Indralaya Utara, setiap sore, ketika matahari mulai condong ke barat, suara anak-anak membaca Al-Qur’an terdengar dari sebuah bangunan sederhana di samping Masjid Ghuzail Al Ajmi Al Barokah. Tidak ada papan nama besar, tidak ada fasilitas mewah, dan tidak ada biaya pendaftaran sebagaimana lembaga pendidikan pada umumnya. Namun, dari ruangan kecil itulah tumbuh sebuah tempat belajar yang hangat dan penuh ketulusan, yaitu TPA As-Sholatiyah Qolbu Salim.
TPA ini berdiri berkat hati seorang ibu bernama Umi Ida Mainah Musa. Dengan segala keterbatasannya, ia menjalankan kegiatan belajar mengajar hampir sepenuhnya mengandalkan tenaga dan keikhlasan diri sendiri, dibantu empat orang anaknya yang semuanya hafiz dan hafizah 30 juz. Mereka mengajar tanpa menerima bayaran, dan tidak pernah menjadikan materi sebagai alasan mereka hadir setiap hari. Yang mereka bawa hanyalah semangat untuk menjaga cahaya Al-Qur’an tetap hidup dalam diri anak-anak sekitar.
Ruang belajar TPA As-Sholatiyah jauh dari kata ideal. Hanya ada karpet tipis, papan tulis yang sudah lama digunakan, meja kecil, dan satu kipas angin yang berusaha keras mengusir panas. Lampu ruangan yang temaram membuat suasana belajar agak redup, tetapi anak-anak tetap datang dengan wajah ceria. Mereka duduk merapat, membuka Iqra’ atau mushaf mereka, lalu mulai belajar satu per satu. Dari total sekitar empat puluh santri yang terdaftar, tidak semuanya hadir setiap sore. Terkadang hanya dua belas anak yang datang. Namun jumlah itu tidak pernah menyurutkan semangat para pengajar untuk menyambut mereka dengan senyum dan kesabaran.
Kegiatan belajar di TPA berlangsung hangat dan akrab. Anak-anak membaca Iqra’, menyetorkan hafalan, muroja’ah bersama, dan mempelajari tajwid dengan metode sederhana. Sesekali, Umi Ida memberikan nasihat kecil yang diselipkan di sela-sela belajar, atau menceritakan kisah Nabi untuk menanamkan nilai moral. Suasana seperti keluarga terasa kuat di tempat ini. Tidak heran banyak anak yang datang bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk merasa dekat, merasa diperhatikan, dan merasa memiliki tempat yang menerima mereka apa adanya.
Namun di balik semangat itu, terdapat banyak tantangan yang harus dihadapi. Fasilitas yang sangat terbatas menjadi salah satu kendala terbesar. Ruangan panas, pencahayaan kurang, dan perlengkapan seadanya membuat kegiatan belajar tidak selalu nyaman. Meski berada di lingkungan padat penduduk, dukungan masyarakat terhadap TPA masih sangat minim. Kebanyakan orang tua bekerja hingga malam atau merasa TPA ini sudah berjalan dengan sendirinya, sehingga keterlibatan mereka belum maksimal. Hampir semua kebutuhan, baik fasilitas maupun operasional, sepenuhnya ditanggung oleh Umi Ida dan keluarganya.
Padahal masyarakat sebenarnya membutuhkan tempat seperti ini. Banyak orang tua yang berharap anak-anak mereka dapat belajar membaca Al-Qur’an dengan baik, menghafal surah-surah pendek, dan mempelajari akhlak sejak dini. Kehadiran TPA As-Sholatiyah telah menjawab kebutuhan itu, meski dengan sarana yang jauh dari memadai. Bila ada sedikit saja perhatian dan bantuan dari warga sekitar, tempat ini bisa berkembang lebih baik dan memberikan kenyamanan yang lebih layak untuk anak-anak.
Meskipun demikian, TPA As-Sholatiyah memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi lembaga pembelajaran Al-Qur’an yang kuat. Lokasinya strategis, para pengajarnya merupakan hafiz-hafizah berkualitas, dan antusiasme anak-anak masih sangat tinggi. Di tangan orang-orang yang penuh keikhlasan, ruang sederhana itu menjadi tempat yang sarat makna. Anak-anak bukan hanya belajar membaca huruf, tetapi juga belajar adab, sopan santun, dan rasa hormat terhadap agama.
TPA As-Sholatiyah Qolbu Salim telah menjadi bukti bahwa pendidikan tidak selalu membutuhkan gedung megah atau fasilitas lengkap. Terkadang yang paling dibutuhkan hanyalah hati yang tulus, kesabaran yang tidak pernah habis, dan niat yang kuat untuk memberikan kebaikan. Dalam kesederhanaannya, TPA ini telah menanamkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kemampuan membaca Al-Qur’an. Ia menanamkan cinta pada agama, menanamkan karakter, dan menanamkan harapan bahwa kebaikan bisa tumbuh di tempat mana pun, asalkan ada orang-orang yang mau merawatnya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































