Santet, kosakata yang tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, sesuatu yang kerap dibicarakan apabila bersinggungan dengan dunia mistis yang sarat logika. Santet adalah praktik budaya yang sudah lama berada dalam masyarakat Indonesia dan biasanya dianggap sebagai bentuk sihir atau ilmu hitam yang diyakini dapat memberikan rasa sakit atau bahkan kematian bagi targetnya. Fenomena ini cukup menarik, karena meskipun santet berasal dari ranah spiritual dan mistis, seringkali menghasilkan gejala fisik yang tampak nyata. Korban santet kerap kali mengalami gejala yang nyata secara fisik, seperti rasa nyeri, mual, gangguan tidur, hingga kematian mendadak. Fenomena serupa juga ditemukan dalam budaya lain, seperti “voodoo death” di Haiti dan Afrika, yang menunjukkan pola umum mengenai bagaimana keyakinan negatif dan ketakutan intens dapat berpengaruh terhadap kondisi fisik seseorang.
Menurut sudut pandang ilmiah, fenomena santet dapat dijelaskan melalui konsep nocebo effect, yaitu mekanisme di mana keyakinan negatif dan ketakutan dapat memperkuat gejala penyakit. Ketika seseorang percaya bahwa dirinya telah menjadi target oleh pengirim santet, otak mereka akan merespons seolah-olah sedang menghadapi ancaman yang nyata. Amigdala, atau bagian otak yang berfungsi untuk memproses rasa takut, menjadi aktif dan memicu sistem saraf simpatik. Hal ini menyebabkan pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin yang menggerakkan respons “fight or flight” dalam tubuh. Jika aktivasi stres berlangsung cukup lama dan berulang, hal ini dapat menimbulkan gejala nyeri, mual, gangguan tidur, bahkan masalah jantung yang serius.
Penelitian menunjukkan bahwa stres psikologi yang ekstrem dapat memicu takotsubo cardiomyopathy, yaitu seuah kondisi jantung yang dipicu oleh stress emosional. Dalam kasus yang ekstrem, aktivasi stres yang tidak terkendalikan dapat menyebabkan kematian mendadak, seperti yang teramati dalam tradisi “voodoo death”. Namun, penting untuk mencatat bahwa gejala yang dialami korban santet adalah nyata secara biologis. Walaupun pemeriksaan medis tidak dapat menemukan penyebab organik, persepsi rasa nyeri dan gejala fisik lainnya benar-benar dihasilkan oleh mekanisme neurologis yang aktif di dalam otak dan tubuh sang korban.
Melalui sudut pandang biopsikologi, fenomena ini dapat dipahami sebagai hasil interaksi antara emosi, persepsi ancaman, dan respons fisiologis tubuh dalam menciptakan penyakit psikosomatis. Dengan meninjau mekanisme neurologis dan fisiologis yang terlibat, tulisan ini berupaya menjelaskan mengenai bagaimana fenomena santet dapat dipahami secara ilmiah dengan menggambarkan bagaimana sistem saraf pusat, hormon stres, dan persepsi bekerja dalam menentukan kesejahteraan manusia.
Santet sebagai Persepsi Ancaman
Menurut perspektif biopsikologi, tidak hanya stimulus fisik yang dapat memengaruhi pengalaman “terkena santet”, melainkan juga cara otak dalam memproses informasi berdasarkan pengalaman, emosi, dan konteks budaya. Persepsi ancaman merupakan proses aktif yang melibatkan interpretasi terhadap sinyal internal maupun eksternal. Individu yang tinggal dalam lingkungan dengan kepercayaan santet lebih kuat akan lebih mungkin untuk menfasirkan sensasi tubuh normal seperti nyeri otot atau kelelahan sebagai tanda gangguan gaib. Ketika kepercayaan dam harapan memengaruhi cara otak memproses sensasi, hal ini disebut sebagai top-down processing.
Dalam konteks ini, sistem limbik memainkan peran yang sangat penting. Struktur otak seperti amigdala dan hipokampus menyimpan ingatan emosional serta pengalaman mengancam yang mendorong interpretasi negatif terhadap sensasi tubuh. Ketika ekspektasi santet telah terbentuk, otak mendeteksi bahaya lebih cepat mekipun tidak ada ancaman yang jelas. Hal ini dapat menjelaskan mengapa individu dapat mengalami gejala yang sangat parah hanya karena sugesti atau ketakutan yang kuat.
Neurosains dan efek nocebo
Penelitian neurosains saat ini menunjukkan bahwa kejadian seperti santet dapat dijelaskan oleh nocebo effect, yaitu kondisi ketika ekspektasi negatif dapat menyebabkan gejala fisik yang nyata. Berbeda dengan placebo effect yang justru menimbulkan rasa nyaman dengan melepaskan endorfin dan dopamin, nocebo justru mengaktifkan sistem stres tubuh, meningkatkan hormon kortisol dan kolesistokinin yang memperkuat rasa nyeri, kecemasan, dan ketegangan fisik.
Mekanisme Neurologis Persepsi Ancaman
Ketika informasi ancaman mengenai santet diproses oleh korteks prefrontal dan dikirim menuju amigdala dan mendapat respons cepat melalui sistem limbik, amigdala akan mengaktifkan hipotalamus yang akan memicu aksis HPA yang melepaskan glukokortikoid dan adrenokortikotropik hormone (ACTH). Respons ini mengakibatkan vasokontraksi, takikardia, dan hiperfokus sensorik pada sinyal tubuh normal yang dianggap sebagai patologi dan meningkatkan aktivitas sistem saraf otonom simpatik. Aktivasi sumbu stres ini melepaskan kortisol dan adrenalin, yaitu hormon yang berfungsi untuk mempersiapkan tubuh dalam menghadapi bahaya. Respons ini dapat disebabkan oleh ketakutan atau sugesti yang kuat, khususnya jika berlangsung secara terus-menerus.
Hubungan dengan Psikosomatis dan Santet
Fenomena santet merupakan contoh aplikasi ekstrem nocebo, di mana keyakinan budaya menyebabkan psychogenic symptomps seperti rasa nyeri walaupun tidak ada kerusakan organik. Penelitian psychoneuroimmunoogi menunjukkan bahwa stres nocebo jangka panjang dapat menekan sistem kekebalan tubuh melalui peningkatan kortisol dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi sekunder. Sama halnya dengan kasus “voodoo death” yang di mana aktivasi simpatik ekstrem ini menyebabkan aritmia fatal atau stres cardiomyopathy.
Integrasi Tubuh dan Persepsi
Menurut pendekatan biopsikologi, pengalaman manusia dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya. Kepercayaan terhadap santet dapat membentuk pola pikir sedemikian rupa yang kemudian dapat memengaruhi persepsi ancaman, pengendalian emosi, dan respons fisiologis. Dengan mengintegrasikan budaya dan mekanisme biologis, fenomena santet dapat dipahami sebagai hasil dari interaksi yang kompleks antara sistem saraf, hormon stres, dan keyakinan masyarakat. Pemahaman ini menunjukkan bahwa tubuh manusia sangat peka terhadap makna, simbol, dan sugesti yang ada di lingkungan sosialnya.
Kesimpulan
Meskipun berakar pada kepercayaan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia, fenomena santet dapat dijelaskan secara ilmiah dengan menggunakan nocebo effect dan neurosains kontemporer. Studi kasus ini menunjukkan bahwa gejala fisik yang dialami korban santet, seperti nyeri tajam, mual, gangguan tidur, dan kematian mendadak adalah bukti aktivasi neurologis dan fisiologis yang kompleks.
Hasil penelitian neurosains menunjukkan bahwa area otak seperti amigdala, ACC, insula, dan PAG bertanggungjawab untuk meningkatkan sensitivitas terhadap nyeri dan meningkatkan persepsi ancaman. Aktivasi stres yang berlebihan dan terus-menerus dapat memicu respon yang berdampak nyata pada tubuh.
Dengan demikian, fenomena santet bukan hanya masalah kepercayaan, namun juga menunjukkan bagaimana pikiran, emosi, dan sistem tubuh saling berinteraksi satu sama lain. Melalui pendekatan biopsikologi, hal ini memungkinkan kita untuk memahami lebih lanjut tentang fenomena ini secara ilmiah dan objektif tanpa mengabaikan konteks budaya yang berada di sekitarnya.
Referensi:
Abdillah, Moh. D. (2025). Santet Perspective Mind Technology. Maliki Interdisciplinary Journal (MIJ), 3(Mei), 1641–1645. http://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mij/index
Esmeria, Selwyn Kenneth, Lumbera, Fritz Gerald B., Magat, Wilking D.P., Reyes, Ma. Cristel Angela S., Roque, Ghicky Rhey B., Michael Jo S. Guballa (2024). Understanding the Influence of Traditional Beliefs on Mental Well-being: A Qualitative Inquiry. International Journal of Research and Innovation in Social Science (IJRISS), 8(03), 1554-1590. https://doi.org/https://dx.doi.org/10.47772/IJRISS.2024.803115
Nayeri, A., Rafla-Yuan, E., Krishnan, S., Ziaeian, B., Cadeiras, M., McPherson, J. A., & Wells, Q. S. (2018). Psychiatric Illness in Takotsubo (Stress) Cardiomyopathy: A Review. Psychosomatics, 59(3), 220–226. https://doi.org/10.1016/j.psym.2018.01.011
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”




































































