JAKARTA – Geliat “war tiket” untuk konser K-pop kembali bergolak akibat antusiasme luar biasa dari para penggemar EXO. Acara ini diselenggarakan oleh Dyandra Global Edutainment dengan nama EXO PLANET #6 – EXhOrizon in Jakarta. Penjualan tiket melalui Loket.com berlangsung selama tiga hari dan diperpanjang satu hari tambahan karena permintaan yang melimpah. Ribuan penggemar rela mengantre di situs penjualan hingga 30 menit sebelum pembukaan, dengan daftar tunggu yang nyaris mencapai 100 ribu orang. Kondisi ini menggambarkan kekuatan besar fanbase dalam memicu permintaan, sekaligus membuka peluang bagi oknum tak bertanggung jawab untuk beraksi.
Di tengah euforia tersebut, muncul masalah krusial berupa peningkatan kasus penipuan tiket. Sejumlah pihak mulai menjajakan tiket dengan harga hingga dua kali lipat dari harga resmi, termasuk tawaran tiket palsu. Situasi semakin rumit karena banyak penggemar yang gagal mendapatkan tiket resmi pun beralih ke saluran tidak resmi. Pada titik itulah penipuan semakin merebak. Bahkan, telah tercatat lebih dari 300 akun yang dicurigai melakukan penipuan dalam penjualan tiket EXO, dengan potensi angka yang terus melonjak.
Dari sudut pandang etika komunikasi publik, fenomena ini menandakan kegagalan mendasar dalam komunikasi di ranah digital. Prinsip kejujuran terganggu oleh penyebaran informasi salah tentang kepemilikan tiket. Transparansi pun terabaikan, sebab penjual jarang menyertakan bukti yang sah dan dapat diverifikasi. Selain itu, rasa tanggung jawab nyaris hilang, karena pelaku sering kali lenyap usai transaksi. Masalah ini semakin parah akibat rendahnya literasi digital di kalangan masyarakat, di mana verifikasi sebelum bertransaksi masih kurang menjadi kebiasaan.

Meski demikian, isu ini tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada pelaku individu. Platform digital sebagai sarana transaksi masih lemah dalam pengawasannya terhadap praktik curang. Sistem distribusi tiket dari penyelenggara pun patut dievaluasi, khususnya terkait transparansi dan keamanan. Sementara itu, para penggemar sebagai bagian masyarakat perlu meninggkatkan kewaspadaan dan menghindari godaan penawaran cepat untung.
Dampak fenomena ini melampaui kerugian ekonomi semata, juga menjangkau ranah sosial. Banyak penggemar menanggung kerugian finansial sekaligus hilangnya kepercayaan terhadap transaksi daring. Jika dibiarkan berlarut, penipuan semacam ini berisiko dinormalisasi dalam kondisi serupa. Padahal, ruang digital seharusnya menjadi wadah aman untuk interaksi dan perdagangan.

Karenanya, diperlukan tindakan nyata dari berbagai pemangku kepentingan. Penguatan edukasi literasi digital essensial agar masyarakat lebih kritis menyaring informasi. Penyelenggara konser wajib menyediakan mekanisme penjualan tiket yang lebih aman dan terbuka. Platform digital harus memperketat pengawasan terhadap aktivitas mencurigakan. Di sisi lain, penegakan hukum terhadap pelaku penipuan perlu ditegakkan secara tegas guna menciptakan efek pencegah.
Pada intinya, demam perebutan tiket EXO ini bukan hanya soal antusiasme penggemar yang tinggi, melainkan gambaran ketidakmampuan etika komunikasi di ruang publik digital. Tanpa perbaikan segera, euforia yang seharusnya menyenangkan justru akan terus dieksploitasi sebagai celah merugikan masyarakat luas.
Oleh: Zahra Mahdalena
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer
































































