Bukan alat dan bukan pula teknologi canggih, kunci utama dalam upaya pencegahan tuberkulosis justru ada pada kader. Dari kesadaran itulah kegiatan ini dirancang untuk membekali para kader dengan pengetahuan dan wawasan yang lebih kuat, agar mereka mampu percaya diri di garis terdepan pencegahan TBC.
Tuberkulosis masih menyimpan persoalan krusial, terutama pada aspek deteksi dini dan rendahnya konsumsi Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Alasan klasik terus berulang —tidak sempat, lupa, hingga efek samping yang mengganggu aktivitas— namun dampaknya jauh dari kata sepele. Celah inilah yang ingin ditutup melalui penguatan peran kader sebagai penghubung langsung antara layanan kesehatan dan masyarakat.
Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berupaya menjadi bagian dalam pengendalian permasalahan TBC. Melalui Kegiatan PBL (Pengalaman Belajar Lapangan), Mahasiswa merancang kegiatan untuk peningkatan kemampuan Kader di salah satu Kelurahan Pondok Ranji. Digawangi oleh Dinda bersama dengan Lovita, Zahra, Nasywa, Rifka, Shira, dan Nadya, dibawah bimbingan Ibu Riastuti Kusuma Wardani, MKM, Ph.D (Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat FIKES UIN Jakarta) menyelenggarakan kegiatan Pelatihan TPT pada Kader Kesehatan di Kelurahan Pondok Ranji, Kota Tangerang Selatan. Kegiatan ini didukung dan berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, Puskesmas Pondok Ranji, dan Kelurahan Pondok Ranji.
Kegiatan diawali dengan sesi pemaparan materi terkait TBC dan upaya pencegahannya melalui TPT oleh Ibu Riastuti Kusuma Wardani, MKM, Ph.D. Sesi ini dirancang untuk memperkuat pengetahuan Kader tentang TBC sekaligus meningkatkan pemahaman terhadap pentingnya TPT dalam pencegahan penyakit TBC. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang menjadi titik hidup acara, tempat para kader saling bertukar pandangan, bertanya tanpa ragu, dan membagikan pengalaman lapangan yang selama ini jarang terdokumentasi. Di ruang diskusi itu, persoalan TBC tidak lagi sekadar data dan angka, tetapi hadir sebagai realitas yang dihadapi sehari-hari.
Hal yang membuat kegiatan ini berbeda adalah hadirnya Kader TBC sebagai tamu undangan dalam sharing session yang menceritakan secara langsung bagaimana menghadapi penyintas TBC dan keluarganya, mulai dari penolakan, kelelahan emosional, hingga tantangan menjaga kepatuhan minum TPT. Cerita-cerita ini menjadi cermin nyata bagi Kader Kesehatan lainnya tentang kondisi lapangan yang sesungguhnya.
Melalui pendekatan ini kegiatan tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran dan rasa tanggung jawab. Harapannya, pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya pencegahan TBC akan mendorong Kader untuk terus terlibat aktif, tidak berhenti pada satu kegiatan, melainkan berlanjut dalam praktik sehari-hari.
Kegiatan ini menegaskan satu hal penting: keberlanjutan program pencegahan Tuberkulosis tidak bisa lepas dari peran Kader. Ketika Kader dipahami sebagai garda terdepan, diberdayakan, dan didengarkan, maka upaya pencegahan TBC tidak hanya menjadi program, tetapi gerakan bersama yang hidup di masyarakat.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































