JAKARTA — Paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang berlangsung dalam jangka panjang menyimpan ancaman kesehatan yang serius. Tidak hanya mengganggu sistem pernapasan, paparan partikel berbahaya tersebut juga berisiko memicu gangguan kardiovaskular hingga berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak.
Peringatan ini disampaikan oleh Epidemiolog yang juga Ketua DPP LDII, Dicky Budiman. Menurutnya, asap karhutla mengandung zat-zat berbahaya seperti partikel halus PM2,5, karbon monoksida, serta berbagai gas iritan.
“Asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, serta sejumlah gas iritan yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu peradangan,” ujar Dicky.
Dicky menjelaskan bahwa dampak kesehatan dari kabut asap bersifat bertingkat. Pada saluran pernapasan, paparan ini dapat memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut, batuk kronis, bronkitis, kekambuhan asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis, hingga penurunan fungsi paru secara drastis. Bahayanya juga menjangkau sistem kardiovaskular karena partikel halus yang lolos ke dalam aliran darah dapat memicu peradangan sistemik, sehingga meningkatkan potensi serangan jantung, stroke, serta gangguan irama jantung. Selain itu, warga juga kerap mengeluhkan iritasi pada mata, tenggorokan, dan kulit.
Ancaman terbesar mengintai kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, serta penderita penyakit kronis. Pada ibu hamil, paparan asap jangka panjang berkaitan erat dengan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah hingga kelahiran prematur. Sementara itu, anak-anak berada pada posisi yang jauh lebih rentan.
“Anak jauh lebih rentan karena frekuensi napasnya lebih cepat sehingga menghirup lebih banyak udara per kilogram berat badannya. Saluran napasnya juga lebih sempit dan parunya masih berkembang,” terangnya.
Paparan berulang pada anak dapat memicu infeksi telinga, sesak napas, kekurangan oksigen, hingga mengganggu perkembangan fungsi paru yang berujung pada peningkatan risiko asma di masa depan.
Masyarakat diimbau untuk waspada dan segera mencari pertolongan medis apabila mendapati gejala darurat, seperti sesak napas berat, nyeri dada, jantung berdebar, pusing hebat, hingga pingsan, serta batuk yang tak kunjung reda, batuk darah, demam tinggi, dan bibir atau ujung jari kebiruan.
Sebagai langkah mitigasi, warga yang tidak dapat mengungsi disarankan untuk menekan paparan asap seminimal mungkin dengan membatasi aktivitas di luar ruangan terutama olahraga berat saat kualitas udara memburuk, menutup rapat pintu, jendela, dan celah ventilasi, serta menggunakan masker penyaring partikel halus seperti N95 jika terpaksa beraktivitas di luar. Masyarakat juga perlu menghindari pembakaran sampah, merokok, dan aktivitas memasak di dalam ruangan yang memicu asap.
“Jangan membakar sampah, jangan merokok, dan jangan memasak dengan menghasilkan asap di dalam ruangan,” tegasnya.
Selain itu, warga perlu menciptakan satu ruangan khusus di rumah seperti kamar anak yang paling minim paparan dengan memanfaatkan penjernih udara dan membersihkan permukaan rumah secara berkala menggunakan kain basah.
“Bersihkan lantai dan permukaan ruangan dengan kain basah dan jangan menyalakan sumber asap di dalam rumah. Anak-anak dan bayi sebaiknya tidak dibawa keluar ketika asap tebal,” tambahnya.
Warga juga harus menjaga asupan gizi serta kecukupan cairan termasuk pemberian ASI eksklusif bagi bayi, dan apabila kondisi di dalam rumah sudah tidak terkendali atau kesehatan anak menunjukkan penurunan drastis, keluarga disarankan untuk segera mempertimbangkan evakuasi ke posko atau lokasi dengan kualitas udara yang lebih bersih.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































