Saat ini, food waste masih menjadi masalah besar di banyak negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan United Nations Environment Programme (UNEP) dalam laporan Food Waste Index Report 2024, Indonesia menghasilkan sampah makanan (food waste) sebanyak 14,73 juta ton per tahun. Menurut data dari Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) dari total 38,17 juta ton timbulan sampah yang dihasilkan pada tahun 2024, sebanyak 38,29% merupakan sampah sisa makanan. Food waste dapat muncul baik pada tingkat distribusi maupun konsumsi. Timbulan food waste pada tingkat distribusi dapat terjadi di pasar dan supermarket karena pasokan yang berlebih dan kualitas yang rendah seperti bentuk yang kurang menarik tidak sesuai standar penjualan. Timbulan food waste di tingkat konsumsi dapat terjadi karena perencanaan yang kurang tepat sehingga terjadi overbuying atau over preparing, penyimpanan yang kurang memadai, dan pengambilan makanan dalam porsi besar sehingga menyisakan makanan di piring makan. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh perilaku konsumen. Penyebab lain yang sering terjadi dan jarang disadari adalah kesalahpahaman masyarakat dalam membaca dan menafsirkan tanggal kedaluwarsa pada kemasan makanan. Padahal, pemahaman yang lebih tepat mengenai label tanggal dapat membantu mengurangi jumlah makanan layak konsumsi yang terbuang sia-sia.
Tidak semua tanggal pada kemasan mempunyai arti yang sama. Terdapat tiga jenis utama tanggal pada kemasan:
1. Expired date (EXP) merujuk pada batas waktu untuk pangan masih dikatakan aman dan masih bisa dikonsumsi.
2. Best before merujuk pada penurunan kualitas produk pangan ketika sudah melewati tanggal yang tercantum.
3. Use by dipahami sebagai batas pangan aman untuk dikonsumsi dan jika sudah melewati ini, pangan dinilai tidak baik untuk dikonsumsi karena berisiko terkontaminasi bakteri.
Memahami perbedaan dasar ini sangat krusial bagi konsumen, sebab jenis-jenis label tersebut spesifik untuk produk yang berbeda-beda.
Mengapa Banyak Orang yang Salah Persepsi?
Kesalahpahaman mengenai tanggal kedaluwarsa biasanya muncul akibat kurangnya edukasi tentang label pada produk pangan. Banyaknya konsumen yang menganggap semua tanggal produk tidak aman dikonsumsi setelah lewat hari tersebut, hal ini mengakibatkan makanan yang sebenarnya masih layak sering dibuang lebih cepat. Selain itu, kebiasaan belanja berlebih (overbuying) dan rasa khawatir berlebihan turut memperburuk masalah.
Dampak dari Kesalahpahaman terhadap Food Waste
Makanan yang dibuang sebelum waktunya memiliki dampak yang tidak hanya pada kerugian finansial, tetapi juga pada lingkungan dan sosial. Pemborosan pangan juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan, mengingat biaya produksi dan transportasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan makanan. Kemudian, pemborosan pangan dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi petani, produsen, distributor, dan pengecer. Selain itu juga, emisi efek gas rumah kaca dari limbah makanan menyumbang 8% dari emisi global, sebagian besar emisi gas yang dihasilkan berupa gas metana, yang berpotensi 25 kali lebih tinggi dibandingkan dengan karbon dioksida dalam meningkatkan pemanasan global. Di sisi lain, masih banyak masyarakat Indonesia yang mengalami kesulitan mendapatkan makanan yang cukup dan bergizi. Pemborosan pangan yang tidak dimanfaatkan dengan baik tetapi masih layak nutrisi dan dikonsumsi, dapat disalurkan ke masyarakat yang membutuhkan.
Cara Memastikan Makanan yang Masih Layak Konsumsi
Selain melihat label tanggal pada kemasan, konsumen dapat melakukan pengecekan sederhana seperti:
1. Memeriksa aroma, warna, dan tekstur produk.
2. Membedakan produk yang cenderung aman setelah tanggal best before, seperti makanan kering atau kaleng.
3. Menyimpan makanan dengan cara yang benar agar umur simpannya lebih panjang.
Langkah-langkah kecil ini dapat membantu mengurangi pemborosan yang tidak perlu.
Dalam hal ini, produsen memiliki peran penting dalam memberikan informasi yang jelas dan edukatif melalui label maupun kampanye pengurangan food waste. Sementara itu, konsumen harus memiliki kesadaran diri yang dapat mendukung upaya ini dengan membeli sesuai kebutuhan, memahami label tanggal, serta menyimpan makanan dengan lebih bijak. Memahami perbedaan antara expired date, best before, dan use by adalah langkah sederhana yang berdampak besar dalam mengurangi food waste. Dengan kebiasaan yang lebih bijak, setiap orang dapat berkontribusi dalam menekan jumlah makanan terbuang dan menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan.
Referensi
Diana, R., Martianto, D., Baliwati, Y. F., Sukandar, D., & Hendriadi, A. (2024). Strategi Pengurangan Food Waste Rumah Tangga. Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika, 6(1), 801-806.
Suryana, E. A., Effendi, M. W., & Luna, P. (2023). Tantangan Dan Strategi Kebijakan Pengurangan Limbah Pangan Di Indonesia. In Forum Penelitian Agro Ekonomi, 41(1), 1-14.
United Nations Environment Programme (UNEP). (2024). Food Waste Index Report 2024. Think Eat Save: Tracking Progress to Halve Global Food Waste. Nairobi. https://www.unep.org/resources/publication/food-waste-index-report-2024.
KLHK. (2024). Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN). https://sipsn.kemenlh.go.id/sipsn/public/data/komposisi.
Juliani, K. D., & Swamilaksita, P. D. (2024). Edukasi Zero Waste pada Ibu Rumah Tangga di Kelurahan Kedung Badak, Kabupaten Bogor. Society: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(6), 390-394.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































![Blok M Jadi Surga Nongkrong Gen Z di Jakarta Selatan 34 Kepadatan pengunjung kawasan Blok M
[Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi]](https://siaran-berita.com/wp-content/uploads/2026/06/1000862511-360x180.jpg)







































