Mengapa anak-anak sekarang lebih cepat hafal lagu dan tren TikTok daripada nilai-nilai Pancasila? Apakah ini sepenuhnya salah media sosial atau justru pada Pendidikan karakter yang belum mampu dalam mengikuti perkembangan zaman?
Fenomena ini bukan sekadar asumsi semata, berdasarkan laporan Digital 2025 Indonesia dari DataReportal, jumlah pengguna media sosial di Indonesia mencapai 143 juta pada awal tahun 2025. TikTok bahkan menjadi salah satu platform yang paling banyak digunakan Masyarakat Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa media sosial kini memiliki pengaruh besar serta sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk pada anak-anak usia sekolah dasar.
Pemandangan anak-anak sekolah dasar yang sebagian besar lebih suka bermain handphone sekarang sudah menjadi hal yang biasa. Baik itu di lingkungan rumah, lingkungan bermain, tempat umum, dan lingkungan sekitar lainnya banyak anak yang sibuk membuka TikTok daripada berinteraksi dengan sekitarnya. Mereka sangat cepat dalam menghafal lagu-lagu viral, tarian tren, sampai berbagai istilah populer di media sosial. Namun, di balik semua itu, ternyata masih banyak anak yang belum memahami nilai-nilai luhur Pancasila, seperti gotong-royong, sopan santun, musyawarah dan lain sebagainya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah utamanya bukan pada Tiktok atau media sosial itu sendiri, melainkan pada Pendidikan karakter yang belum mampu mengimbangi perkembangan zaman modern. Teknologi berkembang dengan sangat cepat dan sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak di masa sekarang, sayangnya penerapan nilai-nilai Pancasila dalah keseharian anak-anak sekarang belum diterapkan secara maksimal. Akibatnya anak-anak lebih muda untuk terpengaruh pada budaya luar dibandingkan dengan mengimplementasikan nilai-nilai luhur bangsa.
Dalam kehidupan sehari-hari mulai banyak terlihat anak kurang peduli terhadap lingkungan sekitarnya, sulit focus saat belajar, hingga lebih sering bermain gadget Ketika sedang kumpul keluarga. Banyak anak sekarang sudah bisa meniru ucapan kasar, candaan yang merendahkan teman yang tidak disadarinya bahwa itu perbuatan yang salah. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial sangat berpengaruh pada prilaku anak apabila hal tersebut tidak didampingi dengan baik. Kondisi ini menunjukkan bahwa Pendidikan karakter pada anak perlu diperhatikan dengan serius. Jika dibiarkan terus berlangsung, hal ini akan mempengaruhi kualitas karakter dari anak itu sendiri, dimana anak mungkin pintar dalam teknologi tapi kurang dalam hal karakternya.
Masalah ini sebenarnya dapat diatasi dengan penerapan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sila-sila Pancasila. Sila kedua yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan pentingnya saling menghormati, memiliki empati, dan menjaga sopan santun kepada siapapun orangnya. Nilai ini sangat cocok diterapkan di era media sosial agar anak tidak mudah terpengaruh oleh perilaku buruk yang mereka lihat di media sosial. Selain itu sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia juga relevan dengan kondisi ini. Penggunaan gadget yang berlebihan membuat Sebagian anak menjadi lebih antisosial dan kurang berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Seharusnya anak sejak kecil perlu dibiasakan untuk bekerja sama, bermain Bersama, dan peduli dengan sesama. Selanjutnya, nilai sila keempat juga perlu diperkuat, anak-anak perlu belajar untuk menghargai pendapat teman dalam berdiskusi dan menyelesaikan masalah Bersama. Namun, kebiasaan lebih suka bermain media sosial membuat anak secara tidak sadar menjadi lebih antisosial dan malas untuk berinteraksi dengan sekitarnya. Sementara itu, sila kelima yang memuat tentang Keadilan Sisial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, juga sangat relevan karena nilai sila ini mengingatkan bahwa setiap anak berhak untuk mendapatkan Pendidikan karakter yang layak, sehingga Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan akademik semata, tetapi juga harus membantu anak dalam membentuk karakter yang kuat.
Karena itu, diperlukan langkah nyata melalui kebijakan publik yang lebih relevan dengan kondisi anak saat ini.Hal ini bisa dimulai dari membiasakan peserta didik untuk menggunakan teknologi untuk hal hal yang lebih bermakna. Selama ini, pembelajaran Pancasila sering hanya berfokus pada hafalan sila dan teori di kelas. Padahal, anak-anak sekarang lebih tertarik pada pembelajaran yang visual, interaktif, dan berbasis teknologi. Karena itu, pembelajaran Pancasila bisa dikemas lewat video pendek, animasi, permainan edukatif, atau proyek kreatif berbasis digital. Guru juga dapat mengajak siswa membuat konten sederhana tentang gotong royong, toleransi, disiplin, atau sikap menghormati orang tua. Dengan cara ini, anak-anak tetap menggunakan teknologi, tetapi untuk kegiatan yang lebih positif dan mendidik.
Selain itu, pemerintah dan sekolah juga perlu memperkuat literasi digital bagi orang tua. Masih banyak orang tua yang belum memahami pentingnya pendampingan penggunaan media sosial pada anak. Akibatnya, anak sering menggunakan gadget tanpa batas waktu dan tanpa pengawasan yang cukup. Melalui program literasi digital, orang tua dapat belajar bagaimana mendampingi anak menggunakan media sosial secara sehat tanpa harus melarang penggunaan teknologi sepenuhnya. Kebijakan lain yang dapat diterapkan adalah Sekolah bisa memperbanyak kegiatan sosial seperti kerja kelompok, permainan tradisional, gotong royong, dan diskusi bersama agar anak tetap memiliki interaksi sosial yang baik.
Di sisi lain, pemerintah juga dapat bekerja sama dengan kreator konten pendidikan untuk membuat lebih banyak konten digital ramah anak yang mengandung nilai-nilai Pancasila. Selama ini, konten hiburan jauh lebih mendominasi media sosial dibandingkan konten pendidikan karakter. Padahal, jika dikemas dengan menarik, nilai-nilai Pancasila sebenarnya juga bisa disampaikan dengan cara yang disukai anak-anak. Sehingga, anak-anak tidak hanya menjadi lebih bijak menggunakan media sosial, tetapi juga mampu memahami nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Pancasila pun akan terasa lebih dekat dengan dunia anak dan tidak lagi dianggap sebagai pelajaran hafalan semata.
Pada akhirnya, TikTok dan media sosial bukanlah musuh bagi pendidikan. Yang berbahaya adalah ketika anak-anak dibiarkan tumbuh di dunia digital tanpa arahan karakter yang kuat. Jika pendidikan terus tertinggal dari perkembangan teknologi, anak-anak akan lebih mengenal tren viral dibandingkan nilai kemanusiaan, persatuan, dan kepedulian sosial. Karena itu, keluarga, sekolah, dan pemerintah perlu bekerja sama menghadirkan pendidikan karakter yang mampu mengikuti perkembangan zaman, agar generasi muda Indonesia tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga kuat dalam nilai Pancasila.
oleh: Ni Luh Sri Widari Uma Dewi, Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Ganesha
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































