Desa Tanjung Seteko, 22 Oktober — Suasana hangat tampak di halaman rumah Ibu Haiyati, salah satu pelaku usaha kerajinan telindak di Desa Tanjung Seteko. Dengan cekatan, tangannya merapikan helai demi helai daun atap yang telah dijemur, sebelum kemudian dianyam menjadi telindak—produk tradisional yang kini bernilai ekonomi tinggi berkat kreativitas warga setempat.
Pemberdayaan ekonomi lokal melalui pembuatan telindak mulai mendapatkan perhatian karena memanfaatkan bahan sederhana yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Daun atap yang biasanya hanya dianggap sebagai limbah kini diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat.
Dalam wawancara bersama Nurul Bayanah, mahasiswa Pendidikan Masyarakat, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sriwijaya, Ibu Haiyati menceritakan bagaimana kegiatan ini dimulai dan berkembang.
“Awalnya saya hanya membuat untuk kebutuhan sendiri. Tapi lama-lama banyak warga yang tertarik dan ingin belajar. Dari situlah kegiatan ini berkembang menjadi usaha bersama,” ujar Ibu Haiyati saat ditemui.

Proses pembuatan telindak membutuhkan ketelitian, mulai dari pemilihan daun atap yang tepat, proses penjemuran, hingga teknik anyaman agar telindak kuat dan rapi. Meski tampak sederhana, kerajinan ini memiliki pasar yang cukup menjanjikan, terutama untuk keperluan upacara adat, dekorasi, hingga sebagai produk kerajinan tangan khas daerah.
Ibu Haiyati juga menuturkan bahwa pemberdayaan ini memberikan dampak positif bagi ibu-ibu rumah tangga di sekitar. Selain menambah keterampilan, kegiatan ini mampu menjadi sumber pendapatan tambahan.
> “Kami senang karena bisa menghasilkan sesuatu dari bahan yang mudah didapat. Selain membantu ekonomi keluarga, kegiatan ini juga membuat kami lebih kompak dan saling mendukung,” tambahnya.
Melalui observasi pada tanggal 22 Oktober, diketahui bahwa program pemberdayaan ini tidak hanya memperkuat ekonomi lokal, tetapi juga menjaga kelestarian budaya anyaman tradisional yang hampir punah.
Nurul Bayanah sebagai pewawancara turut mencatat bahwa bentuk pemberdayaan ini menjadi contoh praktik pendidikan masyarakat yang berhasil, karena memadukan kreativitas, kearifan lokal, dan peningkatan kapasitas warga.
Dengan semangat warga dan pendampingan yang terus dilakukan, pembuatan telindak di Desa Tanjung Seteko diperkirakan dapat berkembang menjadi ikon ekonomi kreatif desa, sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas.
Pemberdayaan sederhana namun bermakna ini membuktikan bahwa kreativitas masyarakat desa mampu mengubah bahan biasa menjadi produk bernilai, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal secara mandiri.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”






































































