Garut, 09 Desember 2025 – Dalam momentum peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia yang jatuh pada tanggal 9 Desember, MIS Ar-Raudhotun Nur kembali menunjukkan komitmennya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga karakter dan moral peserta didik. Salah satu bentuk nyata dari komitmen tersebut hadir melalui kegiatan edukasi antikorupsi yang dipandu oleh Bapak Insan Faisal Ibrahim, S.Pd, guru wali kelas 3 sekaligus Fasilitator Daerah Kabupaten Garut yang selama ini dikenal aktif menyampaikan edukasi pada berbagai hari besar nasional maupun keagamaan.
Kegiatan berlangsung pada pagi hari di ruang kelas 3 yang tampak dihias sederhana dengan poster-poster nilai kejujuran dan disiplin. Suasana kelas menjadi hangat dan penuh antusiasme ketika Pak Insan membuka pembelajaran dengan pertanyaan pemantik mengenai pemahaman siswa tentang korupsi. Dengan penuh semangat, beberapa siswa langsung mengangkat tangan dan menyampaikan pendapat mereka. Menariknya, sebagian besar jawaban berfokus pada anggapan bahwa korupsi identik dengan tindakan yang dilakukan oleh pejabat pemerintah atau orang-orang berkedudukan tinggi.
Melihat pola pemahaman tersebut, Pak Insan kemudian mengajak siswa lebih mendalam menelaah apa sebenarnya makna korupsi. Dengan gaya penjelasan yang runtut dan bahasa yang mudah dipahami anak-anak, beliau menegaskan bahwa korupsi memiliki cakupan yang luas dan tidak terbatas pada tindakan yang dilakukan oleh para pemimpin atau penguasa. “Korupsi tidak selalu berbicara tentang uang negara atau jabatan. Ketika seseorang mengambil sesuatu yang bukan haknya, berbohong untuk menutupi kesalahan, atau merugikan orang lain demi kepentingan pribadi, itu juga termasuk korupsi,” ucap Pak Insan di hadapan seluruh siswa.

Penjelasan tersebut membuat suasana kelas sejenak hening, menunjukkan bahwa para siswa benar-benar memperhatikan. Beberapa siswa mulai mengangguk pelan ketika Pak Insan memberikan contoh yang lebih dekat dengan kehidupan mereka, seperti mengambil alat tulis temannya tanpa izin, mencontek saat ulangan, tidak mengembalikan barang pinjaman, atau berbohong kepada guru. Contoh-contoh sederhana itu membuka cakrawala berpikir siswa bahwa tindakan tidak jujur dalam skala kecil sekalipun merupakan bibit perilaku korupsi yang harus dicegah sejak dini.
Dalam sesi berikutnya, Pak Insan mengajak siswa melakukan diskusi kelompok kecil. Setiap kelompok diberi potongan cerita tentang suatu kejadian yang mengandung unsur ketidakjujuran. Para siswa diminta mengidentifikasi letak tindakan korupsi dalam cerita tersebut, lalu mempresentasikannya. Aktivitas ini bukan hanya melatih kemampuan berpikir kritis, tetapi juga mengajarkan siswa untuk melihat persoalan moral dengan lebih teliti. Suasana kelas menjadi lebih hidup; beberapa siswa tampak berebut ingin menyampaikan hasil diskusinya, sementara yang lain menanggapi dengan pendapatnya sendiri.

Dalam salah satu kesempatan, Pak Insan menyampaikan pesan moral yang cukup mendalam. “Anak-anak, bapak ingin kalian tumbuh menjadi orang-orang yang berintegritas. Integritas itu artinya kalian sama baiknya ketika dilihat maupun ketika tidak dilihat. Jika dari kecil kalian sudah terbiasa jujur, maka nanti ketika dewasa, kalian akan menjadi orang yang dipercaya dan dihormati. Bangsa ini butuh orang-orang seperti kalian,” tuturnya dengan nada lembut namun penuh penekanan.
Edukasi yang diberikan tidak hanya berhenti pada penjelasan dan diskusi. Sebagai penutup kegiatan, Pak Insan membimbing murid-murid membuat komitmen antikorupsi sederhana yang ditulis pada kertas warna-warni. Setiap siswa menuliskan satu perilaku jujur yang akan mereka biasakan mulai hari itu. Ada yang menulis “tidak mencontek”, “mengembalikan barang teman”, “jujur kepada orang tua”, hingga “tidak mengambil barang tanpa izin”. Kertas-kertas tersebut kemudian ditempel di papan kelas sebagai pengingat bersama bahwa setiap anak memiliki tanggung jawab moral yang harus dijaga.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya MIS Ar-Raudhotun Nur dalam menanamkan nilai antikorupsi secara berkelanjutan. Pihak madrasah percaya bahwa kesadaran tentang pentingnya integritas harus dibentuk sejak dini agar kelak siswa tumbuh menjadi generasi yang tidak mudah tergoda untuk melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Sejalan dengan visi madrasah untuk membentuk insan berakhlak mulia, kegiatan semacam ini menjadi bagian penting yang terus diperkuat setiap tahun.
Para guru lain yang mengetahui kegiatan tersebut turut mengapresiasi langkah Pak Insan yang selalu konsisten memberikan edukasi setiap ada momentum hari besar nasional maupun hari besar keagamaan. Mereka menilai bahwa pembelajaran seperti ini dapat menjadi bekal penting bagi siswa untuk mengenal kehidupan sosial yang lebih luas dengan pemahaman moral yang kuat. Dengan terselenggaranya kegiatan peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia ini, MIS Ar-Raudhotun Nur berharap dapat membangun iklim pendidikan yang sehat, bersih, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Madrasah ingin menjadi lingkungan yang tidak hanya mendidik dari sisi pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter peserta didik menjadi pribadi yang bertanggung jawab, amanah, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































