Vihara Avalokitesvara: Pilar Harmoni Lintas Iman di Tanah Jawara
Vihara Avalokitesvara, yang berdiri tegak di kawasan bersejarah Banten Lama, kembali menegaskan posisinya yang fundamental, melampaui fungsinya sebagai pusat peribadatan tertua di Provinsi Banten. Kompleks ini merupakan simbol konkret dari kerukunan, persaudaraan lintas etnis, dan dialog antar-agama yang telah lama mengakar kuat. Diduga didirikan sejak abad ke-16, Vihara ini diakui sebagai cagar budaya yang secara eloquen merekam sejarah panjang toleransi yang telah mendarah daging di ‘Tanah Jawara’.
Tiga Iman dalam Satu Kompleks Sejarah
Terletak di Kampung Pamarican, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Serang, Vihara Avalokitesvara menyimpan keunikan yang signifikan. Kompleks ini bukan hanya memfasilitasi ritual keagamaan bagi umat Buddha, namun juga secara inklusif melayani penganut kepercayaan Kong Hu Cu dan Taoisme. Keberadaan vihara ini yang bersanding harmonis dengan situs-situs Kesultanan Banten, seperti Masjid Agung Banten dan Benteng Speelwijk, menjadi penekanan historis mengenai bagaimana masyarakat Nusantara telah memelihara keharmonisan komunal sejak masa lampau.
Warisan Arsitektur dan Narasi Toleransi
Pendirian Vihara ini konon terkait erat dengan figur-figur penting seperti Sunan Gunung Jati dan Putri Ong Tien Nio pada era kejayaan Kesultanan Banten. Secara arsitektural, bangunan ini memadukan dominasi warna merah dan ukiran rumit khas Tiongkok kuno dengan sentuhan budaya lokal yang terintegrasi secara elegan. Lebih jauh, dimensi historis dan spiritualnya diperkaya oleh narasi heroik pada tahun 1883, di mana bangunan ini dilaporkan menjadi tempat perlindungan bagi warga lokal dari dampak dahsyat tsunami akibat letusan Gunung Krakatau.
Menurut Rahmat Kusuma, Kepala Sekretariat Yayasan Vihara Avalokitesvara Banten, vihara ini merupakan warisan kolektif yang harus dilestarikan bersama.
“Vihara ini adalah milik bersama seluruh masyarakat Banten dan Indonesia, bukan hanya umat Buddha. Setiap elemen, dari tiang hingga ukiran, adalah saksi bisu atas warisan toleransi yang diamanatkan oleh para leluhur. Kami senantiasa membuka pintu bagi setiap pengunjung, tanpa memandang latar belakang atau afiliasi agama, untuk mempelajari sejarah atau merasakan kedamaian. Di sini, kita meresapi bahwa perbedaan merupakan kekayaan, bukan faktor perpecahan,” tegas Rahmat Kusuma.
Komitmen Menjaga Harmoni
Saat ini, Vihara Avalokitesvara secara konsisten melaksanakan kegiatan spiritual dan kebudayaan yang bersifat terbuka untuk publik, menarik minat wisatawan spiritual dan edukasi. Komitmen teguh untuk mempertahankan keaslian arsitektur dan semangat keharmonisan tersebut menjadikan Vihara Avalokitesvara sebagai destinasi esensial yang secara paripurna merefleksikan wajah Indonesia yang majemuk dan damai.
Vihara ini dengan tulus mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengunjungi dan mengapresiasi situs-situs bersejarah di Banten Lama, menjadikan pengalaman tersebut sebagai inspirasi praktis dalam merawat semangat persatuan di tengah keberagaman bangsa.
Tentang Vihara Avalokitesvara Banten
Vihara Avalokitesvara Banten adalah salah satu vihara tertua di Indonesia, diperkirakan berdiri pada abad ke-16 Masehi. Berlokasi di kawasan Cagar Budaya Banten Lama, vihara ini berfungsi sebagai pusat peribadatan bagi umat Buddha, Kong Hu Cu, dan Taoisme. Vihara ini berdiri sebagai monumen hidup yang melambangkan toleransi beragama dan interaksi budaya Tiongkok-Nusantara yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































