Di tengah kesibukan dan padatnya aktivitas, anak muda diterpa permasalahan yang menyangkut kebugaran fisik, salah satunya berupa indikasi yang merujuk pada anemia. Prevalensi anemia pada remaja Indonesia dalam rentang usia 15-24 tahun berdasarkan data Riset kesehatan dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Riskesdas Kemenkes RI) menyentuh persentase 32%. Anemia merupakan kondisi apabila tubuh mengalami defisiensi sel darah merah atau hemoglobin yang menyuplai oksigen ke seluruh tubuh.Dampak dari hal tersebut yakni tubuh menjadi mudah mengalami kelelahan. Oleh karena itu, anemia merupakan masalah kesehatan yang tidak dapat dianggap sepele dan butuh ditangani dengan benar agar aktivitas sehari-hari dapat berjalan dengan lancar.
Anemia marak terjadi di kalangan muda khususnya remaja perempuan yang mengalami siklus bulanan yakni menstruasi yang kehilangan sel darah merah dan menurunnya kadar hemoglobin dalam darah, dan dapat diperparah dengan kurangnya asupan zat besi yang berguna dalam proses produksi hemoglobin darah.
Terdapat beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya anemia, yakni faktor gizi yang paling utama. Kebiasaan makan yang buruk seperti tingkat konsumsi fast food yang tinggi dan kegemaran terhadap teh dan kopi yang mampu dikonsumsi setiap hari oleh generasi muda, di mana dalam penyajiannya makanan-makanan cepat saji serta minuman tersebut rendah akan kandungan mikronutrien yang juga sifatnya penting atau esensial bagi pemenuhan gizi, seperti vitamin dan zat besi.
Kebutuhan fisiologis tubuh saat masa pertembuhan pada anak-anak usia remaja dengan laju pertumbuhan yang sangat cepat dan membutuhkan asupan zat besi dalam jumlah besar untuk memproduksi volume darah, massa otot, dan sel- sel baru yang lebih banyak apabila tidak seimbang dalam uptake nutrisi khususnya zat besi, akan terjadi defisiensi dan meningkatkan resiko anemia.
Data yang dikaji oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 80% anak usia remaja di seluruh dunia mengonsumsi makanan cepat saji di kesehariannya. Faktor dari segi life style anak muda yang kurang memperhatikan dan menyadari keseimbangan nutrisi akan memperparah kondisi anemia.
Kekurangan sel darah merah yang berujung pada kondisi penurunan distribusi oksigen di seluruh jaringan dan organ tubuh akan berdampak pada kualitas hidup, sehingga dapat menghambat produktivitas remaja dalam kesehariannya. Dampak jangka pendek dirasakan secara langsung, seperti penurunan konsentrasi dalam bekerja dan belajar. Kadar hemoglobin rendah ketika disuplai ke otak akan berakibat pada penurunan daya fokus, daya ingat, dan memperlambat kemampuan mengolah informasi, serta emicu sakit kepala. Tubuh akan mudah lesu dan lelah karena kurangnya oksigen yang didistribusikan ke jaringan otot yang menyebabkan sel-sel pada jaringan otot tidak optimal memproduksi energi dan badan terasa tidak bertenaga.
Dampak jangka panjang anemia yang dapat dirasakan pada remaja yakni gangguan kognitif. Defisiensi atau kekurangan zat besi dalam jumlah besar dapat berakibat pada gangguan perkembangan saraf dan kognitif individu pada masa pertumbuhan yang nantinya berdampak pada fungsi otak dan kemampuan memproses informasi pada remaja. Resiko gangguan jantung pun dapat terjadi, di mana anemia kronis membuat kerja jantung menjadi lebih keras dalam memompa darah miskin oksigen ke seluruh tubuh yang berujung pada gagal jantung.
Langkah pencegahan dan penanggulangan anemia sangat diperlukan untuk memperbaiki kualitas kesehatan. Kebiasaan memenuhi piring makan dengan makanan bergizi seimbang perlu dipupuk kembali oleh anak-anak muda yang kerap disapa sebagai gen Z yang gemar nongkrong di cafe dan restoran yang menyajikan makanan manis dan berlemak. Daging merah seperti daging sapi, ikan, serta jeroan terutama hati sapi maupun hati ayam yang mengandung zat besi heme yang mudah diserap oleh tubuh, juga sayuran hijau seperti bayam, kacang-kacangan, dan biji-bijian yang turut kaya akan kandungan zat besi merupakan bahan pangan yang bagus untuk dipilih guna memenuhi kebutuhan zat besi.
Asupan vitamin C yang cukup dapat membantu penyerapan zat besi non-heme dari bahan pangan nabati seperti sayuran hijau dan kacang merah dengan mengubah bentuk zat besi dari ferri (Fe3+) menjadi ferro (Fe2+) yang lebih mudah diabsorbsi dalam tubuh. Kombinasi antara makanan sumber zat besi dan sumber vitamin C yang banyak ditemukan pada buah seperti jambu biji, tomat, dan jeruk yang jika dikonsumsi bersama akan semakin mempercepat absorbsi zat besi. Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Amerta Nutrition pada tahun 2023 membuktikan bahwa tingkat resiko terserang anemia pada remaja yang tidak seimbang dalam pemenuhan asupan zat besi dan vitamin C tergolong cukup tinggi dan riskan.
Dalam rangka mencegah dan menanggulangi anemia, pemerintah menjalankan program suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) yang menyasar remaja putri dengan rentang usia 12-18 tahun yang aktif mengalami menstruasi tiap bulan. Dosis yang dianjurkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yakni satu tablet setiap minggu dan satu tablet setiap hari pada periode menstruasi untuk menggantikan zat besi yang keluar bersama darah menstruasi dari dalam tubuh.
Program edukasi dan sosialisasi dapat sangat membantu penyebaran informasi terkait bahaya anemia dan pentingnya gizi seimbang terhadap generasi muda. Salah satu program yang diusung pemerintah yaitu “Isi Piringku” berupa pedoman makan sebagai pembaharuan dari program “4 Sehat 5 Sempurna”. Panduan Isi Piringku memvisualisasi pembagian makanan dalam satu piring masyarakat, yakni setengah piring diisi dengan sayur serta buah dan setengah lainnya dilengkapi makanan pokok berupa nasi, kentang, ubi, serta lauk pauk berupa sumber protein hewani dan nabati seperti ayam, ikan, dan daging, dengan tetap membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak secara berlebihan serta melakukan aktivitas fisik secara rutin.
Kementerian Kesehatan turut meluncurkan platform digital berupa aplikasi CERIA (Cegah Anemia Remaja Indonesia) untuk memantau kecukupan asupan zat besi melalui kerutinan konsumsi tablet tambah darah oleh remaja, khususnya remaja putri. Aplikasi tersebut dirancang khusus untuk membantu remaja Indonesia sebagai upaya dalam meminimalisasi risiko penyakit anemia yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan mereka di usia muda. Dari sekian banyak program edukasi yang tersebar secara massal, tenaga didik siswa di sekolah dapat meningkatkan kontribusi dalam menyampaikan masalah-masalah penting yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan dan penyakit yang berpotensi terjadi akibat gangguan keseimbangan gizi.
Pemeriksaan kadar hemoglobin melalui skrinning secara berkala perlu dilaksanakan guna mendeteksi anemia dengan kondisi hemoglobin (Hb) di bawah rentang normal yakni dibawah 12 g/dL. Kadar hemoglobin normal membantu sel darah merah mempertahankan bentuknya, sehingga terwujudlah pasokan oksigen untuk otak, otot, dan organ lainnya yang seimbang dan meningkatkan kondisi fisik tubuh dan fungsi kognitif otak. Kelelahan, pusing, sesak napas, dan kulit pucat yang biasa terjadi pada seseorang dengan hemoglobin rendah, memiliki kemungkinan minim pada orang yang seimbang dalam memenuhi kebutuhan nutrisi sehari-hari baik nutrisi yang dibutuhkan dalam jumlah besar (makronutrien) seperti protein, karbohidrat, lemak, maupun mikronutrien seperti halnya zat besi.
Anemia merupakan masalah yang sangat mungkin dan mudah untuk dicegah serta diatasi dengan selalu memperhatikan apa-apa yang masuk ke dalam tubuh dalam hal nutrisi yang harus seimbang dan sesuai dengan kebutuhan harian tubuh. Mari kita bersama-sama lebih menyadari pentingnya menjaga tubuh agar selalu dalam kondisi yang fit dan kuat agar aktivitas bekerja dan belajar menjadi lancar. Apabila muncul tanda-tanda yang mengarah pada kondisi anemia, segera perbaiki pola makan sekaligus pola hidup untuk menghindari kondisi yang lebih parah.
SUMBER
Fitripancari, A. D., Arini, F. A., Imrar, I. F., & Maryusman, T. (2023). The Relationship between Iron and Vitamin C Intake, Risk Beverage Consumption Frequency, and Dietary Behavior with Anemia Adolescent Girls in Depok City. Amerta Nutrition, 7.
Kemenkes RI. (2021). Profil Kesehatan Indo-Nesia. In Pusdatin.Kemenkes.Go.Id.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































