Di era digital, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui Instagram, TikTok, dan berbagai platform lainnya, seseorang dapat membagikan aktivitas, pencapaian, penampilan, hingga kehidupan pribadinya kepada banyak orang. Tanpa disadari, ruang digital tidak hanya menjadi tempat untuk berkomunikasi, tetapi juga menjadi ruang tempat seseorang membentuk dan menunjukkan identitas dirinya.
Dalam psikologi, cara seseorang memahami, menilai, dan memandang dirinya sendiri dikenal sebagai self-concept atau konsep diri. Konsep diri terbentuk melalui pengalaman, lingkungan, hubungan dengan orang lain, serta bagaimana seseorang menerima dirinya. Bagi saya, konsep diri merupakan bagian penting dalam kehidupan karena cara seseorang melihat dirinya akan memengaruhi cara ia bertindak dan mengambil keputusan.
Namun, membangun konsep diri di tengah perkembangan media sosial bukanlah hal yang sederhana. Setiap hari kita dapat melihat orang lain menunjukkan pencapaian, penampilan menarik, perjalanan, hubungan, hingga gaya hidup yang terlihat sempurna. Tanpa disadari, hal tersebut dapat membuat seseorang membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain yang muncul di layar.
Kebiasaan membandingkan diri kemudian dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri. Ketika melihat orang lain lebih sukses, lebih menarik, atau memiliki kehidupan yang dianggap lebih baik, seseorang dapat merasa dirinya tertinggal. Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang dan belum tentu menggambarkan keadaan yang sebenarnya.
Menurut saya, salah satu persoalan terbesar dalam membangun self-concept di era digital adalah munculnya kebutuhan terhadap validasi dari orang lain. Jumlah likes, komentar, jumlah pengikut, bahkan respons terhadap sebuah unggahan terkadang dijadikan ukuran untuk menentukan apakah seseorang dianggap menarik, berhasil, atau berharga.
Keadaan tersebut dapat membuat seseorang perlahan membentuk dirinya berdasarkan apa yang disukai orang lain. Ia mungkin memilih pakaian tertentu karena sedang tren, mengikuti gaya hidup tertentu agar terlihat menarik, atau membagikan sesuatu hanya untuk mendapatkan respons positif. Pada titik tertentu, seseorang dapat menjadi lebih sibuk membangun citra dirinya di hadapan orang lain daripada memahami siapa dirinya sebenarnya.
Padahal, manusia tidak seharusnya hanya dinilai berdasarkan apa yang terlihat di layar. Setiap orang memiliki kelebihan, kekurangan, pengalaman, dan perjalanan hidup yang berbeda. Membandingkan kehidupan nyata dengan gambaran terbaik dari kehidupan orang lain di media sosial hanya akan membuat seseorang sulit menghargai dirinya sendiri.
Dalam perspektif humanisme, manusia memiliki nilai yang tidak semestinya ditentukan oleh penilaian eksternal. Seseorang tetap memiliki harga diri meskipun tidak mendapatkan banyak likes, tidak memiliki pencapaian seperti orang lain, atau tidak memenuhi standar tertentu yang sedang populer di masyarakat. Menurut saya, menerima diri sendiri merupakan bagian penting dalam membangun konsep diri yang sehat.
Bukan berarti media sosial harus dijauhi sepenuhnya. Media sosial juga dapat menjadi ruang untuk belajar, berkarya, membangun relasi, dan mengekspresikan diri. Persoalannya terletak pada bagaimana seseorang menempatkan media sosial dalam kehidupannya. Ketika media sosial digunakan sebagai sarana berekspresi, seseorang tetap memiliki kendali terhadap dirinya. Namun, ketika seluruh penilaian terhadap diri bergantung pada respons orang lain, media sosial justru dapat mengambil kendali tersebut.
Membangun self-concept yang sehat membutuhkan kemampuan untuk mengenali diri sendiri. Seseorang perlu memahami apa yang menjadi nilai, kelebihan, kekurangan, tujuan, dan batasan dirinya. Dengan mengenal diri, seseorang tidak mudah terbawa oleh standar yang terus berubah di lingkungan digital.
Menurut saya, menjadi diri sendiri di tengah dunia yang penuh dengan tuntutan untuk terlihat sempurna merupakan sebuah bentuk keberanian. Tidak semua hal harus dibagikan, tidak semua pencapaian harus dibandingkan, dan tidak semua pendapat orang lain harus dijadikan ukuran terhadap diri sendiri. Manusia memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana ia ingin menjalani kehidupannya.
Pada akhirnya, perkembangan teknologi seharusnya membantu manusia mengenal dunia lebih luas tanpa membuat manusia kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri. Media sosial dapat menunjukkan banyak hal tentang kehidupan orang lain, tetapi tidak seharusnya menentukan bagaimana kita memandang kehidupan dan diri kita sendiri.
Self-concept bukan tentang menjadi seseorang yang sempurna di mata orang lain, melainkan tentang mampu memahami dan menerima diri dengan segala kelebihan serta kekurangannya. Di tengah dunia digital yang terus memberikan berbagai standar baru, manusia tetap perlu memiliki ruang untuk berhenti membandingkan diri, mengenali dirinya sendiri, dan menyadari bahwa nilai dirinya tidak pernah sepenuhnya ditentukan oleh apa yang terlihat di layar.
Penulis: Ni Luh Puri Astiti – Universitas Siber Asia
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































