Kita hidup di zaman dengan kemajuan yang luar biasa, terutama dari segi teknologi yang berkembang pesat. Informasi melimpah, namun kebenaran justru semakin sulit dicari. Setiap hari kita diserbu berita palsu, kelompok yang bekerja sama menciptakan adu domba, dan opini yang dibungkus data. Dalam situasi ini, kita tidak hanya butuh menyaring dan membatasi informasi dari teknologi, tetapi juga menyaring cara berpikir kita terhadap suatu hal, yaitu filsafat.
Salah satu cabang filsafat paling dasar adalah Ontologi, yaitu ilmu yang bertanya: “Apa hakikat dari sesuatu?”
Dalam konteks digital, ontologi membantu kita untuk tidak hanya berhenti pada apa yang terlihat dari luarnya saja, tetapi juga berusaha untuk mencari kebenaran dan kenyataan di baliknya.
Misalnya, Ketika membaca sebuah kabar viral, ontologi mengajak kita bertanya: “Apakah berita ini menggambarkan fakta, atau sekadar pandangan seseorang yang dikemas rapi?”
Saat melihat iklan produk, kita bisa bertanya: “Apakah informasi yang diberikan sesuai dengan kenyataan, atau sekadar permainan untuk popularitas produk?
Filsuf Muslim klasik Al-Farabi pernah menulis bahwa manusia berakal tidak boleh berhenti pada imajinasi inderawi, melainkan harus menembus hakikat intelektual (al-Farabi, al-Madina al-Fadila). Artinya, realitas sejati tidak selalu tampak pada permukaan.
Begitu pula Mulla Sadra, dalam karyanya Asfar Arba‘a, menegaskan bahwa “wujud lebih nyata daripada segala bentuk penampakan.” menurut pandangan beliau alangkah baiknya jangan sampai kita tertipu dari gambaran luarnya saja, karna kebenarannya masih perlu di cari ataupun masih tersembunyi di baliknya. Sehingga jadilah kita ahli antologi amatir yang berani melihat dan mencari kebenaran di balik layar, bukan anti pada teknologi, tetapi anti kepalsuan.
Kemudian Epistemologi, membongkar Cara Kerja Tipuan Digital. Setelah memahami apa yang benar, langkah selanjutnya adalah memeriksa bagaimana kita tahu bahwa itu benar. Dalam Ilmu Epistemologi kita tahu bahwa itu benar, yaitu cara manusia memperoleh pengetahuan yang sah. Tipuan digital sering memanfaatkan kelemahan berpikir kita. Dua jebakan yang paling umum adalah kesimpulan yang berlebihan dan pikiran yang menyesatkan.
Menyimpulan yang terburu-buru (Induksi Cacat): Banyak hoaks berangkat dari satu contoh ekstrem. Misalnya, satu kasus MBG beracun, lalu disimpulkan bahwa semua MBG berbahaya karna kemungkinan besar beracun.
Jadi, Epistemologi melatih kita untuk berpikir ilmiah: menuntut bukti cukup, metode sahih, dan sumber tepercaya.
Sebagaimana dikatakan Al-Ghazali dalam Al-Munqidh min ad-Dalal (Penyelamat dari Kesesatan): “Keraguan adalah langkah pertama menuju keyakinan.” Artinya, kita perlu mempertanyakan setiap klaim, bukan langsung mempercayainya.
Dalam kerangka modern, Karl Popper (1959) menyatakan bahwa ilmu yang baik tidak hanya membuktikan, tetapi juga menguji diri melalui falsifikasi, yaitu prinsip ilmiah yang menegaskan bahwa sebuah teori dianggap ilmiah hanya jika dapat diuji dan berpotensi disalahkan oleh bukti berdasarkan fakta. Dengan falsifikasi, ilmu pengetahuan tidak mencari kebenaran mutlak, melainkan mendekati kebenaran melalui pengujian dan koreksi terus-menerus. Kebenaran sejati tahan diuji, sama seperti informasi yang valid tetap berdiri setelah disaring.
Tiga tolok ukur kebenaran menurut epistemologi juga sejalan dengan pandangan Islam klasik:
1. Koherensi (Konsistensi): Seperti logika Aristoteles yang dikembangkan oleh Ibnu Sina, kebenaran harus bebas dari pertentangan.
2. Korespondensi (Kesesuaian): Sejalan dengan prinsip Qur’ani “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya pengetahuan tentangnya” (QS Al-Isra: 36).
3. Pragmatisme (Manfaat): Pengetahuan sejati memberi maslahat, bukan mudarat, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Al-Ghazali, “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”
Dengan menerapkan prinsip ini, setiap informasi yang kita terima otomatis disaring secara kritis. Kita bukan hanya tahu apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana dan mengapa kita mengetahuinya.
Selanjutnya Aksiologi yaitu Tanggung Jawab Moral dalam Menyebarkan Informasi. Berfilsafat tidak berhenti pada mencari kebenaran, tetapi juga pada bagaimana kita menggunakan kebenaran itu.
Inilah peran Aksiologi, cabang filsafat yang membahas nilai moral dan manfaat pengetahuan. Setiap kali kita menekan tombol “bagikan”, kita sedang mengambil keputusan moral.
Bahkan jika informasi itu benar, kita tetap harus bertanya:Apakah informasi ini membawa manfaat, atau justru memicu kepanikan?Apakah penyebarannya memberi nilai, atau hanya memperbanyak kebisingan?
Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata:
“Nilai seseorang diukur dari apa yang ia sebarkan. ” Kata-kata ini menggambarkan hakikat aksiologis di era media sosial: penyebaran informasi adalah cermin akhlak digital.
Filsuf kontemporer Luciano Floridi dalam The Ethics of Information(2013) menegaskan hal serupa: setiap tindakan digital klik, kirim, atau bagikan adalah tindakan etis yang berdampak sosial.
Sementara Byung-Chul Han dalam In the Swarm (2017) memperingatkan bahwa masyarakat digital cenderung kehilangan refleksi moral karena dibanjiri tindakan tanpa pertimbangan dan notifikasi tanpa henti.
Dengan kesadaran aksiologis, kita memahami bahwa kebenaran tanpa etika bisa menjadi senjata sosial. Maka, orang yang berfilsafat sejati bukan hanya berpikir kritis, tetapi juga berbuat dengan tanggung jawab. Maka sebaiknya jadikanlah diri Menjadi Subjek, Bukan Objek.
Kita wajib berfilsafat bukan untuk terlihat pintar, tapi agar bisa bertahan secara sadar di tengah banjir informasi.
Filsafat Ilmu membekali kita dengan tiga perisai utama: (1) Ontologi melindungi dari ilusi yaitu membedakan fakta dari tampilan. (2) Epistemologi melindungi dari penipuan yaitu memastikan kebenaran diperoleh dengan cara yang sah. (3) Aksiologi melindungi dari kesalahan moral yaitu memastikan kebenaran digunakan untuk kebaikan.
Seperti pesan Al-Ghazali, “Akal adalah cahaya yang menerangi jalan kebenaran; siapa yang tidak menggunakannya, berjalan dalam kegelapan.”
Dengan menghidupkan ketiga cabang filsafat ini dalam keseharian, kita tidak lagi menjadi objek yang dikendalikan oleh algoritma, melainkan subjek memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri, kritis, dan bertanggung jawab. Itulah pertahanan sejati kita melawan tipuan digital.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































