Yogyakarta – MAN 1 Yogyakarta menggelar sosialisasi deteksi dini paham radikalisme di lingkungan sekolah, pada Rabu (20/05/2026). Kegiatan sosialisasi dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran radikalisme di lingkungan sekolah. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Octaviani, S.H. dan Bayu Antasena, S.H. dari Tim Pencegahan Densus 88 Anti Teror POLRI.
Dalam pemaparannya, Octa menjelaskan bahwa tren penyebaran radikalisme saat ini banyak menyasar para remaja. Oleh karena itu, sekolah memiliki peran penting dalam memberikan edukasi dan penguatan karakter agar murid tidak mudah terpengaruh oleh paham menyimpang.
Octa menjelaskan bahwa perkembangan radikalisme melewati beberapa tahapan.
“Radikalisme berawal dari intoleransi, yaitu sikap tidak menghormati dan menghargai orang lain. Sikap intoleran ini dinilai sebagai akar munculnya radikalisme karena seseorang mulai terpapar dari segi pemikiran. Tahap berikutnya berkembang menjadi radikalisme dan dapat berujung pada tindakan terorisme”, ujar Octa.

Pada sosialisasi ini, murid-murid dijelaskan tentang pola penyebaran radikalisme melalui propaganda ruang digital dan media sosial seiring dengan perkembangan teknologi. Beberapa platform game online seperti Roblox, Free Fire, dan Mobile Legend disalahgunakan oleh kelompok tertentu untuk melakukan rekruitmen anggota. Adanya fitur komunikasi dalam game dimanfaatkan untuk memperluas jaringan dan melakukan pendekatan yang menargetkan para remaja.
Octa juga menyoroti keberadaan grup WhatsApp bernama TCC (True Crime Community) yang menjadi wadah penyebaran ideologi kekerasan ekstrem yang menyasar anak-anak dan remaja di Indonesia. Ia mengangkat kasus aksi pengeboman di SMAN 72 Jakarta yang pelakunya adalah murid sekolah tersebut dan terindikasi bergabung dengan grup TCC. Faktor seperti bullying serta kurangnya komunikasi dengan keluarga disebut menjadi salah satu penyebab remaja rentan terpapar paham menyimpang.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd. menyampaikan bahwa kegiatan ini penting untuk membangun kesadaran murid agar lebih bijak dalam berinteraksi di dunia digital.
“Kami berharap melalui sosialisasi ini, murid MAN 1 Yogyakarta memiliki pemahaman yang baik tentang bahaya radikalisme serta mampu menjaga diri dari pengaruh negatif media sosial dan lingkungan digital. Sekolah juga terus berupaya menanamkan nilai toleransi, moderasi, dan karakter positif dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Edi.
Melalui kegiatan ini, murid diharapkan dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial serta mampu menyaring informasi yang diterima. Narasumber juga mengingatkan bahwa algoritma media sosial dapat memengaruhi apa yang dibaca, ditonton, dan didengar seseorang, sehingga penting bagi generasi muda untuk memiliki sikap kritis dan selektif dalam mengakses konten digital. (mzs)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer
































































