Akhir-akhir ini, kondisi ekonomi dunia sedang tidak stabil. Salah satu penyebab utamanya yaitu perang dagang antara China dengan Amerika Serikat. Dua negara ini ibarat “raksasa ekonomi” yang sedang beradu kekuatan, mulai dari saling menaikkan tarif impor hingga perang teknologi.
Masalahnya, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dua negara itu saja, tapi menyebar ke banyak negara lainnya, termasuk Indonesia. Kita sebagai negara berkembang sering berada di posisi yang serba salah. Di satu sisi, Indonesia tidak memiliki kekuatan yang begitu besar. Tapi di sisi lain, tidak mungkin Indonesia hanya berdiam diri di situasi seperti ini. Apakah Indonesia sebenarnya hanya terbawa arus, atau bisa memanfaatkan peluang dari konflik ini?
Jika dilihat dari sisi negatifnya, perang dagang ini jelas membuat kondisi ekonomi global jadi tidak stabil. Ketika China dan Amerika saling membatasi perdagangan, rantai pasok dunia juga terganggu. Indonesia yang masih bergantung pada ekspor otomatis ikut terkena imbasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dari periode Januari sampai November 2025, Tiongkok dan Amerika Serikat masih menjadi dua tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia. Tiongkok menyumbang sekitar 23,80 persen dari total ekspor nonmigas dengan nilai mencapai US$58,24 miliar, sedangkan Amerika Serikat menyumbang 11,50 persen atau sekitar US$28,14 miliar.
Jika digabungkan, kedua negara ini menyumbang lebih dari sepertiga total ekspor nonmigas Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan Indonesia kepada dua raksasa ekonomi dunia masih cukup besar. Karena itulah, ketika ada ketegangan atau konflik perdagangan antara Tiongkok dengan Amerika, dampaknya sangat krusial terhadap kinerja ekspor Indonesia.
Selain itu, ketidakpastian global juga membuat investor jadi lebih berhati-hati. Mereka cenderung menahan investasi, bahkan menarik dananya. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melambat. Tapi apakah Indonesia harus menjadi korban? Di balik masalah pasti ada peluang, tinggal bagaimana kita bisa melihat celah tersebut dan memanfaatkannya.
Di tengah konflik antara China dan Amerika, muncul pandangan bahwa Indonesia justru bisa mengambil keuntungan. Hal ini juga disampaikan oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam wawancara dengan Kumparan, yang menilai bahwa ketika Amerika Serikat menaikkan tarif impor 100 persen terhadap China, produk dari negara lain, termasuk Indonesia, dapat menjadi lebih kompetitif di pasar Amerika.
Ia juga menyinggung bahwa kondisi tersebut berpotensi memberikan sentimen positif terhadap pasar keuangan domestik, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meskipun demikian, pergerakan pasar tetap dipengaruhi oleh sentimen global, sehingga fluktuasi masih mungkin terjadi dalam jangka pendek.
”Biar aja mereka berantem kalau kita enggak ada urusan. IHSG harusnya positif. Kenapa? Mungkin ada sentimen di pasar ya gara-gara pasar sana jatuh. Tapi kalau kita lihat, kalau Cina dikenain tarik 100 persen, barang kita jadi lebih bersaing di Amerika.” tuturnya.
Bahkan, World Bank juga pernah menyampaikan bahwa negara berkembang memiliki peluang untuk mengambil alih sebagian rantai pasok global yang terganggu akibat konflik perdagangan.
Selain itu, perang dagang juga membuat banyak perusahaan global berpikir memindahkan pabriknya dari China ke negara lain. Hal ini disebut dengan relokasi industri. Negara seperti Vietnam sudah lebih dulu memanfaatkan peluang ini.
Jujur saja, hal ini yang sangat disayangkan. Karena Indonesia sebenarnya punya potensi besar, tapi sering kalah cepat. Masalah klasik seperti birokrasi yang sulit, regulasi yang sering berubah-ubah, hingga infrastruktur yang belum merata, membuat investor jadi berpikir dua kali untuk masuk ke Indonesia.
Di sisi lain, peluang ini juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam salah satu podcast, Raymond Chin menyoroti terkait minat investor asing untuk masuk ke Indonesia itu masih kalah dibanding negara lain.
Menurutnya, masalahnya bukan cuma soal aturan, tapi lebih kepada penegakan hukumnya. Ketika investor sudah menanamkan modal dalam jumlah besar, mereka membutuhkan kepastian hukum agar investasi yang dilakukan tetap aman. Namun, perubahan kebijakan yang tidak terduga atau hambatan di lapangan sering kali menjadi kekhawatiran tersendiri bagi investor asing.
“Asing enggak bakal mau invest di Indonesia. Kayak Elon Musk batal, Apple invest di Vietnam lebih banyak. Alasannya bukan hukum kita, tapi penegakan hukum kita. Kalau gua udah tiba-tiba invest 10 triliun untuk buka pabrik, buka lapangan pekerjaan di Indonesia. Tiba-tiba aturan berubah, tiba-tiba mereka dijegal gitu mereka harus jagain investment mereka dong.” ujarnya.
Itulah sebabnya, Indonesia masih kalah saing dibanding negara lain soal menarik investasi. Contohnya Singapura, kontribusi investasi asingnya bisa sampai sekitar 30 persen dari PDB, sedangkan Indonesia hanya sekitar 6 persen. Padahal, Indonesia sering disebut punya potensi besar buat jadi salah satu kekuatan ekonomi dunia di masa depan.
Perang dagang ini bisa menjadi “wake up call” atau panggilan untuk Indonesia. Selama ini, kita masih terlalu bergantung pada ekspor bahan mentah dan pasar tertentu. Padahal, supaya lebih kuat, Indonesia perlu berani naik level, salah satunya lewat hilirisasi industri.
Jadi, “Indonesia kebawa arus atau bisa ambil peluang”, sebenarnya tergantung pada diri kita sendiri. Perang dagang China dengan Amerika memang penuh risiko, tapi di sisi lain menyimpan peluang yang cukup besar.
Bahkan, International Monetary Fund (IMF) pernah mengingatkan bahwa ketegangan perdagangan global bisa menjadi ancaman bagi pertumbuhan ekonomi dunia dalam jangka panjang.
Jika Indonesia hanya diam saja tanpa ada perbaikan, jelas akan terus dirugikan. Tapi jika Indonesia bisa gerak cepat, memperbaiki kebijakan, dan meningkatkan daya saing, peluang tersebut bisa menjadi keuntungan yang nyata. Namun, peluang tersebut tidak akan otomatis menjadi keuntungan jika tidak diiringi dengan kesiapan dari dalam negeri.
Indonesia tidak bisa hanya berharap dari situasi global, tapi juga harus berbenah dari dalam. Dengan strategi yang tepat, bukan tidak mungkin Indonesia justru bisa naik kelas di tengah konflik dua raksasa dunia tersebut. Intinya, di tengah pertarungan dua raksasa ini, Indonesia harus pintar-pintar mencari dan melihat celah. Jangan hanya menjadi penonton, tapi harus berani ikut andil dan ambil peran.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































