SUKOHARJO – Setelah berhasil mencetak dan mewarnai material daur ulang pada lokakarya sebelumnya, 50 anak dan sahabat disabilitas di Kabupaten Sukoharjo kini melangkah ke tahap pendalaman karakter. Bertempat di Sanggar Belajar Migunani, Desa Baki Pandeyan, Kecamatan Baki, “Workshop III – Pengenalan Cerita Fabel & Mitologi Jawa” sukses diselenggarakan pada Sabtu (21/2/2026). Rangkaian Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 ini secara konsisten menghadirkan ruang inklusif untuk menjembatani pelestarian lingkungan dan edukasi budaya.
Dalam lokakarya ketiga ini, topeng wayang dari limbah kertas yang sebelumnya merupakan benda mati, kini mulai diberi “suara” dan identitas. Ketua Sanggar Belajar Migunani, Eko Aji Arabiyanto, menyoroti pentingnya transisi fungsi karya anak-anak tersebut.
“Sesuai dengan nama sanggar kami, Migunani, yang berarti bermanfaat, hari ini kita melihat buktinya secara langsung. Limbah kertas yang tadinya hanya menjadi masalah lingkungan, kini telah diolah dan diwarnai. Melalui lokakarya hari ini, topeng-topeng tersebut resmi bertransformasi menjadi alat peraga edukatif yang sangat bernilai untuk memancing minat literasi dan keberanian bercerita anak-anak kita,” ungkap Eko.
Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Sanggar Tari Rejo Makmur, Muhammad Kadafie, membawa pendekatan teatrikal yang sangat interaktif. Melalui metode storytelling yang ekspresif, Kadafie membedah berbagai mitologi lokal dan dongeng fabel Nusantara—mulai dari kancil yang cerdik menjaga hutan hingga harimau Jawa yang tangkas.
Kadafie mengajak seluruh peserta untuk memakai topeng buatan mereka sendiri dan membayangkan bahwa mereka adalah makhluk penjaga alam. Bagi peserta penyandang disabilitas, metode ini terbukti sangat efektif karena memberikan stimulasi visual, auditori, dan imajinasi secara bersamaan tanpa adanya tekanan akademis.
Fadhel Moubharok selaku Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia menegaskan bahwa penanaman nilai moral melalui medium fabel adalah strategi utama dalam membangun empati para peserta sebelum menuju pementasan puncak.
“Kita tidak sedang berambisi mencetak aktor teater profesional di sini. Tujuan utama kita adalah membangun empati dan kesadaran. Narasi fabel mengajarkan kepada anak-anak bahwa setiap makhluk, sekerdil apa pun bentuknya, memiliki peran yang setara dan penting untuk menjaga keseimbangan semesta. Pesan inklusivitas dan pelestarian alam inilah yang ingin kita patri di benak mereka,” tegas Fadhel selaku Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia.
Menjelang akhir acara, suasana ruang lokakarya diwarnai dengan momen kehangatan keluarga yang mendalam. Anak-anak diminta duduk berhadapan dengan orang tua atau wali pendamping mereka untuk melakukan roleplay sederhana. Dengan antusias, peserta mendongengkan kisah karakter topeng yang mereka kenakan, sementara para orang tua memberikan validasi dan apresiasi atas daya imajinasi putra-putrinya.
Berbekal penguatan literasi lisan dan ikatan emosional ini, ke-50 peserta semakin mantap melangkah ke tahap selanjutnya. Pada lokakarya mendatang, karakter fabel yang telah mereka hidupkan ini akan mulai dipadukan dengan gerak dasar seni pertunjukan sebagai persiapan menuju pementasan agung di bulan Mei.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































