Apa yang harus kita pikirkan tentang Mao Zedong? Sejarah mencatatnya sebagai pemimpin revolusi, arsitek Republik Rakyat Tiongkok, sekaligus tokoh kontroversial yang kebijakannya menimbulkan luka panjang. Namun ada sisi lain yang kerap luput dari percakapan publik: Mao sebagai penyair.
Ulasan Jonah Raskin atas The Poems of Mao Zedong terjemahan Willis Barnstone membuka ruang untuk melihat Mao bukan hanya sebagai figur politik, melainkan sebagai subjek estetik. Dari sana, muncul pertanyaan yang lebih dalam: apakah mungkin memisahkan Mao sang revolusioner dari Mao sang penyair?
Jawaban singkatnya: tidak sepenuhnya.
Puisi-puisi Mao lahir dari pengalaman sejarah yang keras seperti Long March, perang saudara, perebutan kekuasaan. Banyak lariknya secara terbuka memuliakan ketahanan, perjuangan, dan kemenangan. “The Red Army is not afraid of hardship on the march,” tulisnya dalam “The Long March.” Ini bukan sekadar catatan puitik; ini adalah kalimat yang berfungsi sebagai pengobar semangat.
Namun di balik nada heroik itu, ada sisi lain yang lebih sunyi. Dalam puisi “The Gods,” yang ditujukan bagi istri dan saudara perempuannya yang dieksekusi lawan politik, Mao menutup dengan citra yang menggetarkan: “Tears fly down from a great upturned bowl of rice.” Di sini, Mao tidak berbicara sebagai pemimpin massa, melainkan sebagai manusia yang kehilangan. Imaji mangkuk nasi terbalik menyiratkan duka yang domestik, dekat, dan sangat personal.
Kontradiksi inilah yang membuat puisi Mao menarik dibaca dari perspektif kesusastraan. Ia adalah pemimpin revolusi yang menulis dalam bentuk klasik, mengambil model dari puisi era Tang dan Song. Ia tidak memutus diri dari tradisi, meskipun secara politik bertekad membangun tatanan baru. Di tengah semangat menggulingkan “yang lama”, ia justru memelihara bentuk lama dalam bahasa.
Di titik ini, Mao tampak tidak sekadar sebagai penyair propaganda. Ia adalah produk kebudayaan Tiongkok yang panjang, di mana puisi menjadi bagian dari etika kepemimpinan. Dalam tradisi klasik, menulis puisi adalah tanda kedalaman batin seorang cendekiawan atau penguasa. Mao, yang tumbuh dengan kecintaan pada sastra klasik, tampaknya menyadari posisi simbolik itu.
Raskin sendiri menulis dengan gaya esai reflektif. Ia tidak menyajikan kritik akademik yang kering, melainkan memadukan sejarah, pengalaman generasional, dan rujukan budaya populer. Ia mengingat bagaimana pada dekade 1960-an, Mao menjadi ikon global yaitu dari buku kecil merah yang dikutip di jalanan hingga potret ikonik Andy Warhol. Mao bukan hanya pemimpin negara; ia menjelma simbol.
Menariknya, Raskin juga mengakui keterlibatan emosional generasinya dalam “mitos Mao”. Ada pengakuan bahwa banyak intelektual Barat pernah melihat Revolusi Tiongkok sebagai sesuatu yang murni dan menjanjikan. Namun seiring waktu, penilaian itu berubah. Setelah Mao wafat pada 1976, berbagai biografi dan kajian kritis menghadirkan potret yang lebih kompleks, bahkan kelam.
Dalam konteks itu, terjemahan Barnstone hadir bukan untuk menghakimi, melainkan untuk membaca. Ia menempatkan Mao sebagai penyair yang layak diperhitungkan. Barnstone menekankan bahwa puisi Tiongkok sangat bertumpu pada citraan, dan citraan relatif lebih mudah melintasi batas bahasa. Maka pembaca ber bahasa Inggris dan kini pembaca Indonesia dapat merasakan lanskap yang digambarkan Mao: gunung bersalju, sungai Yangzi, kuda, langit, dan bulan.
Puisi “Snow” adalah salah satu yang paling populer. Di sana, Mao menulis, “Mountains dance like silver snakes.” Alam tidak hadir sebagai latar pasif, melainkan bergerak dan hidup. Gunung menari, lanskap berdenyut. Bahkan di tengah perang, Mao masih melihat keindahan.
Di sinilah letak paradoksnya. Ia adalah pemimpin dalam masa kekerasan politik, tetapi puisinya tidak dipenuhi obsesi gelap atau klaim kosmis yang megalomanik. Dibandingkan dengan penyair-politisi lain yang lariknya sarat glorifikasi diri, Mao relatif lebih terkendali. Ia memang menampilkan “aku” yang kuat, tetapi tidak selalu sebagai pusat semesta. Kadang ia tampil sebagai pengamat, kadang sebagai bagian dari arus sejarah yang lebih besar.
Perbandingan Raskin dengan Walt Whitman membantu menjelaskan hal ini. Seperti Whitman yang mengidentikkan diri dengan Amerika, Mao sering mengidentikkan diri dengan Tiongkok. Namun jika Whitman ekspansif dengan baris panjang yang mengalir, Mao tetap setia pada kepadatan klasik. Suaranya lebih terukur, lebih disiplin.
Pada akhirnya, membaca puisi Mao bukan berarti menutup mata terhadap sejarah politiknya. Justru sebaliknya, pembacaan estetik membuka lapisan lain dari seorang tokoh yang sering dipandang secara hitam-putih. Puisi memperlihatkan bahwa bahkan figur paling monumental pun menyimpan ruang sunyi dan ruang di mana ia berbicara tentang kehilangan, alam, dan kefanaan.
Mungkin di situlah relevansinya hari ini. Di tengah kecenderungan mengultuskan atau sepenuhnya meniadakan tokoh sejarah, pendekatan kesusastraan mengajak kita melihat kompleksitas. Mao tetaplah tokoh besar dengan warisan kontroversial. Namun melalui puisi-puisinya, kita diingatkan bahwa sejarah tidak hanya dibentuk oleh pidato dan kebijakan, melainkan juga oleh kata-kata yang mencoba menangkap getar zaman.
Di antara revolusi dan sunyi, Mao meninggalkan jejak dalam bahasa. Dan bahasa, seperti sejarah, selalu membuka ruang tafsir yang tak pernah benar-benar selesai.
Sumber : Mao Zedong: Chinese, Communist, Poet. by Jonah Raskin, Geography : Asia, Subject : Media Literature, Issue: Vol. 61, No. 01 (May 2009)
*Reviewer By : LA MEMA PARANDY
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































