Sejak kecil, manusia belajar tentang cinta melalui pengalaman, bukan hanya melalui kata-kata. Kita bisa merasakannya dari kehadiran orang tua, dari kenyamanan berada di dekat orang yang kita percayai, dari hubungan pertemanan, dan kadang melalui cerita yang kita temui di buku, film, atau lagu-lagu yang kita sukai. Namun, semakin bertambah usia, kita mulai memahami bahwa cinta dan keterikatan tidak selalu berjalan stabil hubungan berubah, keadaan tak selalu baik, dan terkadang kita harus belajar melepaskan.
Ketika hubungan dalam bentuk apa pun berakhir atau berubah, proses move on sering kali menjadi pengalaman yang menantang. Dalam kehidupan sehari-hari maupun di media sosial, terkadang muncul pertanyaan-pertanyaan di benak kita: mengapa sebagian orang tampak lebih mudah melalui dan beradaptasi dibandingkan yang lain? Apakah kehilangan tersebut tidak berarti bagi mereka? Atau apakah move on hanya membutuhkan pengganti baru yang mengisi ruang yang ditinggalkan?
Pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena grief bukan hanya reaksi emosional terhadap kehilangan romantis. Kehilangan dapat berupa putusnya hubungan persahabatan, perubahan dinamika keluarga, kematian orang terdekat, bahkan berakhirnya fase hidup yang selama ini memberi struktur dan identitas. Hal yang menyatukan semua pengalaman tersebut adalah keberadaan cinta dan keterikatan sebelumnya. Ketika koneksi yang bermakna hilang, otak merespons dengan duka. Seperti ungkapan yang familiar, grief is the price we pay for love.
Dari perspektif biopsikologi, cinta dan atachment melibatkan mekanisme biologis yang kompleks. Ketika seseorang membentuk ikatan emosional, sistem reward di otak mengeluarkan dopamin yang berkerja untuk menimbulkan rasa senang, motivasi, dan terdapat keinginan untuk mempertahankan kedekatan. Hormon oksitosin dan vasopresin juga berperan dalam pembentukan rasa percaya dan koneksi sosial (Carter, 2014; Fisher, 2016).
Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa cinta dan keterikatan dapat memengaruhi kemampuan kritis otak. Penurunan aktivitas prefrontal cortex yaitu bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan dan evaluasi rasional yang ditemukan dalam pengalaman keterikatan yang kuat (Fisher, 2016). Hal ini menjelaskan mengapa seseorang dapat tetap bergantung pada hubungan tertentu meskipun terdapat risiko atau konflik.
Monique Wonderly (2017) mendefinisikan security-based attachment melalui tiga karakteristik: pertama, adanya keinginan berkelanjutan untuk terhubung dengan individu tertentu; kedua, munculnya penurunan rasa aman ketika terjadi pemisahan; dan ketiga, meningkatnya rasa aman ketika hubungan kembali dekat. Definisi ini menunjukkan bahwa keterikatan merupakan sistem regulasi keamanan internal, bukan sekadar perasaan.
Ketika hubungan tersebut berakhir, otak bereaksi terhadap kehilangan itu seperti kehilangan sumber regulasi biologis. Penelitian menemukan bahwa putusnya keterikatan dapat memicu respons yang menyerupai gejala withdrawal ketika seorang pecandu melakukan detox, karena stimulasi dopamin dan oksitosin yang sebelumnya terasosiasi pada individu tersebut kini tidak tersedia (Burkett & Young, 2012). Sistem separation distress yang dijelaskan Panksepp (2012) mengaktifkan jalur saraf yang terasa sama dengan rasa sakit fisik, sehingga fenomena “sakit hati” memiliki dasar neurobiologis yang nyata.
Melalui perspektif ini, moving on dapat dipahami bukan sebagai tindakan melupakan, melainkan sebagai proses neural rewiring: otak secara bertahap membangun jalur baru, menurunkan sensitivitas terhadap stimulus emosional lama, dan membentuk sumber regulasi emosional yang berbeda. Proses ini membutuhkan waktu karena otak tidak hanya menghapus memori, tetapi menata ulang sistem biologis yang sebelumnya bergantung pada keterikatan tersebut.
Dengan demikian, kemampuan untuk melanjutkan hidup setelah kehilangan bukanlah ukuran kekuatan emosional atau tanda bahwa hubungan sebelumnya tidak bermakna. Sebaliknya, hal itu merupakan bagian dari kemampuan adaptif otak manusia untuk bertahan, berubah, dan dengan perlahan membangun ulang pengalaman emosionalnya seiring berjalannya waktu.
Daftar Pustaka
Burkett, J. P., & Young, L. J. (2012). The behavioral, anatomical and pharmacological parallels between social attachment, love and addiction. Psychopharmacology, 224(1), 1–26.
Carter, C. S. (2014). Oxytocin pathways and the evolution of human behavior. Annual Review of Psychology, 65, 17–39.
Fisher, H. (2016). The anatomy of love: A natural history of mating, marriage, and why we stray. W. W. Norton & Company.
Panksepp, J., & Biven, L. (2012). The archaeology of mind: Neuroevolutionary origins of human emotions. W. W. Norton & Company.
Wonderly, M. (2017). Love and attachment. American Philosophical Quarterly, 54(3), 235–250.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































