Pendidikan selama ini masih sering dipahami sebagai proses mengejar capaian akademik. Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung menjadi tolok ukur utama keberhasilan peserta didik, sementara nilai ujian dan peringkat kelas dianggap sebagai representasi kualitas pendidikan. Orientasi semacam ini membuat pendidikan kerap terjebak pada rutinitas akademik, tanpa cukup memberi ruang bagi pembentukan keterampilan hidup yang justru sangat dibutuhkan dalam kehidupan nyata. Padahal, tujuan pendidikan tidak hanya mencetak individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga mampu hidup mandiri, bertanggung jawab, dan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.
Tidak dapat dimungkiri bahwa kecakapan intelektual memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir peserta didik. Pendidikan akademik melatih kemampuan analitis, logis, dan sistematis yang menjadi bekal dalam memahami ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi. Namun, realitas menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak selalu cukup. Banyak peserta didik mampu meraih prestasi akademik tinggi, tetapi mengalami kesulitan dalam bekerja sama, mengelola emosi, mengambil keputusan sederhana, atau bertanggung jawab terhadap tugas-tugas kehidupan sehari-hari.
Di sinilah life skill seharusnya mendapat perhatian yang lebih serius. Keterampilan hidup seperti disiplin, tanggung jawab, kemandirian, komunikasi, dan kepedulian sosial bukanlah kemampuan tambahan, melainkan fondasi penting untuk menghadapi kehidupan di luar sekolah. Jika pendidikan hanya berorientasi pada pencapaian akademik, peserta didik berisiko tumbuh menjadi pribadi yang bergantung, pasif, dan kurang siap menghadapi tantangan sosial. Oleh karena itu, life skill perlu diintegrasikan secara sadar dalam proses pembelajaran dan budaya sekolah melalui pembiasaan yang konsisten.
Guru memegang peran strategis dalam penguatan life skill peserta didik. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan dan fasilitator pengalaman belajar. Integrasi life skill dapat dilakukan melalui pembelajaran berbasis proyek, kerja kelompok, diskusi kelas, serta pemberian tanggung jawab sederhana kepada peserta didik. Melalui strategi tersebut, peserta didik belajar menyelesaikan masalah nyata, bekerja sama, dan mengambil keputusan secara mandiri dalam konteks pembelajaran.
Sebagai contoh, praktik pendidikan anak usia dini di China menunjukkan bahwa pengembangan life skill dapat dimulai sejak usia dini. Anak-anak taman kanak-kanak dibiasakan merapikan mainan, membersihkan ruang kelas, serta menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut dilakukan secara rutin dan bersama-sama, bukan sebagai bentuk hukuman. Melalui pembiasaan ini, anak belajar bahwa tanggung jawab dan kemandirian merupakan bagian alami dari kehidupan sehari-hari. Praktik semacam ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah di Indonesia dengan menyesuaikannya pada konteks budaya dan kondisi masing-masing.
Namun, penerapan pendidikan berbasis life skill bukan tanpa tantangan. Kurikulum yang padat, tuntutan pencapaian nilai, serta pola penilaian yang masih dominan akademik sering kali menjadi hambatan bagi guru. Selain itu, masih terdapat pandangan sebagian orang tua yang menganggap keberhasilan pendidikan semata-mata diukur dari prestasi akademik. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama antara sekolah, guru, dan orang tua untuk memandang life skill sebagai bagian penting dari keberhasilan pendidikan.
Pandangan ini sejalan dengan teori belajar humanistik dan konstruktivisme yang menekankan bahwa pendidikan harus mengembangkan manusia secara utuh dan memberi pengalaman belajar yang bermakna. Teori tersebut memperkuat gagasan bahwa pembelajaran berbasis life skill memiliki landasan konseptual yang jelas, bukan sekadar praktik informal, karena menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses belajar.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak semestinya diukur hanya melalui angka dan peringkat, melainkan melalui kesiapan peserta didik dalam menjalani kehidupan secara mandiri dan bertanggung jawab. Pendidikan perlu berani menggeser orientasinya dari sekadar pencapaian akademik menuju penguatan keterampilan hidup. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya mencerdaskan secara intelektual, tetapi juga memanusiakan peserta didik secara utuh.
Oleh : Nava Herlinda, Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pamulang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































