Komunikasi verbal didefinisikan sebagai komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik secara lisan maupun tulisan. Bentuk komunikasi ini paling banyak dipakai dalam hubungan antarmanusia untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, gagasan, data, dan informasi. Namun, pergeseran komunikasi ke ranah digital—khususnya melalui media sosial seperti X (Twitter) dan Instagram—telah menciptakan tantangan baru terhadap efektivitas komunikasi verbal.
Di ruang digital, muncul fenomena “perang komentar” atau kontroversi publik yang seringkali berakar pada miskomunikasi verbal yang disebut toxic text. Hal ini terjadi ketika pesan teks yang ringkas, tanpa dukungan intonasi lisan, menimbulkan interpretasi negatif yang meluas. Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana unsur dan karakteristik komunikasi verbal—khususnya arti konotatif, jenis dan keringkasan, serta dimensi hubungan—menjadi pemicu utama miskomunikasi dalam kasus viral di media sosial.
II. Telaah Teori: Unsur dan Karakteristik Komunikasi Verbal
Efektivitas komunikasi verbal sangat bergantung pada kata dan bahasa. Kata merupakan lambang terkecil dari bahasa, yang mewakili sesuatu hal. Meskipun demikian, makna kata tidak ada hubungan langsung antara kata dan hal yang diwakilinya; yang berhubungan langsung hanyalah kata dan pikiran orang. Bahasa sendiri adalah suatu sistem lambang yang memungkinkan orang bagi makna.
A. Jebakan Makna: Konotatif vs. Denotatif
Salah satu karakteristik kunci komunikasi verbal adalah perbedaan antara makna konotatif dan denotatif. Arti denotatif adalah memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan. Sebaliknya, makna konotatif adalah pikiran, perasaan, atau ide yang terdapat dalam suatu kata. Di media sosial, pesan verbal disampaikan melalui lambang bahasa tertulis. Di sinilah makna konotatif lebih rentan muncul karena ketiadaan konteks lisan.
B. Keringkasan dan Potensi Keracunan
Komunikasi verbal cenderung berlangsung sederhana, pendek, dan langsung. Di platform digital, fitur batasan karakter semakin mendorong keringkasan pesan. Meskipun keringkasan bertujuan menyampaikan pesan secara jelas dan tegas, modul mencatat, “Bila kata-kata yang digunakan sedikit, maka terjadinya keracunan juga masih sedikit”. Dalam konteks digital, keringkasan justru dapat menghilangkan nuansa dan konteks penting, secara paradoks meningkatkan “keracunan” makna dan memicu misinterpretasi.
C. Dimensi Isi dan Hubungan yang Terputus
Komunikasi memiliki dua dimensi yaitu dimensi isi dan hubungan. Dimensi isi menunjukkan muatan komunikasi, yaitu apa yang dikatakan, sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakannya dan bagaimana penafsirannya. Dalam komunikasi tatap muka, intonasi (nada suara) dan komunikasi nonverbal membantu menyampaikan dimensi hubungan. Namun, di media sosial, dimensi hubungan ini terputus, sehingga publik menafsirkan cara penyampaian (hubungan) hanya melalui pemilihan kata, yang seringkali diasumsikan negatif tanpa adanya bukti nonverbal. Hal ini menegaskan bahwa komunikasi verbal tidak hanya berdiri sendiri, namun berkesinambungan dengan komunikasi nonverbal.
III. Analisis Kasus Viral: Mengurai Ambiguitas Pesan Digital
Kasus viral mengenai Tenxi di media sosial merupakan manifestasi nyata dari kerentanan komunikasi verbal di ruang digital. Tenxi mengeluarkan cuitan di akun X-nya yang kemudian tersebar secara luas — sebuah bentuk komunikasi tertulis (cuitan) yang dimaksudkan sebagai ekspresi pribadi atau candaan (denotatif).
Namun, analisis menunjukkan hal berikut:
Dominasi Arti Konotatif — Publik bereaksi keras terhadap makna konotatif yang dibangkitkan oleh kata kunci “hijabis” dan potongan kata ofensif seperti dalam cuitan “info hijabis tob*ut.” Kata-kata ini, meskipun secara denotatif mungkin dimaksud netral (atau sekadar ungkapan “info tentang hijabis”), oleh banyak orang dikaitkan dengan penghinaan terhadap perempuan berjilbab, sehingga memunculkan emosi, kemarahan, dan penilaian moral.
Kegagalan Dimensi Hubungan — Karena ini komunikasi tertulis tanpa intonasi, ekspresi wajah, atau konteks nonverbal, banyak orang yang menafsirkan cuitan itu sebagai arogan, merendahkan, dan tidak sensitif terhadap perempuan. Mereka tidak hanya bereaksi terhadap “isi” pesan, tetapi juga terhadap “bagaimana” pesan itu disampaikan. Misalnya, posting foto dengan komik bergambar aktivitas seksual, ditambah caption “Happy #S3XS day!”, memperkuat kesan provokatif dan menghina.
Keringkasan Menghilangkan Konteks — Cuitan seperti “info hijabis tob*ut” sangat singkat, yang membuat konteks, maksud awal, atau penjelasan tambahan hilang. Karena demikian ringkas, audiens sulit mengetahui niat sebenarnya — apakah itu candaan, satire, kritik sosial, atau sekadar absurd — sehingga asumsi negatif berkembang dengan cepat.
Akibatnya, publik menafsirkan pesan berdasarkan asosiasi emosional dan norma sosial mereka, bukan atas dasar makna harfiah yang dimaksud pengirim. Konflik persepsi ini memicu kecaman luas dan merusak citra Tenxi meskipun dia popular karena musiknya.
IV. Kesimpulan: Pentingnya Kesadaran Verbal dalam Konten Publik
Kasus viral di media sosial seperti yang dialami Tenxi secara nyata menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi verbal—termasuk komunikasi tertulis—sangat bergantung pada pemahaman komprehensif atas unsur-unsurnya. Komunikasi verbal yang efektif terjadi jika pengirim dan penerima sadar tentang:
Potensi konotatif dari setiap kata yang dipilih, terutama kata dan label sensitif seperti gender, identitas, kelompok, atau kata yang bisa menyinggung norma sosial.
Keterbatasan pesan tertulis dalam menyampaikan dimensi hubungan — intonasi, empati, humor — yang dalam komunikasi tatap muka bisa mudah ditangkap, tapi bisa hilang di dunia maya.
Bahwa pesan singkat (cuitan, caption, komentar) rentan disalahpahami bila tidak disertai penjelasan, konteks, atau klarifikasi — terutama ketika menyentuh isu sosial, identitas, atau moral.
Oleh karena itu, penyampaian pesan verbal di ranah publik digital membutuhkan kesadaran tinggi: memilih kata dengan hati-hati, mempertimbangkan bagaimana audiens bisa menafsirkannya, dan kalau perlu menyediakan konteks atau penjelasan tambahan. Kasus “toxic text” seperti ini menjadi pengingat bahwa komunikasi verbal yang efektif bukan hanya soal apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana pesan itu dipahami dan ditafsirkan oleh penerima.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































