melihat ketimpangan sosial di depan mata. Selamat memaknai Hari Lahir Pancasila! Mari terus merawat nalar kritis, dan jangan pernah lelah mencintai Indonesia dengan cara yang rasional dan penuh aksi nyata.
Ditulis Oleh : Muhammad Fathan Syuhada
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




























































