Bayangkan sebuah organisasi seperti tubuh manusia. Jika informasi adalah darah, maka komunikasi adalah sistem pembuluh darah yang mengalirkannya ke seluruh organ. Tanpa aliran yang lancar, tubuh tak bisa berfungsi optimal. Di era yang serba cepat dan penuh perubahan ini, memahami bagaimana komunikasi bekerja dalam organisasi menjadi kunci bukan hanya untuk bertahan, tapi juga untuk berkembang.
Namun, komunikasi organisasi bukanlah hal yang sederhana. Ada banyak cara untuk memandang dan memahaminya. Mari kita jelajahi beberapa perspektif teori yang bisa membantu kita mencerna dinamika ini dengan lebih baik.
Dua Lensa Berbeda: Melihat Organisasi sebagai Mesin vs. Organisme Hidup
Pertama, kita perlu tahu bahwa ada dua sudut pandang utama dalam mempelajari komunikasi organisasi: perspektif objektif dan subjektif.
Perspektif Objektif melihat organisasi seperti sebuah mesin yang dirancang rapi. Ada struktur jelas, peran yang tertulis, aturan yang harus diikuti, dan komunikasi berfungsi terutama untuk mengontrol dan mengkoordinasi bagian-bagian mesin itu agar bekerja sesuai rencana. Manusia di sini dianggap sebagai “roda yang berputar” sehingga perlu disesuaikan dengan mesin.
Perspektif Subjektif, sebaliknya, melihat organisasi sebagai sesuatu yang hidup dan dinamis, yang lahir dari interaksi antar anggotanya. Organisasi bukanlah sebuah kotak yang kaku, melainkan jaringan makna yang terus diciptakan bersama melalui percakapan, cerita, dan nilai-nilai yang dibangun. Di sini, manusialah yang membentuk organisasi, bukan sebaliknya.
Dua lensa ini memberikan warna yang sangat berbeda. Yang satu fokus pada struktur dan kontrol, yang lain pada makna dan interaksi. Dalam praktiknya, organisasi modern seringkali adalah perpaduan dari keduanya.
Teori-Teori yang Membentuk Cara Pandang Kita
Berangkat dari dua perspektif dasar itu, para ahli telah mengembangkan berbagai teori untuk menjelaskan fenomena komunikasi organisasi. Mari kita ulas beberapa yang relevan dengan konteks kekinian:
Teori Ketergantungan Sumber Daya: Teori ini mengingatkan kita bahwa keputusan strategis (seperti merger atau bentuk kemitraan) sangat dipengaruhi oleh kebutuhan akan sumber daya dari luar. Pelajaran untuk kita: Kolaborasi dan jaringan (networking) bukan sekadar pilihan, tapi kebutuhan hidup bagi organisasi modern.
Teori Institusional: Pernah bertanya-tanya mengapa semua startup tech terlihat mirip? Atau mengapa perusahaan berlomba mendapat sertifikasi ISO? Ini adalah bukti Teori Institusional. Organisasi cenderung menyesuaikan diri dengan tekanan eksternal Teori Institusional: Pernah bertanya-tanya mengapa semua startup tech terlihat mirip? Atau mengapa perusahaan berlomba mendapat sertifikasi ISO? Ini adalah bukti Teori Institusional. Organisasi cenderung menyesuaikan diri dengan tekanan eksternal seperti regulasi pemerintah, tren industri, atau ekspektasi masyarakat untuk mendapat legitimasi dan diterima. Mereka bisa meniru organisasi lain yang dianggap sukses (mimetic), mengikuti tekanan hukum (coercive), atau mengadopsi standar profesional (normative).
Teori Ekologi Organisasi: Teori ini mengambil metafora dari dunia biologi. Populasi organisasi (misalnya, perusahaan fintech) akan mengalami “seleksi alam”. Yang kuat dan cocok dengan lingkungan akan bertahan, yang lemah akan punah. Perubahan besar lebih sering terjadi karena kelahiran organisasi baru dengan DNA yang lebih adaptif, bukan karena perubahan radikal dari organisasi lama. Refleksi: Inovasi dan kelincahan (agility) adalah “antibodi” untuk bertahan dalam persaingan yang ketat.
Teori Komunikasi-Kewenangan (Chester Barnard): Pimpinan memberi perintah, lalu bawahan langsung menjalankan? Tidak semudah itu. Barnard mengatakan, wewenang atasan hanya efektif jika diterima oleh bawahan. Penerimaan ini bergantung pada empat hal: pesannya harus dimengerti, dianggap selaras dengan tujuan organisasi, dirasa menguntungkan bagi si penerima, dan mampu untuk dilaksanakan. Pesan kunci: Kepemimpinan yang otoritatif bukan tentang title, tapi tentang menciptakan komunikasi yang persuasif dan memungkinkan.
Teori Fusi (Bakke & Argyris): Teori ini menangkap tarik-ulur yang selalu ada antara individu dan organisasi. Individu punya kebutuhan untuk berkembang, kreatif, dan diakui. Sementara, organisasi formal seringkali menuntut kepatuhan, spesialisasi, dan kontrol. Ketegangan ini wajar. Implikasinya: Organisasi yang sehat adalah yang mampu “melebur” (fusi) kebutuhan kedua belah pihak, menciptakan ruang bagi individu untuk berkembang sambil tetap mengarah pada tujuan bersama.
Teori Peniti Penyambung (Likert): Gambarkan organisasi dengan hierarki yang sangat kaku, di mana komunikasi dan pengaruh lebih banyak mengalir ke atas (dari bawahan ke atasan) dalam konteks pelaporan, tetapi keputusan dan arahan mengalir kuat ke bawah. Model ini menggambarkan struktur komando-dan-kontrol yang klasik. Relevansi saat ini: Banyak organisasi modern berusaha meratakan struktur ini untuk mendorong komunikasi lateral dan kolaborasi lintas tim.
Pada akhirnya, teori-teori ini mengingatkan kita satu hal sederhana: organisasi apapun pada dasarnya adalah kumpulan manusia yang berkomunikasi. Dengan membangun komunikasi yang efektif, inklusif, dan adaptif, kita tidak hanya menggerakkan mesin organisasi, tetapi juga memberdayakan manusia di dalamnya untuk bersama-sama menginspirasi perubahan. Mari jadikan komunikasi bukan sekadar alat, tapi jiwa dari organisasi modern yang kita bangun.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































