Berapa banyak tumbler yang berjejer di lemari kamarmu? Jika jawabannya lebih dari dua, kamu mungkin bukan sedang menyelamatkan bumi, melainkan sedang terjebak dalam tren estetika belaka.
Belakangan ini, gaya hidup ramah lingkungan mulai populer di kalangan masyarakat, terutama anak muda. Penggunaan plastik sekali pakai mulai tergantikan oleh tumbler dan tote bag yang unik dan estetik. Ditambah lagi dengan kegiatan thrifting dan penggunaan produk ramah lingkungan yang dikemas menarik secara visual oleh para influencer. Fenomena ini berhasil mengubah isu lingkungan menjadi sebuah gaya hidup modern yang dianggap unggul dan keren.
Sayangnya, banyak masyarakat yang menerapkan green lifestyle bukan karena benar-benar cemas terhadap kerusakan bumi, melainkan karena takut ketinggalan zaman atau sekadar ingin mendapatkan pengakuan publik. Akibatnya penerapan hidup ramah lingkungan hanya sebatas estetika di media sosial bukan realita yang selalu diterapkan.
Banyak influencer atau konten kreator yang mulai menggantikan kebiasaan penggunaan kantong plastik menjadi barang yang lebih ramah lingkungan. Hal ini berhasil menarik perhatian masyarakat untuk mengikuti kebiasaan tersebut.
Media sosial berhasil meningkatkan perhatian terhadap isu lingkungan, tetapi juga membuat green lifestyle rentan dijadikan sekadar tren visual. Masyarakat pun berlomba-lomba membeli produk eco-friendly karena lucu atau menggemaskan, apalagi tumbler, tas belanja, atau barang lainnya yang semakin unik dan bervariasi. Padahal, inti utama dari ramah lingkungan adalah mengurangi konsumsi atau pembelian barang baru.
Green lifestyle bukan tentang terlihat ramah lingkungan, melainkan konsistensi dalam menjaga alam yang dimulai dari kebiasaan sederhana dan berkelanjutan. Menghemat penggunaan listrik dan air, mengurangi pembelian barang yang tidak perlu, menggunakan kembali barang yang ada, dan mendaur ulang sebisa mungkin. Jangan membuang tote bag atau tumbler lama hanya untuk membeli produk “hijau” yang baru, dengan memaksimalkan barang lama jauh lebih ramah lingkungan. Seharusnya kepedulian terhadap lingkungan lahir dari kesadaran individu bukan tekanan dari gaya hidup keren atau haus pujian publik.
Tren ini tentu membawa dampak positif jika dilakukan dengan benar untuk mengubah kebiasaan kecil demi masa depan. Media sosial dapat menjadi sarana edukasi yang berdampak nyata.
Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu memahami bahwa menjaga lingkungan bukanlah tren musiman, melainkan tanggung jawab bersama yang panjang. Pada akhirnya, bumi tidak membutuhkan pencitraan manusia. Bumi hanya membutuhkan tindakan nyata agar tetap layak menjadi tempat hidup bagi generasi mendatang.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































