Pernahkah kamu mencium aroma misalnya parfum lama, sabun, kue ataupun aroma lain bisa membuatmu teringat suatu kenangan yang dulu pernah kamu alami bahkan nyaris terlupakan dan mengapa rasanya hal tersebut menjadi sangat emosional? Banyak orang bilang pernah mengalami hal tersebut, sehingga seolah dapat bertemu lagi dengan suasana, kenangan dan orang yang sangat membekas di hati pada masa itu hanya dengan mencium aroma seperti parfum lama.
Fenomena ini bukan kebetulan dan hanya perasaan personal semata lho, tetapi dibalik itu ada proses kompleks pada sistem penciuman kita yang bisa dijelaskan dalam perspektif neurosains.
Setiap hirupan parfum yang membawamu ke masa lalu merupakan bagian dari proses kognitif yang disebut odor-evoked-autobiographical memory atau lebih populer lagi dikenal sebagai proust effect. Fenomena ini menjadi topik hangat dalam neuorosains karena aroma ternyata terbukti lebih kuat memicu memori emosional dibandingkan indra kita yang lain.
Artikel ini akan mengupas bagaimana indra penciuman bekerja ketika parfum menjadi mesin waktu yang membawa kita ke masa lalu dan mengapa aroma sangat efektif membangkitkan jalur jalur memori yang begitu terasa sangat emosional. Let’s check it out!
Terdapat jalur pintas ke wilayah otak yang mengatur emosi dan memori
Salah satu alasan aroma bisa memicu kenangan yang sangat kuat adalah karena jalur penciuman kita memiliki jalan pintas yang menghubungkan dengan struktur limbik, wilayah otak yang mengatur emosi dan memori. Tidak seperti indra penglihatan dan pendengaran yang harus melewati thalamus terlebih dahulu dan mengalami beberapa proses, sinyal aroma yang disambut reseptor hidung diteruskan ke olfactory bulb kemudian secara langsung menuju ke amigdala dan hippocampus. Keunikan ini menjadi penting untuk kita ketahui karena sistem olfaktori memotong jalur itu sehingga aroma bisa langsung mencapai pusat memori dan emosi tanpa perantara besar.
Dalam jurnal Frontiers in Systems Neuroscience, para peneliti mengungkap bahwa olfactory bulb memiliki kaitan dengan monosynaptic ke amigdala medial dan hippocampal formation. Dengan kata lain, ketika seseorang menghirup aroma tertentu, otak tidak hanya mengenali aroma itu, tetapi juga langsung memproses perasaan emosional dan mengakses memori lain yang berkaitan, dimana semua terasa sangat cepat dan intens. Karena hubungan ini juga, aroma mempunyai kemampuan besar untuk mengikat memori personal dan emosional secara mendalam, kadang tanpa sadar.
Bagaimana Aroma Mengetuk Emosi dan Memori kita?
Konsep ketika aroma tertentu dapat memicu ingatan emosional yang kuat dari masa lalu, bahkan puluhan tahun kemudian dikenal sebagai odor-evoked memory. Ini berbeda dari sekadar mengenali aroma, tapi lebih ke memunculkan kembali memori episodik (kenangan spesifik) yang pernah dialami. Penelitian yang dipublikasikan oleh Nature Neuroscience mengungkapkan bahwa neuron di amigdala tidak hanya bertugas mengolah valensi emosional suatu aroma, apakah menyenangkan atau tidak? tetapi juga menggabungkan konteks pengalaman saat aroma tersebut pertama kali dikenali. Sementara itu, hippocampus bertugas menyimpan dengan detail tempat, waktu, dan suasana yang kita rasakan. Oleh karena itu, ketika kita menghirup parfum lama, otak kita bukan sekedar mengingat “aroma ini familiar deh”, tetapi juga “waktu dan suasana apa ya saat itu?”. Hal tersebut, yang membuat aroma seperti parfum lama bisa membuka kembali kenangan masa lalu yang kuat.
Indra Penciuman Lebih Kuat dalam Menggugah Emosi dan Memori
Dalam Nature Communications, sebuah penelitian pada tahun 2022 menyatakan bahwa aroma lebih efektif untuk memicu ingatan masa lalu dibandingkan dengan isyarat visual dan audio. Peneliti menemukan peningkatan signifikan dalam aktivitas di korteks orbitofrontal, yaitu daerah yang berperan dalam persepsi bau dan evaluasi emosi ketika seseorang mencium aroma yang berkaitan dengan pengalaman masa kecil. Aktivasi ini selaras dengan aktivitas di hippocampus, yang menunjukkan adanya hubungan kuat antara persepsi bau dan ingatan autobiografis seseorang.
Sementara itu, penelitian lain yang dipublikasikan di jurnal Neurobiology of Learning and Memory menunjukkan bahwa memori yang dipicu oleh aroma cenderung lebih detail, lebih emosional, dan sering kali bersifat positif dibandingkan memori yang muncul dari indra lain. Hal ini menjelaskan mengapa nostalgia yang dibangkitkan oleh aroma sering kali terasa hangat dan menyentuh, meskipun tidak selalu akurat secara objektif.
Nah, teman-teman sekarang jadi tahu kan, tentang fenomena yang relate ini. Bahwa ternyata parfum lama atau aroma tertentu yang bisa mengembalikan cuplikan kenangan masa lalu itu ternyata bukan hanya mitos atau perasaan pribadi yang kebetulan, melainkan ada proses kompleks tentang cara kerja otak kita. Selain itu, jalur indra penciuman memiliki hubungan langsung ke bagian otak yang mengatur memori dan emosi, yaitu hippocampus dan amygdala, dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemampuan mencium berkaitan dengan struktur otak serta kemampuan untuk mengubah dan menyimpan memori. Disinilah letak keunikan tubuh manusia khususnya otak dan indra penciuman, yang bisa membawa kita seperti menjelajahi mesin waktu hanya dengan mencium aroma yang penuh kenangan itu!
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”





































































