Kesehatan Mental: Kunci Sukses Mahasiswa di Dunia Perkuliahan
Oleh: Nurul Latifah , Mahasiswa Program Studi Fisika, Universitas Sebelas Maret
Di balik foto-foto ceria mahasiswa di media sosial, banyak yang sebenarnya sedang berjuang melawan stres dan tekanan. Dunia kuliah tak selalu seindah yang terlihat. Tugas menumpuk, jadwal padat, organisasi yang menuntut waktu, hingga ekspektasi tinggi dari orang tua sering kali membuat mahasiswa kewalahan. Tanpa disadari, tekanan itu bisa perlahan menggerus kesehatan mental.
Padahal, kesehatan mental bukan hal sepele. Ia adalah fondasi utama agar seseorang bisa berpikir jernih, mengendalikan emosi, dan tetap fokus di tengah tantangan. Di dunia perkuliahan yang serba cepat, memiliki mental yang sehat justru menjadi kunci untuk bertahan. Mahasiswa yang sehat secara mental bisa melihat masalah bukan sebagai beban, tetapi sebagai tantangan untuk tumbuh. Sebaliknya, ketika kondisi mental terganggu, semangat belajar bisa menurun, motivasi menghilang, dan prestasi ikut terpengaruh.
Setiap mahasiswa memiliki beban masing-masing. Ada yang berjuang dari sisi ekonomi, ada yang kesulitan beradaptasi di lingkungan baru, dan ada pula yang merasa tidak cukup baik karena nilainya tak sesuai harapan. Padahal, setiap orang memiliki ritme dan perjuangan yang berbeda. Saat pikiran terus dipenuhi rasa cemas dan takut, kemampuan berpikir logis pun bisa menurun. Karena itu, menjaga kesehatan mental bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan yang nyata.
Kampus sebagai rumah kedua bagi mahasiswa memiliki peran besar dalam hal ini. Layanan konseling dan pendampingan seharusnya tersedia secara nyata, mudah dijangkau, dan bebas stigma. Dosen juga perlu lebih peka terhadap kondisi emosional mahasiswanya, bukan hanya menilai dari hasil akademik. Kadang, mahasiswa tidak butuh banyak nasihat; mereka hanya perlu didengarkan dengan empati. Kampus yang peduli pada kesehatan mental akan melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga tangguh secara emosional.
Namun, menjaga kesehatan mental bukan hanya tanggung jawab kampus. Mahasiswa juga perlu mengenali batas diri dan tahu kapan harus beristirahat. Tidak apa-apa jika lelah, tidak apa-apa jika hasilnya belum sempurna, dan tidak apa-apa meminta bantuan. Istirahat bukan tanda malas, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Dukungan dari keluarga dan teman juga sangat berpengaruh. Kadang, ucapan sederhana seperti “Kamu nggak sendiri” bisa menjadi penyemangat besar bagi seseorang yang sedang berjuang.
Sayangnya, stigma terhadap isu kesehatan mental masih cukup kuat. Banyak yang menganggap berbicara tentang stres atau depresi sebagai tanda kelemahan. Padahal, justru keberanian untuk mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja adalah bentuk kedewasaan. Tidak ada salahnya mencari bantuan profesional ketika beban terasa berat. Itu bukan tanda menyerah, melainkan tanda bahwa seseorang sedang berusaha untuk sembuh dan tumbuh.
Kesehatan mental yang baik bukan hanya membantu mahasiswa menghadapi tugas dan ujian, tetapi juga membentuk ketahanan diri untuk masa depan. Dunia kerja kelak menuntut kemampuan beradaptasi, ketenangan berpikir, dan kecerdasan emosional, semuanya berakar dari kondisi mental yang sehat sejak masa kuliah. Jadi, menjaga kesehatan mental bukan hanya investasi untuk akademik, tetapi juga bekal menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, keberhasilan di dunia perkuliahan tidak semata-mata diukur dari IPK atau gelar akademik. Keberhasilan sejati adalah ketika mahasiswa mampu melewati masa kuliah dengan pikiran yang sehat, hati yang tenang, dan semangat yang tetap menyala. Sebab, apa gunanya nilai tinggi jika jiwa lelah? Apa artinya gelar sarjana jika kebahagiaan hilang di tengah perjalanan?
Sudah saatnya kita mahasiswa, dosen, dan lembaga pendidikan menjadikan kesehatan mental sebagai prioritas bersama. Generasi yang kuat bukanlah mereka yang tak pernah jatuh, melainkan mereka yang tahu kapan harus istirahat, bangkit, dan melangkah lagi. Dengan menjaga kesehatan mental, mahasiswa bukan hanya siap menghadapi ujian di kampus, tetapi juga tantangan hidup yang sebenarnya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































