Sejarah sering kali menjadi hakim yang paling adil bagi ide-ide besar yang melampaui zamannya. Dalam lintasan dakwah di Indonesia, kita melihat pola yang berulang: sebuah ijtihad yang awalnya dicaci, dimusuhi, hingga dianggap menyimpang, pada akhirnya justru menjadi standar umum yang diikuti secara luas. Fenomena ini memicu sebuah pemeo yang kian relevan di kalangan aktivis persyarikatan: “Akan Muhammadiyah pada waktunya.”
Sang Pembaharu yang Pernah Terasing
Mari menengok sejenak ke masa Kh. Ahmad Dahlan memulai perjuangannya di Kauman, Yogyakarta. Ketika beliau membawa kompas dan ilmu falak untuk meluruskan arah kiblat Masjid Besar Kauman yang dianggap melenceng, badai penolakan datang begitu hebat. Beliau tidak hanya ditentang secara lisan; langgarnya dirubuhkan, dan label menyakitkan “Kiai Kafir” disematkan kepadanya hanya karena menggunakan alat “Barat”.
Namun, apa yang terjadi hari ini? Hampir seluruh masjid di Nusantara kini melakukan kalibrasi arah kiblat menggunakan teknologi falak dan Gps yang dahulu diperjuangkan Kiai Dahlan. Umat Islam akhirnya mengakui bahwa akurasi arah kiblat adalah bagian dari kesempurnaan ibadah, bukan sekadar urusan tradisi.
Melawan Arus, Menjadi Arus Utama
Muhammadiyah, dengan napas Tajdid (pembaharuan), selalu berupaya mengembalikan umat kepada Sunnah yang murni, meski harus berhadapan dengan tembok tebal kebiasaan lama.
Dahulu, ketika Muhammadiyah mendakwahkan pentingnya menyegerakan berbuka puasa begitu azan berkumandang, suara-suara sumbang muncul. Warga Muhammadiyah diolok-olok sebagai kelompok yang “tidak kuat berpuasa” atau “kurang sabar”. Kini, menyegerakan berbuka adalah hal yang lumrah dan dipraktikkan oleh hampir seluruh Muslimin karena kesadaran akan kesunnahan yang diajarkan Nabi Saw.
Begitu pula dengan pelaksanaan Shalat Idulfitri dan Iduladha di lapangan terbuka. Awalnya, ide ini dianggap aneh dan menyalahi kelaziman shalat di dalam masjid. Namun hari ini, lapangan-lapangan penuh sesak setiap hari raya; sebuah pemandangan yang kini menjadi wajah Islam Indonesia yang syiar dan kolosal. Pun demikian dengan Shalat Tarawih 11 rakaat. Masjid-masjid yang dahulu kaku dengan 23 rakaat, kini banyak yang bertransformasi atau setidaknya menyediakan opsi 11 rakaat bagi jamaahnya demi efektivitas ibadah.
Kalender Hijriyah Global Tunggal: Ijtihad untuk Peradaban Dunia
Saat ini, Muhammadiyah kembali mengambil langkah berani dengan menerapkan Kalender Hijriyah Global Tunggal (khgt) mulai tahun ini. Langkah ini diambil bukan untuk menciptakan perpecahan, melainkan untuk mengakhiri ketidakpastian umat setiap kali menentukan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah.
Perdebatan tentu masih hangat. Pro dan kontra mengenai metode hisab hakiki wujudul hilal melawan rukyatul hilal masih menghiasi linimasa media sosial kita. Namun, berkaca pada sejarah arah kiblat dan shalat di lapangan, langkah Muhammadiyah hari ini adalah investasi peradaban untuk masa depan.
Dunia yang semakin terintegrasi membutuhkan kepastian waktu yang universal. Kita tidak bisa terus-menerus terjebak dalam dikotomi lokalitas dalam ibadah yang bersifat global. Mungkin hari ini khgt masih dipandang skeptis oleh sebagian pihak. Namun, saya berkeyakinan 5 atau 10 tahun ke depan, ketika kebutuhan akan kepastian sistem penanggalan Islam global tak lagi bisa ditunda, semua akan sepakat bahwa satu kalender Islam global adalah solusi.
Penutup
Muhammadiyah tidak sedang ingin tampil beda demi popularitas. Muhammadiyah sedang membaca masa depan dengan kacamata ilmu pengetahuan dan kemurnian agama. Jika sejarah terus berulang dengan pola yang sama, maka kita hanya perlu bersabar menanti waktu yang akan membuktikan kebenaran ijtihad tersebut.
Sebab pada akhirnya, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri, dan semua akan… “Muhammadiyah pada waktunya.”
Oleh: Yaya Mulya Mantri
(Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Bandung)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































